Kutemukan ‘Indonesia Mini’ di Kamonji

  • Whatsapp

Catatan Rusman Madjulekka

NAMANYA Rusdam. Biasa dipanggil Undeng. Ia kawan satu kelas saya di Sekolah Dasar (SD) Inpres Kamonji, kecamatan Palu Barat, kota Palu, Sulawesi Tengah, tahun 1977. Sebelumnya, ia ikut orang tuanya yang berasal dari Mandar (Sulawesi Barat) merantau ke Palu.

Dan ‘roa’ (kawan,red) saya lainnya, seperti  ‘dorang’ Imam, Mety, Santi, Nana, Alo, Abdul Azis, Faridah, Purwanty, Aminah, Miftah, Taufan, Nurmiati, Zainab, Sahidah, Tamrin, Trio ‘kwek-kwek’ Nurfaidah, Mujahidah, Fahmi Habibu, Desny, Latifa, Ali Badjuber, Jamila, yang beretnis atau keturunan campuran Bugis, Kaili, Jawa, Banjar, Kawanua, Arab, Tionghoa, Gorontalo, Kalimantan dan lainnya.

Di era tahun 1970-an, meskipun terkadang orang menganggap Kamonji sebagai kampung, tapi siapa sangka kehidupan masyarakat di wilayah ini sangat harmonis. Ciri khas dari kampung Kamonji adalah sikap toleransi beda etnis dan agama dari para warganya, dengan berbasis sejarah dan kisah keluarga.

Sesama warga boleh dikata sangat rukun dan damai sejak dari zaman saya kecil dulu. Meskipun banyak perbedaan, masyarakat Kamonji tidak pernah ada masalah satu sama lain. Warga asli maupun pendatang bisa klop, berbaur serta hidup berdampingan. Ada pula yang dipersatukan lewat ikatan perkawinan. 

Bahkan, menurut cerita orang tua dan para tokoh masyarakat setempat yang saya dengar, sebelum Pancasila lahir, kehidupan di kampung Kamonji sudah rukun. Pasalnya, saya merasakan sendiri keindahan warisan luhur nenek moyang tersebut. Mereka memiliki toleransi.

Tingginya nilai toleransi di kampung Kamonji bisa dilihat dari aktivitas masyarakatnya bila saat tiba hari lebaran atau perayaan hari raya umat beragama. Warga yang non muslim akan selalu ikut memeriahkan lebaran. Begitu juga saat warga kristen perayaan Natal.

Mereka saling mengunjungi, membagikan makanan atau mengundang tetangganya untuk mencicipi makanan khas lebaran atau natal. Kemeriahan juga diwarnai tradisi ‘hagala’ yang dinantikan para anak-anak kampung Kamonji. Begitupun juga bila tiba Imlek, warga etnis Tionghoa selalu memberi angpao pada anak-anak.

***

PLURALISME di kampung Kamonji tumbuh dengan belajar dari sejarah keluarga. Karena itu akarnya kuat, tak mudah diterpa angin perubahan yang kadang diboncengi bermacam isu, praduga, hoaks, dan ujaran kebencian.

Tiba-tiba aku teringat resolusi Badan PBB, Unesco, yang mengatakan: ada empat konteks dalam belajar. Yakni “learning to know”, “learning to do”, “learning to be”, dan “learning together”.  Poin terakhir ini “together in harmony”.

Masyarakat Kamonji secara alami mengalami proses belajar saling memahami, menghargai, dan bertoleransi yang khas kampung. Hal itu bagian dari adaptasi.

“Ya…saya dari kecil so (sudah,red). Te (tidak,red) pernah bapilih (milih-milih,red) roa (teman,red). Kadang kalau hari raya, saya paling bersemangat karena bisa saling mengunjungi,” cerita Rusdam, salah satu warga kampung Kamonji.

Pria berusia 51 tahun ini mengaku sudah tinggal bertahun-tahun di kampung Kamonji. Tempat tinggalnya sudah menjadi kampung tersendiri baginya. Keragaman di sekitarnya adalah perbedaan yang indah, menurutnya. Sehingga kehidupan sehari-hari di sekitar tempat tinggalnya seakan tidak ada perbedaan. Semua menyatu menjadi pergaulan sosial yang sangat baik.

Sebuah kesyukuran bagi saya yang pernah tinggal dan bersekolah pada masa kecil (1977-1982) di kampung Kamonji. Memoriku masih kuat mengingat betapa diriku menemukan “Indonesia Mini” untuk kehidupan keberagaman. Disini hidup warga dengan berbagai etnis.

Keberagaman etnis di kampung ini memberikan bukti bahwa kampung Kamonji adalah etalase atau dunia kecil harmoni keberagaman Indonesia yang sejati. ***

Jakarta, 6/9/2021
(Penulis bersekolah di SD Inpres Kamonji 1977-1982 pernah tinggal di jalan jeruk kamonji)

Pos terkait