Program Pendampingan untuk Orangtua

  • Whatsapp
MHD natsir. Foto: Istimewa
adv

MHD Natsir Yunas (Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang)

BEBERAPA daerah sudah memutuskan untuk menunda pelaksanaan pembelajaran tatap muka yang rencananya akan dimulai tahun ajaran 2021 ini. Keputusan ini tentu sudah sangat tepat bagi daerah dengan zona merah, karena dikhawatirkan akan membahayakan bagi kesehatan peserta didik. Keselamatan jiwa anak jelas lebih diutamakan dari yang lainnya. Terlebih lagi melihat jumlah pasien anak-anak dan remaja yang semakin banyak beberapa hari terakhir.
Kebijakan penundaan pembelajaran tatap muka tentu saja berimbas pada keluarga. Bagaimana tidak, para orangtua yang tadinya mulai sedikit lega dan fokus dengan pekerjaannya mencari nafkah bagi keluarga, sekarang harus kembali membagi waktu untuk mendampingi anaknya dengan berbagai aktivitas belajar setiap hari. Kesibukan yang cukup melelahkan bagi orangtua di tengah perjuangan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang dirasakan semakin sulit dan tak menentu.
Bagi orangtua yang bisa berbagi waktu dan tugas dengan pasangannya, masih bisa mendampingi anaknya dalam belajar. Namun terkadang pada keluarga yang kedua orangtuanya harus bekerja mencari nafkah, akhirnya mereka berlepas diri dari kegiatan belajar anak dan hanya fokus pada urusan ekonomi keluarga. Begitu juga dengan kemampuan yang sangat variatif dan sangat terbatas dari para orangtua dalam mendampingi anaknya belajar, menjadi alasan yang harus dicarikan solusinya.
Berbagai program telah disusun oleh pemerintah agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Bahkan terakhir yang sedang digadang-gadang adalah program guru penggerak. Program yang menjadikan guru sebagai pemimpin dalam pembelajaran setelah melalui proses pendidikan selama lebih kurang sembilan bulan. Program ini tentu saja bagus, memberikan pembekalan kepada para guru untuk bisa menggerakkan potensi sumber daya yang ada di lingkungan sekolahnya dalam mencapai tujuan pendidikan. Namun sepertinya pemerintah masih fokus pada komponen pembelajaran pendidikan formal. Pandemi ini belum sepenuhnya memberikan ruang pada pendidikan informal, khususnya keluarga sebagai prioritas dalam menyelesaikan persoalan pendidikan anak.
Padahal apabila ditelisik lebih jauh, sebenarnya sejak pembelajaran daring dilaksanakan orangtua lah yang lebih sering terlibat dalam membelajarkan anaknya. Tugas orangtua tidak lagi hanya sebagai fasilitator bagi anaknya terkait pelajaran yang dipelajari secara daring. Tetapi orangtua juga harus intens dalam mengajarkan anaknya berbagai materi pelajaran. Terbatasnya waktu dan minimnya kompetensi orangtua menjadi kendala tersendiri dalam mengajarkan anaknya di rumah. Terlebih lagi ketika guru di sekolah tidak mempersiapkan materi pelajaran dengan baik. Hanya memberikan link youtube, dan buku tanpa ada penjelasan tuntas terkait materi pelajarannya. Maka bertambahlah petaka dan kesulitan yang dialami para orangtua.
Oleh sebab itu, pemerintah dan pemangku kebijakan dalam pendidikan seharusnya bisa memberikan perhatian lebih kepada para orangtua dalam membelajarkan anaknya. Orangtua selama pembelajaran daring ini tidak hanya menjalankan tugasnya yang biasa dalam rumah tangga. Tetapi sudah mengambil peran guru dengan mengajarkan pelajaran sekolah di rumahnya. Program pendampingan terhadap orangtua menjadi urgen untuk membekali orangtua dalam membelajarkan anaknya di rumah.
Program pendampingan orangtua di masa pandemi ini sepertinya lebih mendesak dibandingkan program yang lainnya. Karena yang menjadi garda terdepan dalam membelajarkan anak selama pandemi ini adalah orangtua. Orangtua sudah setiap hari dan setiap saat mendampingi anaknya belajar. Tugas mereka sudah overload, sementara kemampuan mereka semua tidak sepenuhnya bisa menyelesaikan tugas sekolah anaknya. Perhatian dari penyelenggara pendidikan terhadap peningkatan kompetensi orang tua, baik itu secara mental dan skill dalam mendampingi anaknya belajar menjadi sangat penting dan harus segera dilakukan.
Oleh sebab itu, kita semua haruslah membersamai orangtua dalam membelajarkan anak. Orangtua harus didampingi dan diberikan motivasi agar tetap sabar dan bersemangat demi masa depan anak-anak mereka yang lebih baik. Mereka sudah disibukkan dengan urusan mencari nafkah yang selama pandemi ini terasa begitu sulit. maka tugas mengajar anak di rumah jika dibiarkan dan dilimpahkan begitu saja kepada mereka tanpa ada perhatian dari semua unsur, khususnya pemerintah, maka ini akan berimbas pada hasil belajar anak yang kurang baik.
Program pendampingan terhadap orangtua saat ini penting dilakukan untuk memberikan pembekalan dalam menfasilitasi anaknya belajar. Agar tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan amanat Undang-undang dalam meningkatkan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotorik dari setiap anak.
Program pendampingan haruslah bersifat partisipatif dengan melibatkan semua orangtua yang memiliki anak usia sekolah. Semua orang tua mendapatkan kesempatan untuk belajar, sehingga memiliki kapasitas yang lebih baik lagi dalam membelajarkan anaknya selama pembelajaran daring. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam membentuk program orang tua mengajar. Pertama, program pendampingan yang dilakukan harus mencakup pemenuhan kebutuhan belajar anak, kebutuhan ekonomi dan penguatan mental dan psikologis para orangtua dalam menjalani kondisi saat ini. Pemenuhan ketiga kebutuhan ini haruslah simultan dan sinergis untuk memberikan kenyamanan bagi orangtua dalam memfasilitasi anak belajar di rumah.
Kedua, berdasarkan kebutuhan tersebut, maka program pendampingan ini haruslah melibatkan semua unsur. Bukan hanya pihak sekolah atau Dinas Pendidikan saja, tetapi juga unsur pembinaan UMKM atau usaha kreatif yang dapat memberikan solusi bagi orangtua dalam memenuhi kebutuhan keluarganya selama memfasilitasi anaknya belajar di rumah. Begitu juga dengan para psikolog yang harus dilibatkan dalam memberikan motivasi dan solusi terhadap beban psikologis yang dihadapi para orangtua.
Ketiga, penyusunan program haruslah berdasarkan skala prioritas kebutuhan keluarga. Akan ditemukan nanti beragam kebutuhan keluarga. Ada keluarga yang sudah siap secara finansial, tetapi tidak siap secara psikologis dalam mendampingi anaknya belajar. Ada juga orangtua yang sangat terbatas kebutuhan ekonominya, sehingga solusi yang dibutuhkan tidak hanya pada terpenuhinya hak belajar anak, tetapi juga memberikan solusi terhadap kebutuhan ekonomi mereka. Karena belajar daring perlu biaya tambahan yang bukan hanya sekedar untuk makan.
Keempat, perlu kesadaran bersama untuk mewujudkannya. Sehingga kesadaran tidak hanya ada pada orangtua. Tetapi juga harus ada pada pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Dalam hal ini bisa dilakukan sekolah dengan melibatkan berbagai unsur yang dapat membantu menyelesaikan kebutuhan yang ditemukan di sekolahnya masing-masing.
Program ini tentu tidak sulit kalau ada keinginan untuk mewujudkannya. Tetapi akan menjadi sulit kalau tidak mau dan tidak pernah mau tahu dengan berbagai kesulitan yang dirasakan orangtua selama pembelajaran daring ini berlangsung.
Saatnya sekarang kita saling berkolaborasi untuk mewujudkan generasi yang lebih baik di masa depan. Karena tanggung jawab masa depan generasi yang hidup saat ini tidak hanya ada pada orangtua, tetapi juga kita semua. Semoga kita diberikan kekuatan dan keikhlasan untuk mewujudkannya. Sehingga kita bisa meninggalkan generasi yang lebih baik dari generasi yang hidup hari ini. ***

Pos terkait