Oleh; Muhd Nur Sangadji
Dalam suasana mengenang tiga tahun bencana Palu. Saya telah mengurai pengalaman dalam sejumlah artikel. Ini salah satunya.
Satu bulan sesudah bencana Palu yang terjadi pada 28 September 2018 itu, ada ujian sarjana untuk mahasiswa pertanian. Dia adalah mahasiswa pertama yang melakukan ujian pasca bencana. Nampaknya, dia lebih siap karena sesungguhnya tertunda akibat bencana tiga dimensi tersebut. Liquifaksi, tsunami dan gempa.
Tapi, yang ingin saya ulas adalah kaitan bencana tersebut dengan dunia pertanian dan pemberdayaan. Kebetulan objek riset mahasiswa bersangkutan adalah tentang komoditi jagung. Saya bertanya dalam ujian itu, ada tidak hubungan antara komoditi jagung ini dengan penanganan bencana?
Dengan sedikit ragu, dia menjawab, ada. Saya tanya lagi, apa hubungannya..? Dia bilang, sebagai bahan pangan untuk kebutuhan pengungsi dan korban bencana lainnya.
Jawaban mahasiswa tersebut tentu tidak salah. Namun, bukan itu maksud saya. Sebab, kalau itu, tidak ada bedanya dengan beras. Keduanya, sama-sama bahan pangan yang dibutuhkan. Satu hal yang berbeda pada keduanya adalah tujuan konsumsi dan budidaya.
Orang tidak pernah mengirim gabah di daerah bencana. Selalu hanyalah beras. Karena itu, tidak mungkin ditanam kembali. Kecuali untuk diolah langsung sebagai bahan makanan. Jagung punya kelebihan di soal ini. Dia bisa diolah dan atau dibudidayakan kembali.
Fakta menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan selalu berbentuk instan. Tentu tidak salah, karena saat itu orang dalam suasana panik dan butuh bantuan segera untuk makan. Akan tetapi, dalam kerangka manajemen bencana, perlu ada inovasi tindakan.
Beras, super mie, ikan kaleng dan sejenisnya tetap dibutuhkan. Bersamaan dengan itu, perlu diikutkan jenis komoditi lainnya. Jagung dan kacang ijo sebagai contoh. Ini dua produk yang bisa dikonsumsi. Juga, bisa dibudidaya. Bahkan dengan waktu yang lebih singkat. Kacang ijo punya waktu panen sekitar tiga bulan. Begitu juga jagung.
Tapi, kacang ijo bisa dipanen dalam waktu tiga sampai lima hari. Produknya bernama toge. Jagung boleh meniru kacang ijo dengan waktu relatif lama. Namun, tidak harus tiga bulan. Boleh 1,5 sampe dua bulan. Nama produknya, jagung muda atau jagung bayi (baby corn). Keduanya berfungsi sebagai sayuran.
Pastilah bagus untuk mengimbangi super mie yang reltif dikonsumsi setiap hari. Kacang ijo dan jagung boleh ditanam oleh relawan yang datang. Saya meyakini, para korban pun tidak sampai hati membiarkan para relawan bekerja sendiri. Tinggal dicarikan lahan yang layak. Hadirlah kolaborasi progresif yang menjadi inti dari sebuah gerakan pemberdayaan. Bangkit bersama untuk maju. Semoga.
(Penulis, Associate Profesor bidang Ekologi Manusia di Faperta Universitas Tadulako)






