Minggu, 5 April 2026
Opini  

Menginjak Sepatu Menteri (Rusdy Mastura, Emil Salim dan Saya)

Muhd Nur Sangadji. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur SANGADJI

SETELAH beliau dilantik jadi Gubernur Sulawesi Tengah, baru saya ingat cerita ini. Waktu itu, Kak Cudi (panggilan paling populer untuk Rusdi Mastura) menjabat wali kota Palu. Sebelumnya adalah ketua DPRD Kota Palu. Sebelumnya lagi, adalah ketua Pemuda Pancasila. Jauh kebelakang, adalah mahasiswa Universitas Indonesia. Saat itu, Bung Cudi (panggilan akrab lainnya) adalah pemain bola klub Buana Putera Galatama PSSI.

Satu waktu Profesor Emil Salim datang ke Palu untuk satu acara penting. Beliau adalah ilmuwan dan menteri berkali kali di era Soeharto. Penasehat presiden di era berikut. Dibuatlah satu acara di satu hotel mewah di Palu.


Acara yang menghadirkan Profesor Emil itu adalah gawean Pemerintah Kota Palu yang saat itu wali kotanya adalah Rusdi Mastura. Di ruang lobi, kami bertiga terlibat cerita masa silam. Saya melihat Prof Emil tekun dan sabar mendengar uraian Kak Cudi dan Saya.

Beberapa saat kemudian acara pun dimulai. Tibalah giliran Prof Email memberikan pidato ilmiahnya. Total tentang ekonomi dan lingkungan hidup. Beliau memang pakar ekonomi, sekaligus pakar lingkungan. Indonesia punya dua orang wakil untuk konferensi dunia tentang lingkungan hidup pada tahun 1972. Satunya, Profesor Otto Sumarwoto. Dan satunya lagi, Profesor Emil Salim.

Ceramah Prof Emil sangatlah memukau. Tapi, yang penting untuk tulisan ini adalah pengantar sebelum masuk ke inti pidato. Beliau bilang, sekian lama saya mencari satu mahasiswa yang tiba- tiba menghilang dari kelas. Kawan-kawannya bilang, yang bersangkutan aktif main bola. Setelah itu, kata Prof Emil, saya tidak pernah jumpa lagi dengan mahasiswa pemain bola itu. Puluhan tahun kemudian, saya datang ke Palu. Anak mahasiswa yang hilang itu, kini telah menjadi wali kota Palu. Semua hadirin memberi tepuk tangan meriah sambil menatap Kak Cudi.


Emil Salim melanjutkan pidato pengantarnya. Ada lagi satu mahasiswa asal Palu. Dia bersama temannya menginjak sepatu saya di lift kantor Kementerian Lingkungan Hidup. Anak itu sekarang telah menjadi dosen Universitas Tadulako. Dia ada di tengah- tengah kita. Semua orang lalu nenatap ke arah ku. Prof Emil lantas menunjuk sambil berkata, iyaa, itu Nur Sangadji. Saya sempat kikuk atas situasi tersebut.

Memang sewaktu bicara di lobi hotel. Saya mengisahkan kembali kejadian tersebut. Kala itu, tahun 1986. Kami rombongan mahasiswa teladan tingkat nasional mengunjungi kantornya Prof Emil. Tidak jelas ide dari siapa. Tiba- tiba, saya dan kawan asal Surabaya bernama Atrub, berniat menginjak sepatu beliau. Alasannya sangat spektakuler. Agar dalam sajarah hidup kami, pernah menginjak sepatunya menteri. Saat alasan itu dikemukakan, Prof Emil yang semula kaget, sontak tersenyum dan tertawa.

Atrub dan saya adalah peraih predikat mahasiswa teladan terkocak seluruh Indonesia. Andaikan ditekuni, mungkin saya tidak menjadi dosen saat ini. Barangkali pelawak. Entahlah.


Acara pun berakhir. Sejumlah panitia datang ke Prof Emil menginfokan agenda acara berikutnya. Tapi, Prof Emil langsung menampik. Beliau bilang, saya mau lihat dahulu pohon yang saya tanam di Kampus Universitas Tadulako. Pohon itu adalah penanda saat beliau meletakkan batu pertama pembangunan Kampus Universitas Tadulako sekira 25 tahun silam, untuk hitungan kala itu.

Sekarang, andaikata Prof Emil Salim datang lagi ke Palu. Beliau akan melihat pohon yang beliau tanam sekitar 40 an tahun lalu itu, masih tumbuh utuh. Tapi, di tempat yang telah bergeser. Beliau tentu akan bangga menyaksikan muridnya yang bernama Rusdi Mastura itu, sudah bergeser posisinya. Dari wali kota Palu, menjadi Gubernur Sulawesi Tengah.

Dan, beliau juga akan melihat saya yang pernah menginjak sepatunya di lift kantor Kementerian Lingkungan Hidup. Tidak bergeser posisinya. Tetap sebagai guru kecil di Universitas Tadulako. Semogalah di setiap posisi apa pun yang kita lakoni, semesta berseri oleh kehadiran kita. Walahua’lam bi syawab. ***