Kamis, 13 Agustus 2026
Opini  

Kinerja Sektor Hulu, Sisi Lemah Industri Udang

Dr. Hasanuddin Atjo (kiri). Foto: istimewa

Oleh Hasanuddin Atjo (Dewan Profesi dan Pakar Ispikani)

PEMERINTAHAN Joko Widodo-Ma’ruf Amin telah menetapkan revitalisasi tambak udang maupun bandeng di hampir semua wilayah RI, sebagai salah satu major project dI RPJMN tahun 2019-2024. Ini tentunya jadi semangat baru bagi pelaku usaha dan masyarakat yang terlibat pada bisnis ini.
Kementerian teknis Kelautan dan Perikanan (KP), terkait major project itu telah menetapkan target produksi udang dari 800 ribuan ton di 2020 menjadi 2 juta ton pada akhir tahun 2024. Dan, akan mengembangkan sejumlah pilot project pendekatan estate yang biasa disebut dengan istilah Shrimp Estate.
Selain itu devisanya juga didorong meningkat dari 1,8 milyar dolar US menjadi sekitar 4,5 milyar dolar US melalui hilirisasi yang berorientasi produk bernilai tambah, mengingat baru sekitar 40 % produk ekspor hasil perikanan negeri kita dalam bentuk produk jadi.
Tambak- tambak rakyat selama ini dipergunakan memproduksi udang dengan produktifitas 600 kg/ha/tahun akan didorong menerapkan inovasi teknologi setingkat lebih tinggi dari sebelumnya yaitu, dari sederhana ke teknologi semi intensif dengan produktifitas mencapai 2000 kg/ha/tahun.
Konsep Estate (kawasan) menjadi landasan pengembangan tambak rakyat tersebut. Nantinya di dalam kawasan itu tersedia infrastruktur tandon dan instalasi pengolahan air limbah, IPAL komonal dan akan dipergunakan secara bersama. Selain itu juga dilengkapi fasilitas mini lab. kesehatan udang hingga kebutuhan sarana dan prasarana.
Keberadaan maupun peran dari kelembagaan petambak akan jadi kunci sukses penerapan konsep model seperti ini. Kelembagaan bersama pendamping menyusun rencana pengelolaan kawasan. Mulai dari sumber benih, padat tebar, waktu tebar, monitoring kesehatan udang hingga pasar.
Selanjutnya sektor swasta dalam negeri dan investasi luar harus didorong menganbil bagian dalam program ini dengan menerapkan teknologi budidaya udang yang lebih tinggi dan ramah lingkungan sehingga berkelanjutan. Dukungan energi listrik, infrastruktur lainnya tentunya harus dipersiapkan.
Target produksi udang 2 juta ton dinilai sejumlah kalangan tidaklah berlebihan bila ditilik dari potensi SDA yang besar, kesesuaian iklim, permintaan pasar yang tinggi, dan kesiapan teknologi budidaya dari yang sederhana hingga modern kini telah tersedia.
Negara kepulauan, iklim tropis, dan garis pantai kurang lebih 100.000 km, terpanjang ke dua dunia, juga dinilai menjadi pemicu naiknya rasa percaya diri, sehingga kementerian teknis menetapkan target produksi meningkat sebesar 250 % pada akhir tahun 2024.
Apalagi setelah melihat kinerja dari Vietnam dengan garis pantai 3.200 km, hampir sama Jawa Timur 3.400 km. Pada tahun 2020, negeri ini mampu memproduksi udang sama dengan Indonesia sekitar 500.000 ton ( FAO, 2020) dan devisa sekitar 4 milyar dolar US, lebih tinggi dari Indonesia.
Keberhasilan Vietnam manfaatkan SDA yang terbatas dan menjadi salah satu produsen udang dunia, lebih disebabkan oleh pendekatan yang dipergunakan. Industrialisasi berkelanjutan adalah strategi yang dipergunakan Negeri dengan nama ibukota Ho Chi Min ini.
Vietnam Rose adalah julukan lain dari Negara Vietnam dan merdeka di 1975. Berpenduduk 98, 4 juta jiwa di tahun 2020, dan menjadi salah satu negara berpenduduk terpadat. Negeri ini juga terkenal jago membesarkan benih lobster melalui teknologi pembesarannya. Ironinya benih- benih lobster itu, sebahagian besar didatangkan dari Indonesia yang masuk secara legal maupun ilegal.
Teknologi pembesaran lobster di negeri ini mampu menekan angka kematian benih hingga 70 %. Dan Indonesia baru mencapai 25 %.
Kemahiran membesarkan benih ini kemudian menyebabkan harga benih lobster di Vietnam 3 – 4 kali harga di Indonesia yaitu antara 75 – 100 ribu rupiah per ekor.
Kesuksesan Vietnam kembangkan industri udang, khususnya vaname dan lobster dikarenakan inovasi dan teknologi sektor hulu dan hilir dikembangkan sama baiknya, dan mendapat dukungan stakeholders terkait, termasuk perguruan tinggi dan lembaga keuangan.
Elaborasi riset secara internal dan eksternal telah banyak dilakukan. Konsep kerjasama Didu dan Duda, dunia industri-dunia usaha dan dunia usaha-dunia akademisi di negeri ini berlangsung secara masif yang dipandu oleh roadmap atau peta jalan yang jelas dan terukur. Ditambah etos kerja masyarakat yang mendukung bagi perubahan.
Kondisi yang tercipta ini menjadi daya tarik investasi baik dari luar maupun dari dalam negeri. Tidak heran kalau saat ini Vietnam bisa memenuhi kebutuhan induk udang vanamenya secara mandiri melalui investasi pembangunan BMC, yaitu Breeding Modification Center.
BMC adalah fasilitas membesarkan calon induk yang didatangkan dari NBC, Nucleus Breeding Center di Hawai atau Florida. NBC, fasilitas yang memiliki parents stock, nenek moyang yang unggul. Di fasilitas inilah parents stock itu dikawinkan untuk memproduksi benih sebagai calon induk di BMC.
Benih yang berusia 30 hari sejak menetas di NBC, kemudian dikirim ke sejumlah BMC di Vietnam, mitra dari NBC perusahaan di Hawai dan Florida untuk dibesarkan selama 8 – 10 bulan dan kemudian menjadi induk unggul, diperdagangkan bagi kebutuhan sejumlah pembenihan udang atau hatchery.
Sukses mengembangkan industri artemia berupa cyste dan biomass artemia di tambak tambak garam milik rakyat dan swasta menjadi salah satu faktor penentu sehingga Vietnam maju dalam industri udang vaname, lobster bahkan beberapa komoditi budidaya lainnya.
Ketersedian biomass artemia hidup (artemia dewasa), dan berasal dari tambak garam akan meniingkatkan mutu induk. Demikian pula adanya nauplius artemia dari cyste artemia yang ditetaskan dan biomas muda artemia juga menjadi faktor kunci terhadap kualitas benih udang dan ikan serta lobster. Dan ini juga jadi sebab, Vietnam unggul di industri ikan patin dan lebih dikenal dengan ikan dori.
Hilirisasi juga berkembang pesat dan dominan menghasilkan produk jadi untuk dipasarkan dalam negeri maupun ekspor. Dan dikarenakan efisiensi yang dibangun di sektor hilir termasuk inovasi logistikya, maka Vietnam mampu mengimpor bahan baku udang vaname dari India bahkan Equador dan diproses menjadi produk jadi yang kemudian di ekspor kembali.
Indinesia sejak lama juga berupaya mengembangkan NBC dan BMC Vaname secara mandiri di dalam negeri. Di tahun 2008, Kementrian KP kali pertama mengembangkan NBC dan BMC di Karang Asem, Bali. Dan pada hampir waktu yang bersamaan salah satu perusahaan swasta Nasional, di Lombok juga mengembangkan industri serupa.
Hingga saat ini kinerja dari kedua NBC maupun BMC tersebut belum mampu bersaing dengan NBC dan BMC di Hawai maupun Florida. Disinyalir ketersediaan makanan induk udang berupa cacing laut bebas penyakit sangat terbatas dan harus diiimpor. Demikian pula makanan induk sekelas cacing laut berupa biomas artemia juga tidak tersedia.
Saat ini, Indonesia setiap tahun harus mengimpor induk vaname dari Hawai dan Florida antara 400 hingga 500 ribu pasang. Dan ini akan meningkat menjadi 2 juta pasang bila ingin meningkatkan produksi udang menjadi 2 juta ton di akhir tahun 2024.
Mendatangkan 2 juta pasang induk udang vaname mungkin bisa saja dilakukan, namun yang jadi soal utama adalah tersedianya pakan induk udang berupa cacing laut bebas penyakit atau substitusinya berupa biomas artemia dewasa yang dipelihara ditambak tambak garam bersalinitas 80 -100 permil. Disinyalir bahwa biomas artemia yang dipelihara di kisaran salinitas itu terbebas dari penyakit.
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa sektor hulu industri udang vaname nasional harus di redesain kembali. Pertama, mendorong dan memfasilitasi swasta nasional agar tertarik berinvestasi di BMC dan bermitra dengan NBC di Hawai dan Florida. Dan secara bertahap bisa mengembangkan NBC di Indonesia
Kedua, mendorong, memfasilitasi sektor swasta mengembangkan industri cyste dan biomass artemia di tambak tambak garam termasuk milik rakyat, dan sekaligus tetap memproduksi garam, namun tidak lagi menjafi produk utama. Dan hal ini bisa mengakhiri polemik impor garam setiap tahunnya.
Ketiga, mendorong peran lembaga BRIN, badan riset nasional yang baru saja terbentuk, agar memberi prioritas bagi riset dasar maupun pengembangan untuk menunjang pengembangan NBC, BMC dan industri artemia. di dalam negeri.
Roadmap, peta jalan yang terukur harus segera dilahirkan. Demikian pula dengan dukungan anggaran riset harus diperbesar dan sifatnya multiyears sehingga berkelanjutan dan bisa menuntaskan masalah. Sudah saatnya roadmap maupun implementasi dilakukan dengan pendekatan Penta heliks, antara lain membangun elaborasi riset Dudi dan Duda. SEMOGA

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital
Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Platform Permainan Daring Modern Terbentuk Dari Blockchain Dan Big Data
Skalabilitas Game Online Di Tengah Pertumbuhan Pengguna Digital Global Didukung Infrastruktur Cloud Native
Transparansi Ekosistem Game Online Berbasis Teknologi Masa Kini Didukung Blockchain Modern Dan Smart Contract
Ekosistem Game Modern Yang Lebih Terhubung Terbentuk Dari Integrasi Internet Of Things Dan Artificial Intelligence
Industri Game Modern Menyesuaikan Layanan Dengan Perubahan Perilaku Digital Berkat AI Berbasis Prediksi
Performa Game Multiplayer Meningkat Melalui Teknologi Edge Computing Dengan Pemrosesan Data Lebih Cepat
Platform Game Multiplayer Mengantisipasi Ancaman Siber Lebih Efektif Berkat Cyber Intelligence Modern
Pengembangan Game Modern Menjadi Lebih Fleksibel Dan Adaptif Berkat Artificial Intelligence Berbasis Cloud
Transformasi Digital Perusahaan Skala Kecil Dan Menengah Dipercepat Melalui Pengembangan Aplikasi Low Code
Visibilitas Konten Pada Google Discover Meningkat Secara Organik Berkat Strategi Search Engine Optimization
Menekan Spin Delay Is The Key Dengan Irama Tidak Teratur 2 Detik, 5 Detik, 8 Detik Bisa Membingungkan Randomizer Atau Hanya Ritual Ocd Saja
Masa Depan Hiburan Digital Interaktif Dibahas Melalui Perpaduan Teknologi Dan Narasi Pada Wild Bounty Showdown
Inovasi Seotda Baccarat Dari Pragmatic Play Menggabungkan Budaya Korea Dan Format Baccarat Modern Di Tahun 2026
Infrastruktur Game Digital Lebih Siap Menghadapi Gangguan Berkat Cyber Resilience Architecture
RTP Mahjong Scatter Hitam Pragmatic Play Hadir Nonstop 24 Jam Berkat Inovasi Teknologi AI Terbaru
Mahjong Ways Dioptimalkan Dengan Grafis Engine HTML5 Dan Kecepatan Respons Antarmuka Pengguna
Mahjong Ways Menjelaskan Mekanisme Perhitungan Kombinasi Kemenangan Dari Kiri Ke Kanan
Infrastruktur Digital Menjaga Stabilitas Performa Meskipun Beban Sistem Terus Meningkat
Data Historis Menjadi Dasar Pengembangan Algoritma Prediktif Generasi Terbaru
Literasi Risiko Menjadi Penting Seiring Pertumbuhan Investor Pasar Modal Indonesia