Sabtu, 4 April 2026
Opini  

Guru Ekskul dalam Pembelajaran Tatap Muka

MHD Natsir Yunas (Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang)

Sejak 30 Agustus 2021 lalu beberapa daerah sudah mulai mengujicobakan pembelajaran tatap muka secara terbatas. Hal ini dilakukan untuk menjawab kegelisahan dari para siswa dan orangtua yang merasakan pembelajaran daring yang dilaksanakan selama pandemi ini tidak berjalan efektif. Ini terbutki dengan hasil belajar siswa yang belum maksimal. Sehingga kegiatan ujicoba belajar tatap muka disambut dengan baik oleh berbagai pihak terutama orangtua.

Proses belajar daring yang berjalan selama ini belum menyentuh pada peningkatan kompetensi dari siswa. Tetapi lebih pada pemenuhan tuntutan kurikulum, sehingga terkadang mengabaikan minat dan bakat dari peserta didik. Padahal belajar tidak hanya bicara tentang kemampuan kognitif saja tetapi lebih dari itu juga memberikan kesempatan peserta didik untuk mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Sehingga belajar seharusnya bukan keseragaman, tetapi bagaimana belajar bisa meningkatkan kemampuan dari peserta didik dalam berbagai hal. Baik kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang akan menjadi bekal bagi mereka menjalani kehidupan yang lebih baik.

Oleh sebab itu, pembelajaran daring yang dilaksanakan selama ini tidak harus menghilangkan berbagai program yang dapat meningkatkan potensi dari setiap peserta didik. Perlu disusun program di luar kegiatan pelajaran wajib yang dapat meningkatkan potensi mereka. Sehingga belajar tidak lagi sekedar menyelesaikan mata pelajaran yang dipelajari di sekolah.

Dalam sisuasi normal, untuk meningkatkan potensi peserta didik ini, sekolah melaksanakan berbagi kegiatan ekstra kurikuler (ekskul). Biasanya para peserta didik akan sangat senang dengan kegiatan seperti ini. Karena sebagai anak yang sedang mengembangkan potensinya. Mereka bisa mengeskpresikan kemampuan yang dimiliki kepada teman-teman dan guru di sekolah, tidak hanya kehebatan belajar di kelas. Karena setiap anak memiliki potensi yang beragam dan tidak bisa disamakan kemampuan masing-masing anak dalam belajarnya.

Oleh sebab itu, penting bagi sekolah untuk memberikan perhatian yang lebih untuk kegiatan ini. Karena selama pandemi ini kegiatan ekskul yang dimaksudkan untuk mengembangkan potensi dari peserta didik seakan terabaikan oleh berbagai kegiatan mata pelajaran wajib yang dianggap lebih penting. Agar kejenuhan dalam belajar selama pandemi dengan belajar daring bisa diminimalisir. Sehingga belajar menjadi menyenangkan dan tidak terkesan kaku.

Ini tentu sesuai dengan konsep merdeka belajar yang tidak membebani peserta didik dengan beragam mata pelajaran yang sebenarnya tidak menjadi minat mereka. Siswa cukup belajar mata pelajaran yang menjadi tuntutan dasar berfikir, sebagai bekal menjalankan proses belajar yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Dalam konsep seperti ini proses belajar di sekolah tidak lebih sebagai prasyarat untuk melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi.

Untuk mewujudkan itu perlu kesiapan seluruh komponen penyelenggara pendidikan, khususnya sekolah. Sekolah harus mampu menjadi tempat belajar yang menyenangkan dan dirindukan oleh peserta didik. Membuat berbagai program pembelajaran yang kreatif dan inovatif, sehingga menarik bagi mereka. Proses belajar yang tidak hanya terpusat di dalam kelas (atau di ruangan zoom ketika belajar daring), tetapi juga di luar kelas. Sehingga semua aktivitas harus mampu mengasah minat dan bakat peserta didik untuk berkembang dengan baik.

Terkadang kegiatan ekskul dipahami hanya sekedar menyediakan waktu berekspresi peserta didik. Bukan untuk mengasah dan mengembangkan potensi bakat dan minat mereka. Hal ini tergambar dari pelaksanaan kegiatan selama ini yang terkesan kurang serius. Di mana tanggung jawab kegiatan hanya ditugaskan kepada guru kelas atau guru mata pelajaran yang dianggap memiliki kelebihan di bidang tertentu. Tentu saja ini tidak memberikan hasil maksimal bagi perkembangan potensi peserta didik.

Untuk memperoleh hasil belajar maksimal, maka seharusnya kegiatan ekskul dikelola dengan baik. Pelaksanaan kegiatan tidak hanya dibebankan kepada guru kelas, tetapi diberikan kepada guru yang memang profesional dalam mengelola program-program pembelajaran. Karenanya diperlukan guru ekskul professional yang diberi tugas khusus untuk mengelola kegiatan pembelajaran di luar mata pelajaran wajib.

Guru ekskul harus mampu melakukan identifikasi terhadap kebutuhan belajar peserta didiknya. Sehingga program belajar yang disusun dapat diminati. Mereka tidak dibebani dengan tugas mengajar di kelas seperti halnya guru kelas atau guru mata pelajaran yang lainnya. Mereka bertugas mengelola kegiatan ekskul yang menunjang proses belajar menjadi lebih baik lagi. Jadi setiap ke sekolah siswa tidak hanya belajar mata pelajaran wajib, tetapi juga melaksanakan proses belajar yang menyenangkan sesuai dengan bakat dan minat mereka.

Untuk mewujudkan itu semua, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan. Pertama, guru ekskul merupakan manajer dari pelaksanaan program. Mereka haruslah memiliki kompetensi dalam melakukan perencanaan, pengelolaan, pelaksanaan, pengawasan program dan melakukan evaluasi di saat kegiatan selesai dilaksanakan. Kedua, guru ekskul harus memiliki kemampuan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak dalam mengelola kegiatan. Sehingga lebih mudah dalam menyusun program sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Ketiga memahami minat dan bakat peserta didik sejak pendidikan dasar, sehingga proses belajar pada tingkatan berikutnya menjadi lebih mudah. Dalam hal ini program yang dilaksanakan hanyalah kelanjutan dari pekerjaan yang sudah dijalankan oleh guru BK (Bimbingan Konseling) dalam mengenali potensi peserta didik sejak awal. Proses bimbingan berikutnya dilakukan oleh guru ekskul untuk mengarahkan dan mengelola program yang cocok dan sesuai dengan minat anak.

Keempat, proses belajar peserta didik sesuai dengan bakat dan minat serta potensi yang mereka miliki. Kemungkinan adanya anak yang merasa tidak puas dengan proses belajarnya bisa diminimalisir. Karena dari awal mereka sudah berproses sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang mereka miliki.

Hal ini sangat penting, karena pendidikan dan proses belajar di sekolah harusnya menyenangkan. Mereka datang ke sekolah dengan penuh semangat untuk mewujudkan semua yang mereka inginkan. Anak akan lebih tersalurkan minat dan bakatnya di sekolah dan tidak perlu lagi berpindah keluar dari sekolah yang memerlukan waktu yang lebih banyak. Dari segi biaya lebih hemat, karena proses pengembangan potensi peserta didik bisa diakomodir dengan berbagai kegiatan ekskul yang terprogram dengan baik. Ini tentu saja menjadikan sekolah menyenangkan dan diminati oleh peserta didiknya.

Jadi guru ekskul berperan sebagai pelengkap dari proses belajar peserta didik di sekolah. Meskipun nantinya ada peserta didi yang lebih tertarik belajar di lembaga non formal di luar sekolah dengan membayar biaya yang lebih lagi. Tetapi paling tidak sekolah sudah memfasilitasi tahap perkembangan potensi peserta didik. Sehingga potensi mereka lebih terarah dengan adanya bimbingan dan program yang disusun dengan baik oleh guru ekskul di sekolah mereka masing-masing.

Semoga pandemi ini segera berakhir, sehingga proses belajar di sekolah menjadi lebih maksimal dengan berbagai program yang dapat meningkatkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.***