PALUEKSPRES, PARIMO – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berinovasi menciptakan makanan tambahan dalam bentuk biskuit blondo sebagai aksi pencegahan stunting di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah.
“Inovasi kami ini diciptakan karena mengingat wilayah Parigi Moutong sebagian besar hasil perkebunan kelapanya sangat tinggi. Jadi kami menggunakan kelapa sebagai bahan baku biskuit tersebut,” kata Kepala Rumah Sakit BAZNAS Parimo, dr. Kaslan saat ditemui wartawan pada kunjungan kerja Bupati Banggai Kepulauan di kantor Bappelitbangda, Selasa (5/10/2021).
Menurut Kaslan, penanganan stunting merupakan salah satu program kerja BAZNAS pusat, dengan sasaran masyarakat miskin atau kaum dhuafa di Parigi Moutong. Sebab, pihaknya menilai kondisi kemiskinan berdampak pada anak-anak para kaum dhuafa menjadi stunting.
Kata dia, meskipun pihaknya memiliki inovasi sendiri, namun program kerja BAZNAS dalam penanganan stunting, mengikuti lokus sasaran pemerintah daerah.
Dia menjelaskan, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar pada 2018, efektivitas pemberhentian makanan tambahan di Parigi Moutong hanya 0,0 persen.
“Dari persentase program ini, maka terlihat belum ada pencapaian sama sekali,” ujarnya.
Menurut dia, saat ini BAZNAS menangani sembilan desa yang seluruhnya adalah lokus stunting Parigi Moutong, di Kecamatan Siniu. Hingga kini sebut Kaslan, sudah ada dua desa terbebas dari stunting dan dapat dijadikan sebagai percontohan.
Lanjut dia mengatakan, data itu telah dikonfirmasi dari Puskesmas dan Posyandu setempat, melalui pengelolaan data dan intervensi secara khusus untuk balita pada kasus stunting.
Sementara, pencapaian lokus stunting diperkirakan akan terus bertambah setiap tahunnya. Apabila di setiap desa mengalami penurunan signifikan, maka selanjutnya akan diperluas ke daerah lain.
“Menjadi sasaran dari program ini bukan hanya remaja, dan pasangan baru menikah, tetapi juga mencakup kesehatan ibu hamil,” jelas Kaslan.
BAZNAS berharap, pengelolaan makanan dan pendampingan kesehatan bayi dan balita atau sasaran stunting lainnya menjadi perhatian orang tua.
Ia menambahkan, selalui program sanitasi berbasis masyarakat, pihaknya telah membangun jamban, dan sarana air bersih untuk kaum dhuafa.
“Intervensinya itu spesifik dan sensitif termasuk pengadaan fasilitas,” ujarnya.
Menurutnya, BAZNAS pusat juga memiliki program khusus untuk mengelola dana zakat, dan infak sedekah untuk masyarakat kurang mampu. (asw/paluekspres)
Dua Desa di Parimo Dapat Dijadikan Studi Tiru Penanganan Stunting






