Wapres: Wabah Covid-19 Harus Disikapi Dengan Sabar Namun Tetap Berikhtiar

  • Whatsapp
Ketgam: Wapres KH Ma'ruf Amin saat membuka Istighosah Nasional, Minggu, 8 Agustus 2021/foto:setwapres/pe

PALU EKSPRES, JAKARTA- Wakil Presiden RI, K.H Ma’ruf Amin mengingatkan kepada seluruh muslim Indonesia bahwa wabah Covid-19 adalah bagian dari cobaan manusia. Sebab, sebagai muslim yang beriman bahwa Allah Swt sudah menyampaikan dalam Alquran bahwa manusia akan tetap mendapat cobaan.

Untuk itu kata KH Ma’ruf Amin, manusia harus menyikapi wabah ini dengan sabar dan syukur. Benar kata dia, bahwa manusia pun diminta pasrah terhadap ketetapan Allah SWT. Namun pasrah bukan berarti diam, tetapi harus berusaha.

Bacaan Lainnya

“Pasrah itu benar adalah ajaran Allah itu dari sisi Aqidah. Tetapi dari sisi Suluqi, kita harus tetap melakukan ikhtiar. Itu bagian perintah Allah SWT. Berobat bila sakit, menjaga kesehatan dari wabah itu juga merupakan kewajiban yang diperintah Allah,” ujar Wapres saat membuka acara Istighosah Nasional dan Refleksi Kemerdekaan ke-76 RI yang digelar secara virtual, Minggu, 8 Agustus 2021.

Ummat pun diminta untuk tetap berdoa memohon pertolongan kepada Allah SWT agar terbebas dari wabah. Doa adalah bagian dari ikhtiar yang diperintah Allah SWT. Maka acara Istighosah yang diselenggarakan oleh Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren) ini disambut baik oleh Wapres.

Wapres juga menyinggung tentang perintah Allah untuk mengelola bumi dan kehidupan dari semua sektor termasuk ekonomi. “Ini perintah Allah. Untuk mengembangkan ekonomi adalah masalah agama yang sesuai perintah syariah. Oleh karena itu kita mengembangkan bank syariah,”ujar Wapres. Termasuk kata dia, apa yang dilakukan oleh Herbitren adalah bagian dari upaya mengelola ekonomi yang dilakukan pesantren. Wapres menyambut baik apa yang dilakukan Hebitren.

Sebelumnya, Menteri Agama, Yaqut Cholil Qaumas dalam sambutannya mengajak Umat Islam untuk bersama-sama berjihad melawan wabah Covid-19 dengan mengimplementasikan 3 jihad.

Yang pertama, kata dia, jihad ekonomi yaitu membantu yang lemah diantara umat yang membutuhkan terutama mereka yang terdampak covid-19.

Yang kedua, kata Yaqut, adalah jihad ilmi, yaitu memberikan edukasi dan literasi kepada masyarakatt bahwa wabah ini nyata dan harus waspada. “Harus taat dengan aturan pemerintah, agar tidak mudah termakan hoaks,” tandas Yaqut.

Jihad ketiga, adalah jihad nafsi, yaitu menahan diri untuk tetap taat bekerja dari rumah. Termasuk kata dia, jihad dengan melawan nafsu negatif. “Dibutuhkan kebersamaan, empatik antar kita semua untuk menghadapi wabah ini,” ujarnya.

Yaqut menyambut baik Istighosah Nasional ini dan Refleksi Kemerdekaan ke-76 RI yang bertema ‘Munajat untuk Indonesia Sehat dan Ekonomi Bangkit’ yang diselenggarakan Hebitren ini.

Tak lupa, Menag Yaqut menyakinkan kepada peserta istigasah bahwa Covid-19 pada akhirnya akan berakhir pula.
“Segala sesuatu ada akhirnya. Yang datang akan akan pergi, yang sakit akan sembuh, yang hidup akan mati. Hanya Allah SWT yang abadi,” tandasnya. Yaqut berharap Covid-19 segera berakhir tahun ini. “Semoga istighosah jadi wasilah kepergian covid-19,”doanya.

Hadir pada acara Istighosah nasional ini, Gubernur Jawa Timur, Kepala Bank Indonesia RI, pesantren se Jawa Timur, juga dari Riau. Hadir pula mengisi acara KH Bahauddin Nursalim dari Rembang. (aaa/pe)

Pos terkait