Minggu, 5 April 2026
Opini  

COVID-19 yang Saya Alami

Muhd Nur sangadji
Dr. Ir. Nur Sangadji DEA. Foto: Dok

Oleh Muhd Nur Sangadji

SEBENARNYA saya hanya ingin membandingkan antara Covid-19 yang saya tulis dengan Covid-19 yang saya rasakan. Itu saja poinnya. Lebih setahun lalu, semenjak merebak pertama kali. Virus Covid-19 ini sudah saya tulis berulang-ulang dengan judul yang berganti ganti.

Hampir lebih kurang dua puluhan judul artikel yang saya lepas ke publik. Sekadar menyegarkan memori, saya sebutkan beberapa saja. “Covid-19 and Biological Terorisme”. Covid-19 dan Keseimbangan Terbalik. Melawan Covid-19, Melawan Diri Sendiri. Tiga ini adalah contoh dari judul yang sudah-sudah.

Kali ini, benar benar berbeda. Berbeda, karena yang sebelumnya, Saya menulis apa yang dipikirkan. Sementara yang ini, apa yang saya alami sebagai pasien “suspected”.


Siang itu, tanggal 1 Juli 2021, kami satu rombongan tim KLHS RPJMD Sulawesi Tengah bergegas ke tempat “Swab Antigen”. Lokasinya di kawasan Plaza Indonesia Jakarta. Lima yang datang. Empat negatif. Satu positif. Saya minta Swab lagi di kawasan Tamcyt. Hasilnya tetap positif.

Kami lantas menikmati bersama, Coto ayam. Entah karena itu, atau sudah terkontaminasi sebelumnya. Malamnya, saya kedinginan. Sulit tidur semalaman. Belum ada pikiran bahwa Covid-19 telah bersarang.

Paginya, tanggal 2 Agustus, kami berempat menuju bandara. Terbanglah ke Palu via Makassar. Isteri menjemput di Bandara Mutiara Sis Aldjufri. Dia membawa kolak pisang siap santap. Sepanjang jalan pulang. Saya lahap kolak itu sampai habis. Tidak terikhtiar sedikit pun kalau virus mudah berpindah saat makan berdekatan. Kepekaan ini tidak hadir. Kecuali satu hal saja yaitu pakai masker.

Malamnya, tubuh mulai panas tapi tetap kedinginan. Saya pastikan saja, sudah positif Covid -19 tanpa perlu test Antigen. Cukup dengan asumsi riwayat perjalanan. Paginya, isteri masih ke kampus. Segar bugar seperti biasa. Namun, ketika pulang ke rumah. Badannya mulai tidak nyaman. Gejala flu muncul. Panas, batuk dan tenggorokan gatal. Kami pastikan, Covid- 19 sudah menyerang.


Kami putuskan untuk Isoman. Tidak berani test swab. Ada dua alasan. Pertama, untuk apa test kalau kami sudah pastikan bahwa kami positif ? Kedua, kalau nanti test swab dan hasilnya benar positif. Maka akan memproduksi kepanikan individu dan sekeliling. Kami tidak siap mental untuk itu. Imunitas bakal turun otomatis. Kami ikhtiarkan seisi rumah.

Ini sikap yang sangat individual. Akan tetapi tujuannya ingin menjaga keseimbangan psikologi dan kondisi tubuh (somatik). Kesehatan itu kata ahli, adalah konfergensi keduanya (psicosomatik). Sekitar hari ke empat, saya kehilangan penciuman. Makin yakinlah bahwa Covid- 19 telah merasuk. Gerakan perlawanan mulai dibangun. Obat, vitamin, makan, terapi dan doa digandakan. Segala saran alternatif dijalankan.

Kalau diingat lagi. Terasa gabungan pelajaran antara ketakutan dan lucu. Uap panas minyak kayu putih dihirup. Langsung dari teko. Juga, tisu yang dibasahi minyak kayu putih, ditusuk di ke dua lubang hidung. Pernah juga, hirup air panas yang ditetesi deterjen. Pokoknya, yang masuk akal hingga yang setengah logik. Semuanya dipraktekkan. Saya berkelakar ke isteri. Lama-lama, tubuh ku ini berubah jadi pakaian “Laundry”.


Dari waktu ke waktu, saya terus menghitung hari. Ini berkaitan masa inkubasi virus. Menunggu hari ke- 14 itu, terasa lama sekali. Lama, karena perasaan sakit ini sangat berbeda. Sebelum ini, saya bermasalah batu ginjal. Kalau sakit batu ginjal. Saya merasa hanya berjuang keras melawan sakit (somatik). Covid-19 ini, selain sakit, saya merasa dominan berjuang keras melawan ketakutan (psico). Betullah Ibnu Sina, dokter modern pertama dunia yang berkata. Sembuh itu adalah gabungan dari upaya menjaga tubuh dan jiwa.

Alhamdulillah, di hari ke- 6 atau ke-7 keadaan agak membaik. Virusnya mungkin kian berkurang dan melemah. Saya lawan dengan semua ikhtiar. Salah satunya adalah menunggu matahari. Celakanya sepanjang minggu itu, lebih banyak mendungnya. Saya baru sadar mengapa orang asing selalu memburu matahari.

Baru terasa, makhluk Tuhan bernama matahari yang selama ini Kita anggap biasa saja ini. Kehadirannya sangat dirindukan, sekaligus butuhkan. Di sini produksi vitamin D berlimpah. Kita malah menghindarinya karena takut hitam.


Lapar, tapi tidak ada nafsu makan. Saya paksakan mencoba semua makanan. Saat nasi tak berselera. Sagu dari ubi kayu menjadi alternatif. Dicelupkan ke dalam teh manis. Lahap bersama Ikan bakar dan dabu-dabu (sambal) mentah. Bawang merah putih segar ikut serta. Saya petik lombok, parea, daun kelor dan ujung daun pepaya muda segar. Semuanya ada di halaman rumah. Sesekali menunya, popeda alias kapurung. Intinya, cari jalan untuk tetap makan.

Baru saya sadar. Allah mengirimkan penyakit. Tapi, Allah juga siapkan obat penangkalnya. Ada di sekitar kita. Biodiversitas. Flora dan fauna. Termasuk benda ciptaannya yang selama ini kita sebut benda mati (abiotik). Maka, mengertilah kita se dalam-dalamnya. Boleh jadi, Allah kirimkan virus untuk menyadarkan kita. Bahwa, tidak ada yang diciptakannya sia-sia. Maka, Ikhtiar kita adalah menjaga tetap lestari. Artinya, syukur dan bijaksana dalam memanfaatkannya. Semoga.

(Penulis, Associate Profesor bidang Ekologi Manusia di Faperta Universitas Tadulako)