Presiden Terpilih Iran Tolak Bertemu Joe Biden

  • Whatsapp
Ebrahim Raisi/ Instagram Ebrahim_Raisii

IRAN, PALU EKSPRES- Presiden terpilih Iran, Ebrahim dalam konferensi pers pertamanya usai memenangkan pemilu, mengatakan prioritas utama selama masa pemerintahannya adalah perbaikan hubungan diplomasi dengan negara-negara Teluk.

Namun begitu, mantan hakim konservatif itu kembali memperingatkan musuh bebuyutan Arab Saudi untuk menghentikan intervensi militer di Yaman.

Bacaan Lainnya

Raisi yang berusia 60 tahun menggeser tokoh reformis, Hassan Rouhani, pada 3 Agustus mendatang. Sebagaimana pemangku jabatan saat ini, dia pun memprioritaskan pencabutan sanksi yang melumpuhkan ekonomi, terutama demi pemulihan pascapandemi

“Kami mendukung proses negosiasi yang menjamin kepentingan nasional kami. Amerika sebaiknya segera kembali ke Perjanjian Nuklir 2015 dan memenuhi komitmennya sesuai isi kesepakatan,” kata Raisi dikutip dari JPNN, Rabu, (23/6/2021).

Ketika ditanya apakah dia bersedia menemui Presiden AS Joe Biden jika semua sanksi dicabut, Raisi menjawab tegas tidak akan melakukan pertemuan itu. Sejak April silam, kedua negara secara tidak langsung menegosiasikan perjanjian nuklir di Wina, Austria, bersama dengan Uni Eropa, Rusia dan China.

Raisi mengatakan kebijakan luar negeri Iran tidak akan bergantung pada Perjanjian Nuklir 2015. Namun dia mendesak semua sanksi AS harus dicabut dan diverifikasi oleh Teheran. Dia mendukung negosiasi perjanjian nuklir, tetapi menolak bertemu Presiden AS Joe Biden, bahkan jika Washington mencabut semua jenis sanksi.

Untuk menggandakan tekanan, Iran secara perlahan melanggar batasan pemerkayaan uranium sesuai perjanjian. Pejabat Iran mengatakan kemenangan Raisi tidak akan memengaruhi posisi Iran di meja negosasi.

Sejak era Presiden Donald Trump, Washington berusaha mengamandemen isi perjanjian untuk meredam intervensi militer Iran di Timur Tengah.

Tuntutan tersebut sempat digaungkan kembali oleh Biden, menyusul lobi politik negara-negara Arab yang melihat kebijakan Iran “mendestabilkan” kawasan. Serupa Khamenei, Raisi menegaskan aktivitas regional dan program peluru kendali balistik milik Iran tidak bisa ditawar atau dinegosiasikan.

“Mereka (AS) tidak menaati perjanjian yang sudah dibuat. Bagaimana mereka mau memasuki diskusi baru?” tukas Raisi.

Saat ini Iran dikabarkan tengah berunding dengan Arab Saudi untuk meredakan ketegangan di antara kedua negara.

Menurut Raisi, dia akan menyambut normalisasi diplomasi dengan Riyadh. “Pembukaan kedutaan besar Arab Saudi di Teheran bukan masalah bagi Iran,” kata dia. (jpnn)

Pos terkait