H Sofyan Farid Lembah, (Kepala Perwakilan Ombudsmen Sulawesi Tengah)
JELANG 30 September, mengunjungi atau bersilaturahim dengan pemuka masyarakat sangatlah penting. Ini bukan sekadar bernostalgia tapi saling berpesan-pesan.
Pasca gagal total upaya coup d’etat di 30 September 1965, cerita heroik mahasiswa Sulawesi Tengah di Asrama Bintaran Tengah Yogyakarta sangatlah mengharukan. Bentrokan dengan kader PKI di sepanjang Kali Code memberi informasi tak sedikit kepada kader-kader HMI bahwa PKI itu memang ada. Sejarah kelamnya memang benar adanya.
Dengan semangat ibu, Dr. Nursyidah Bantilan menjelaskan bagaimana kiprah mahasiswa Bintaran Tengah melewati masa-masa sulit itu. Belum cerita bagaimana Hamzah Tiku muda menyelamatkan tokoh NU pimpinan Banser GP Anshor saat itu, Subhan ZE, dengan kemampuan Prana Saktinya, membuat para pemuda PKI yang mengepung dengan senjata tajam tak mampu bergerak sedikitpun apalagi menyentuh tubuh tokoh pemuda itu.
Ceritapun bergeser sampai pada legacy bagaimana bapak Dr Drs Moh Ma’ruf Bantilan, MM membangun Kabupaten Toli Toli yang beliau cintai.
Sebagai pensiunan birokrasi, mantan bupati sekaligus akademisi beliau memang kaya dengan berbagai informasi yang jarang dipublikasikan. Godfather Kabupaten Toli Toli ini adalah tokoh penting pada zamannya yang bersama istri tercintanya membangun Universitas Madako untuk mencetak SDM berkualitas di Toli Toli.
Silaturahim di pagi hari dalam jamuan Songkolo dan Nasi Kuning sangatlah berkesan. Tokoh muda KAHMI dan HMI di Toli Toli sangatlah beruntung masih memiliki tokoh panutan.
Dialog kekeluargaan mengalir hingga sampai pada suatu titik, bagaimana menghadapi akhir zaman ini. Silaturahim terjalin dan pesan akhir zaman didapatkan.
Kabupaten Toli Toli saat ini sangat membutuhkan dialog-dialog seperti ini. Singkat dan padat penuh rasa kekeluargaan. Kekeluargaan adalah modal besar dalam membangun jiwa dan badan penguasa serta masyarakat. Ini tak boleh hilang. Tak boleh anggota masyarakat seorangpun yang ditinggalkan dalam derap laju pembangunan. Semua komponen harus mengambil peran aktif lakukan perubahan yang diinginkan bersama.
Design pembangunan lewat kampus Madako adalah sebuah keniscayaan. Kampus, Pemerintah Kabupaten, Partai Politik dan Para pemuka agama inilah modal besar membangun Toli Toli yang Bermartabat. Bahaya laten komunis tak akan bisa mengalahkan design ini. Insya Allah, HMI disundang semakin menendang!!!
Wabillahit taufiq wal hidayah. ***






