Sabtu, 4 April 2026
Palu  

Save The Children Berdayakan Ekonomi 353 Warga Penyintas

PALUEKSPRES, PALUSave The Children Indonesia menggelar closing program ”Bantu Hidup” bagi warga korban gempa, liquefaksi dan tsunami yang terjadi di Palu, Sigi dan Donggala, 28 September 2018 silam. Menandai tiga tahun misi pendampingan di Palu, Sigi dan Donggala, Save The Children Indonesia, menggelar closing program yang berlangsung di Palu, Kamis 28 Oktober 2021. Hajatan ini juga menandai setahun program Bantu Hidup Save The Children. Sebuah program yang dihelat untuk memberdayakan ekonomi warga akibat gempa.

Selama tiga tahun, Save the Children Indonesia melalui program Bantuan Non Tunai Sumber Penghidupan (BaNTuHidup) mendampingi 353 keluarga di Palu, Sigi dan Donggala. Pendampingan itu dimaksudkan agar para keluarga lebih siap dan mandiri secara ekonomi.

Muhammad Mahyuddin, Program Manager Save the Children wilayah Sulawesi Tengah, menjelaskan, program Bantu Hidup dimaksudkan untuk masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala korban gempa dan harus merasakan situasi pandemi COVID-19.

”Ketika orang tua mengalami kesulitan ekonomi maka Anak – anak dalam keluarga tersebut juga terancam tidak terpenuhi hak – hak dasarnya, seperti hak Kesehatan dan gizi serta hak pendidikan. Program BaNTuHidup ini diharapkan bisa mendorong adanya peningkatan pendapatan para keluarga untuk memenuhi biaya hidup mereka terutama anak – anak,” jelas Muhammad Mahyuddin.

Menurut dia, Save the Children Indonesia bersama dengan mitra implementasi Yayasan Sikola Mombine mendorong kemandirian ekonomi untuk keberlanjutan hidup penyintas bencana gempabumi dan tsunami. Salah satunya dengan memberikan modal usaha agar para keluarga dapat memulai kembali usaha mereka.

Selain itu, katanya, Save the Children bersama mitra juga memberikan serangkaian pelatihan dan pendampingan terkait pengelolaan keuangan dan literasi keuangan yang didalamnya memuat pencatatan keuangan usaha. ”Waktu pandemi tahun 2020, modal usaha saya habis – saya kerja serabutan sampai jadi kuli bangunan. Saya bahkan tidak bisa memberi gizi yang baik untuk anak saya,” ungkap Selpi (39) salah satu penyintas.

Masih menurut Selpi, modal usaha dan pelatihan yang diberikan Save the Children membantunya menata kembali hidup. Bahkan bisa pasang wifi untuk anak – anaknya yang belajar daring.

Mahyudin mengatakan, program Bantu hidup pada 2021 ini telah membantu 353 (26 laki- laki dan 327 perempuan) pelaku UKM. Save the Children bekerja sama dengan Pemprov Sulteng, Pemkab dan Kantor Pos Indonesia. Disamping itu, bersama dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Tengah serta Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), Save the Children telah menyusun modul fasilitator literasi keuangan sebagai bentuk panduan fasilitator untuk bahan ajar.

TENTANG SAVE THE CHILDREN

Save the Children di Indonesia terdaftar dengan nama entitas Yayasan Save the Children Indonesia berdasarkan SK Kemenkumham No. AHU-0001042.AH.01.05 Tahun 2021. Save the Children Indonesia merupakan bagian dari gerakan global Save the Children Internasional yang bekerja memperjuangkan hak-hak anak di lebih dari 120 negara di dunia. Di Indonesia, misi Save the Children dilakukansejak tahun 1976.

Saatini, Save the Children beroperasi di 10 provinsi, 79 kabupaten, 701 kecamatan dan 918 desa. Program kami fokus pada kesejahteraan anak yang mengintegrasikan lintas sektor termasuk pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, kemiskinan dan tata kelola hak anak, serta respon situasi bencana. (kia/palu ekspres)