Minggu, 5 April 2026
Daerah  

Resort Kayangan di Pulau Sombori Tak Pernah Dikunjungi Wisman

PALUEKSPRES, MOROWALI – Capacity Building wartawan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Tengah (Tengah) tahun ini digelar di Pulau Sombori Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali.

Destinasi wisata Pulau Sombori saat ini sudah cukup dikenal luas lantaran kemiripannya dengan gugusan pulau di Raja Ampat.

Di gugusan pulau, panorama alam indah siap memanjakan mata. Ada pulau yang disebut pulau tangan kiri dengan keunikan sebuah ceruk di batu cadas yang hanya bisa dijangkau tangan kiri.

Lalu ada gua purba di Pulau Berlian dengan pemandangan stalagtit dan stalakmit memesona. Gua ini menjadi titik spot foto terbaik di Gugusan Pulau Sombori.

Untuk pecinta selam permukaan (snorkeling), aneka ragam biota laut bisa diamati diseputaran pulau Desa Dongkalan, masih dalam gugusan Pulau Sombori.

Spot foto lainnya yang bisa dituju berada di puncak pulau kayangan Desa Mbokita. Dari sini, landscape panorama Pulau Sombori terlihat utuh bagaikan gugusan pulau Raja Ampat.

Sayangnya, berbagai keindahan alam itu, tak cukup mampu menarik wisatawan mancanegara untuk sekadar memanfaatkan akomodasi yang tersedia di Pulau Sombori.

Selain resort kayangan, adapula resort priyanka. Namun saat ini resort priyanka dalam kondisi tidak terawat dan tak berpenghuni.

Pengelola resort kayangan, Ruslimin menyebut, resort di pulau Kayangan dipercayakan dinas pariwisata setempat padanya untuk dikelola. Resort ini awalnya dibangun swakelola Pemerintah Desa Mbokita sejak tahun 2017 sebagai tempat persinggahan.

Ditahun 2019, resort itu diambil alih dinas pariwisata setempat dengan menambah jumlah kamar dan fasilitas lainnya lalu dibuka untuk kepentingan komersial.

Sepengetahuan dia, sejak tahun 2019, belum ada satupun wisatawan mancanegara (Wisman) yang singgah ke tempat itu untuk menyewa.

Wisman umumnya mengambil titik jasa akomodasi di resort yang berada dalam wilayah administrasi Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Meski tujuan utama Wisman itu sendiri adalah berwisata di Kepulauan Sombori.

“Kalau siang mereka datang berwisata ke Pulau Sombori. Setelah itu kembali ke resort di Kendari. Karena memang jaraknya juga dekat,”ungkap Ruslimin, Sabtu malam 11 Desember 2021 di Desa Mbokita.

Ruslim mengaku, fasilitas penunjang seperti air bersih dan lampu penerangan resort memang belum memadai.

Air bersih untuk kebutuhan mandi masih diperoleh dengan membeli dari desa-desa sekitar Pulau Sombori. Lalu diangkut menggunakan jarigen-jarigen dengan kapal motor laut menuju pulau kayangan.

Fasilitas penerangan resort kayangan juga masih sebatas mengandalkan mesin generator yang setiap malam memerlukan bahan bakar.

Belum lagi jaringan komunikasi yang belum maksimal untuk mengakses aplikasi percakapan WhatsApp.

Uang untuk mengelola resort beber Ruslimin bersumber dari hasil sewa wisatawan lokal. Hasil sewa masih harus dibagi dua dengan dinas pariwisata sebagai pemasukan pendapatan asli daerah.

“Kita bagi hasil. Setengah untuk pengelolah, setengahnya lagi untuk pendapatan asli daerah,”bebernya.

Uang bagi hasil yang ia dapat pun kerap kali masih harus ia digunakan untuk biaya perawatan bangunan resort maupun penyediaan air bersih dan membeli bahan bakar untuk menyalakan lampu.

“Adakalanya saya harus menombok jika perawatan memakai dana yang besar,”ungkapnya.

Untuk diketahui, akses terdekat menuju Kepulauan Sombori adalah pelabuhan Desa Bete-Bete Kecamatan Bahodopi. Desa ini ditempuh satu jam perjalanan darat dari Bungku, Ibu Kota Morowali.

Dari desa ini, Kepulauan Sombori ditempuh kurang lebih 4 jam perjalanan laut. Menggunakan kapal motor laut berkekuatan 15 PK dobol mesin.

Akses terdekat menuju Kepulauan Sombori justru berasal dari Kota Kendari Sulawesi Tenggara. Karena wisatawan bisa langsung menggunakan jalur laut dari sejumlah pelabuhan di pusat kota.

Kemudahan akses transportasi dari Kota Kendari menjadikan interaksi perekonomian dari sektor kepariwisataan lebih banyak terjadi di Kota Kendari. Kondisi yang secara langsung menguntungan perputaran ekonomi bagi Kota Kendari. Karena sarana transportasi laut, akomodasi di kota tetangga ini lebih memadai.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulteng, Abdul Madjid Ikram berpendapat, Kepulauan Sombori merupakan objek wisata yang tak kalah dengan wisata bahari lainnya.

Katanya, jika dikembangkan secara optimal, bukan tidak mungkin objek wisata ini akan mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi masyarakat dan menjadi sumber pendapatan asli daerah bagi pemerintah setempat.

Sektor pariwisata sebut dia bisa mendongkrak secara langsung perekonomian masyarakat sekitar destinasi wisata tersebut. Yang notabene bisa ikut membantu upaya pengurangan angka kemiskinan.

“Wah Sombori ini luar biasa potensinya. Jangan tunggu objek wisata ini dikelola asing,”katanya. (mdi/paluekspres)