Masih Menetap di Huntara, Alumni Akmil 91 Beri Bansos bagi Penyintas Bencana Sulteng

  • Whatsapp

Jelang tiga tahun bencana gempabumi, tsunami dan likuifaksi Sulawesi Tengah ratusan keluarga hingga kini masih bermukim di hunian sementara. Saat ini para penyintas masih bermukim di huntara Petobo, Palu Selatan dan Kampung Lere, Palu Barat. Sudah tiga tahun ini mereka berlebaran dalam keterbatasan di hunian yang tak layak itu. Ditambah lagi dengan hantaman pandemi Covid-19.

Itulah yang membuat Bhakti Tidar 91, ikatan alumni Akademi Militer 1991 di Sulawesi Tengah prihatin. Dipimpin Komandan Korem 132 Tadulako, Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Sulteng, Brigadir Jenderal TNI Andi Candra dan Kepala Operasi BIN Daerah Sulteng, Kolonel Kavaleri Abdul Rachman, Bhadar 91 menggelar sejumlah kegiatan bakti sosial. Bakti sosial dimulai dari pembersihan Pantai Talise dari dari sampah plastik, donor darah dan pemberian bantuan sosial bagi penyintas bencana Sulteng serta anak-anak penyandang cacat. Aksi Sosial Bhadar 91 ini digelar Jumat (23/7/2021) pagi hingga petang.

“Para penyintas bencana Sulteng sampai saat ini masih berdiam di huntara, tak cuma itu mereka juga pasti terdampak oleh pandemi Covid-19. Olehnya dalam semarak 30 Tahun Bhakti Tidar 91, Reuni Akmil 91 kami menggelar bakti sosial untuk membantu meringankan beban mereka. Kami memberikan bantuan bahan-bahan pokok untuk komsumsi mereka sehari-hari. Semoga itu bermanfaat,” ujar Farid Makruf.

Di huntara Kampung Lere di Jalan Diponegoro sebanyak 120 keluarga mendapat bantuan sosial masing-masing 5 kilogram beras, gula, minyak goreng dan air mineral.

Adapun di Rumah Singgah Difabel di Jalan Tamako, Palu Barat, sebanyak 65 anak-anak dan orang dewasa penyandang cacat dan juga penyintas bencana Sulteng mendapat bantuan serupa.

“Hari ini Bhadar 91, menggenapi tiga puluh tahun atau tiga dekade pengabdiannya pada negara ini. Olehnya sebagai bentuk rasa syukur, kami memberikan bantuan kepada para penyintas bencana Sulteng di huntara Kampung Lere dan juga para penyandang cacat di Rumah Singgah Difabel. Insya Allah ini bermanfaat buat mereka,” tambah Andi Candra.

Nurhayati, penyintas bencana tsunami dari Kampung Lere, menyatakan terima kasihnya atas bantuan ini. Ia mengaku sudah tiga tahun menetap di huntara.

“Kami menyampaikan terima kasih untuk Bhadar 91 yang hari datang meringankan beban kami sehari-hari. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi kami, apalagi ada di antara kami yang kehilangan pekerjaan karena pandemi Covid-19. Terima kasih kami ucapkan. Semoga bapak-bapak tentara yang datang ini selalu diberi kesehataan dan rezeki oleh Allah SWT,” ungkap perempuan yang mengaku sudah tiga tahun menanti hunian tetap dari pemerintah pasca bencana 28 September 2018.

Sri Dewi Santiana, salah seorang penanggung jawab di Rumah Singgah Difabel di Jalan Tamako, Palu Barat juga mengatakan hal serupa.

“Insya Allah kebaikan bapak-bapak tentara ini akan dibalas kebaikan pula oleh Allah SWT,” pintanya.

Aksi sosial ini melibatkan pula Persit Kartika Chandra Kirana Korem 132 Tadulako, Resimen Mahasiswa Batalyon 251 Wiratama Universitas Tadulako dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Palu.***

Pos terkait