Surat Terbuka Untuk Seluruh Peserta Munas VI HA IPB 2021. Pak Rektor IPB, bertindaklah, Pak…

  • Whatsapp
Razaini Taher/G21. 0788)/ foto: istimewa

PALUEKSPRES, BOGOR- Walneg S Jas, akhirnya resmi terpilih sebagai Ketua Umum Himpunan Alumni (HA) IPB periode 2021-2025.

Melalui proses panjang dan melelahkan Bekas Sekjen HA IPB periode sebelumnya itu bersama pasangannya Sukma Kamajaya terpilih secara voting dalam Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung di gedung International IPB Convention Center (IICC) Bogor, Minggu (19/12/20) hingga Senin (20/12/2021) dini hari.

Seorang Alumnus IPB menuliskan surat terbuka terhadap proses Munas VI yang sempat diwarnai ketegangan pada proses pembahasan tata tertib dan pemilihan pimpinan sidang. Berikut ini tulisan terbuka itu:

Pak Rektor, Anda Bertindaklah. Kebohongan itu Benar Adanya

Saya memberikan tanda kepada seorang pengurus DPP HA IPB agar menepi ke sisi dinding ruang sidang. Kepadanya saya katakan: “Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat tercela. Tidak bermoral. Dilakukan oleh Ketua Sidang Munas VI HA IPB 2021.

Saya tatap wajahnya dalam-dalam sambil berucap: “Inilah yang kalian pertontonkan malam ini di depan Sidang Munas yang terhormat. Seluruh peserta sidang kalian bohongi. Perbuatan yang sangat jahat sekali.”
Dia masih termangu ketika saya tinggalkan. Padahal beberapa saat sebelumnya, yang bersangkutan dengan bangga menyapa dan memberikan komentar atas kehadiran saya. “Aku terus terang Chay, senang liat kamu ikut Munas, atau bahkan Rakernas. Biar kamu tahu suasana sesungguhnya,” demikian ujarnya.

Ya, beruntung saya hadir penuh pada Munas kali ini, sebagai salah satu utusan dari DPD Yogyakarta yang memiliki hak suara. Karena Tuhan menunjukkan kepada saya dengan jelas dan terang suasana yang sesungguhnya itu. Kalau selama ini saya menulis surat terbuka hanya berdasarkan data tertulis yang kemudian saya uji kebenarannya. Maka sekarang surat terbuka itu saya tulis berdasarkan pengalaman langsung.

Setelah keempat kandidat menjelaskan visi dan misinya, maka kami dari peserta Munas yang memiliki hak suara diberi kesempatan untuk berbicara. Saya sengaja tidak mengambil kesempatan untuk memberikan tanggapan. Setelah itu Ketua Sidang memberitahukan kepada kami semua, bahwa ada tanggapan dari peserta daring (online) dari Karawang. Lantas peserta dari Karawang itupun memberikan komentarnya. Tumben gambarnya jernih dan suaranya terang? Tidak seperti biasanya.

Usai itu, saya ke luar ruangan, karena akan ada penundaan sidang untuk memberikan kesempatan kepada keempat kandidat melakukan musyawarah.
Eh, saya berpapasan dengan dengan seseorang di luar ruang sidang.

Lho katanya Anda dari Karawang, kok ada di sini?
Dengan ringannya dia menjawab: “Itulah teknologi”. Lantas berlalu sambil cengengesan.

Astaghfirullah. Kita dibohongi. Orang yang katanya dari Karawang itu ternyata ada di dalam ruang sidang itu sendiri. Ketua Sidang telah membohongi kita semua. Terima kasih Tuhan. Tuhan malam itu telah menunjukkan benang merah dari ke delapan
surat terbuka saya sebelumnya. Melalui kebohongan yang saya lihat sendiri malam ini. Ternyata memang telah terjadi degradasi moral dan integritas di semua level kepengurusan HA IPB kita ini.

Sejak dari pengurus yang berdalih dalam melakukan perubahan AD dan ART. Hingga Notulensi Rapat Dewan Pembina YAPI yang sarat dengan kejahatan itu. Dan sekarang degradasi moral dan integritas itu ditunjuk
kan oleh Ketua Sidang Munas VI HA IPB 2021, dan oknum dari Karawang, melalui kebohongan di atas. Melalui perbuatan di atas, mereka telah menodai almamater kita. Jadi tidak salah kiranya saya menolak tanpa catatan LPJ DPP HA IPB 2017-2021. Pada awalnya kami, DPD Yogyakarta, menerima dengan catatan. Tapi karena Pengurus DPP tidak dapat membuktikan kebenaran dan keabsahan alasannya mengubah AD dan ART, maka saya menolak LPJ tersebut.

Apa sesungguhnya tujuan Ketua Sidang Munas membohongi kita semua? Sekadar bermain-mainkah? Ini kan acara yang sangat serius. SIDANG MUNAS! Atau ada maksud lain? Apapun itu, rasanya tidak bisa diterima oleh akal sehat kita.

Pak Rektor IPB, bertindaklah, Pak. Sampai kapan Bapak mendiamkan kejahatan yang berulang di HA IPB ini? Saya paham dan mengerti, kalau kekeliruan yang terjadi pada Notulensi Rapat Dewan Pembina YAPI itu, barangkali Bapak tidak sempat membacanya, sebelum Bapak menandatangani Notulensi tersebut. Tapi sekarang silakan Bapak melihat video Sidang Munas yang saya maksudkan di atas. Silakan pula Bapak menghubungi Ketua Sidang Munas yang sudah membohongi kami semua tadi malam untuk memeriksa kebenarannya. Juga oknum yang cengengesan dan merasa tidak bersalah itu. Saya juga punya saksi, Pak Rektor. Saksi yang mendengar saya bertanya kepada oknum dari Karawang itu. Saksi tersebut hanya tersenyum kecut saat itu.

Dini hari, sesampai di rumah, entah kenapa saya teringat pada jaket almamater. Saya cari jaket almamater yang sudah lusuh itu. Saya bongkar ijazah yang sudah menguning dari balik map biru berlogo IPB. Saya tatap dalam-dalam. Luruh air mata saya. Saya sangat mencintai lambang IPB itu. Juga orang tua saya. Kini logo itu menjadi tidak berharga karena ulah beberapa oknum di atas. Setelah saya peluk, saya kembalikan ke tempatnya semula. Jaket dan logo itu boleh lusuh, ijazah itu boleh menguning. Apapun yang terjadi saya tetap mencintai almamater saya. Tidak akan pernah mengkhianatinya. ***

Penutup
Mbak Puni, uda Audy, kang Atep, Anda harusnya bersyukur. Anda diselamatkan oleh Tuhan. Tidak terbayangkan oleh saya jika Anda menang dalam kondisi seperti saya ceritakan di atas. Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkan Anda bertiga. Terjawab sudah pertanyaan saya pada penutup surat terbuka saya sebelumnya: Apa Yang Kau Cari Puni, Audy, dan Atep? Tuhan sudah menjawabnya, malam ini. Ternyata keikutsertaan Anda ditakdirkan untuk membuka kotak pandora.
Meskipun Audy Joinaldy mundur demi menjaga kehormatannya. Tapi mbak Puni dan kang Atep tetap maju untuk konsistensinya dan tanggung jawabnya kepada konstituen, atau barangkali juga karena ada alasan lain. Kita hormati.

Mbak Puni, salam sayang saya buat anak-anak penduduk desa yang disinggahi. Ceritakan kepada mereka tentang Kasim Arifin dan semangat kejujuran serta integritasnya yang tak terbeli oleh jabatan dan uang. Tak butuh publikasi dan seremoni. Hidup adalah untuk mengabdi. Bukan sekadar mencari materi.
Uda Audy, salam sayang juga buat anak-anak uda. Semoga mereka cepat sembuh. Juga agar uda dimudahkan dalam sidang doktoral hari ini. Bisikkan kepada mereka bahwa martabat itu perlu dijaga dan dipupuk dari kecil. Agar mereka kelak tak tersandung oleh jabatan dan kuasa. Ajak mereka ke surau, uda. Agar mereka kelak tangguh.

Kang Atep dan kang Darom Rano Karno, tetaplah bersenandung. Konon seni itu mengasah akal dan budi kita. Untuk menjaga agar hati dan pikiran kita tetap lurus.
Selamat bertugas kembali di ladang masing-masing. Tetaplah jaga nama baik almamater kita.

Juga selamat kembali ke kampung halaman bagi para peserta Munas yang datang dari berbagai daerah. Terima kasih atas interaksi dan apresiasinya kepada saya selama Munas berlangsung. Semoga surat terbuka ini dapat menemani perjalanan pulang Anda. Sambil menimbang-nimbang, apa sesungguhnya yang Anda dapatkan dari Munas ini? Sekadar memilih Ketua dan Sekjen kah? Atau sesungguhnya ada hal lain yang lebih penting dari semua itu? Sesungguhnyalah kejujuran dan integritas Anda dipertaruhkan. Baik sebelum, selama, atau sesudah Munas. Apapun yang terjadi, tetaplah menjaga nama baik almamater kita.

Oh ya, kang Juhaeri di Amerika sana. Apa kabar? Anda mengikuti Munas kah? Kok saya tidak melihat wajah Anda di layar zoom? Ada kendala cuacakah? Padahal dari beberapa zoom yang kita pernah bersama hadir, pertanyaan akang sangat penting bagi perkembangan HA IPB ke depan. Semoga sehat dan sukses di sana ya, kang. Tetap semangat dan menjaga nama baik almamater kita ya, kang. ***

Salam hormat
Razaini Taher
(G21. 0788)

Pemprov Sulteng

Pos terkait