Minggu, 5 April 2026

Kecamatan Balinggi dan Parigi Selatan Jadi Contoh Penerapan Program IP 400. Ini Tujuannya

Seorang petani di Parimo melakukan penyemprotan di lahan sawahnya/ foto: Aswadin/ PaluEkspres

PALUEKSPRES,PARIMO – Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Hadi Safwan mengatakan, dua Kecamatan di daerah itu masuk dalam ujicoba program Indeks Pertanaman (IP) padi 400 dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman pangan khususnya padi.

“Indeks pertanaman 400, perdana diterapkan Parigi Moutong, sesuai instruksi Kementerian Pertanian,” kata Hadi Safwan kepada wartawan di Parigi, Jumat (4/2/2022). 

Menurut Hadi, dua wilayah yang masuk dalam uji coba tersebut, adalah Kecamatan Balinggi Seluas 5000 hektare dan Kecamatan Parigi Selatan 500 hektare sebagai lumbung pangan wilayah tersebut.

Ia menjelaskan, program dicetuskan oleh Kementerian Pertanian ini, di uji coba pada 5.500 hektare lahan yang mana sistem IP 400 mendorong petani empat kali panen dalam setahun agar produktivitas mereka lebih meningkat.

Sementara, Kepala Unit Pelaksana Teknis Badan Penyuluh Pertanian (UPT-BPP) Kecamatan Parigi Selatan, Ramadhan Firman menjelaskan, dari 66 kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Parigi Selatan, sepuluh kelompok diantaranya menjadi sasaran uji coba indeks pertanaman.

“Salah satu terobosan yang dilakukan Kementerian pertanian saat ini, yakni menggunakan skema pola tanam padi IP 400, yang dikelola melalui klaster kawasan berbasis korporasi petani untuk meningkatkan produksi beras nasional,” jelas Ramadhan.

Kata dia, Parigi  Moutong sendiri merupakan salah satu daerah penopang ketahanan pangan di Sulawesi Tengah, dan menjadi sasaran pola tanam IP 400, dengan harapan petani lebih produktif, sekaligus memberikan dampak positif terhadap peningkatan ekonomi petani.

Ia menjelaskan dalam uji coba ini, Kementerian Pertanian juga telah menyediakan benih varietas unggul seperti Dodokan, Siluginggo dan Inpari-1, termasuk upaya pengendalian hama terpadu dilakukan lebih operasional, serta pengelolaan secara terpadu spesifik lokal, dan menajemen tanam dan panen secara efisien.