PALUEKSPRES, PALU – Di tengah-tengah target percepatan demi menuju herd immunity (kekebalan komunal), ada begitu banyak persoalan di balik pelaksanaan program vaksinasi di Sulawesi Tengah (Sulteng).
Bukan hanya soal teknis seperti kelancaran stok vaksin, ternyata masih cukup banyak warga yang enggan mengikuti vaksinasi. Selain itu, problem lain adalah sosialisasi.
Temuan tersebut berdasar hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah selama PPKM darurat 13–20 Juli lalu. Dalam survei tersebut, BPS melakukan korespondensi kepada 968 warga tentang alasan mengapa belum vaksinasi.
Hasilnya, 26 persen responden enggan divaksin. Ada 2 alasan utama. Yang paling banyak adalah khawatir akan efek sampingnya (22 persen responden). Alasan berikutnya tidak percaya efektivitasnya (4 persen).
Faktor sosialisasi juga menjadi salah satu penyebab banyaknya warga yang belum ikut vaksinasi. Berdasar survei itu, 22 persen responden masih mencari lokasi yang menyediakan kuota vaksinasi. Sementara itu, 22 persen responden mengaku sudah terjadwal, tapi belum waktunya divaksin.
BPS Sulteng juga mencantumkan persentase responden terpapar Covid-19. Berdasarkan hasil survey, 90 persen responden mengaku tidak pernah terpapar, sedangkan 10 persen mengaku pernah terpapar.
Adapun responden yang pernah divaksin, berdasarkan hasil survey 63 persen mengaku sudah divaksin. Sisanya, 37 persen belum pernah divaksin. (bid/palu ekspres)
Survei BPS Sulteng: 26 Persen Warga Enggan Divaksinasi Covid-19






