Kebijakan berubah lagi. Teknologi IT ikut serta. Ada perangkat program bernama eHac. Boleh diisi secara mandiri. Masih tidak masalah. Meskipun orang awam mulai kesulitan mengadaptasi sistem ini via handphone. Kini datang lagi perangkat sistem yang baru. Namanya, “PeduliLindungi”. Pada saat kita melakukan tes covid antigen atau PCR, data kita langsung muncul di perangkat sistem program tersebut. Terbaca melaui barcode yang terlihat di layar mobile phone kita. Saya pikir, ini juga simple dan canggih secara IT. Orang dengan level pengetahuan apa pun terlayani dengan mudah.
Masalahnya menjadi rumit ketika adanya keharusan untuk memvalidasi secara digital di Bandara. Mengapa bukan barcode PeduliLindungi itu saja yang menjadi bukti kevalidannya. Atau, diintegrasikan dengan eHAC sehingga check ini bandara menjadi sederhana semudah check out saat tiba.
Indikator kualitas pelayanan publik itu adalah sederhana dan terintegrasi.
Coba perhatikan, saat tes Covid, nama dan Nik KTP kita sudah dicatat. Hasilnya, keluar barcode. Saya berfikir, mengapa bukan barcode ini saja yang dijadikan bukti validasi. Toh, pernah hanya andalkan kertas dan tandatangan dan cap dari petugas. Tetap bisa. Sekarang pun, kalau input gagal, dibolehkan lagi cap dan tanda tangan. Jadi, sebenarnya apa yang menjadi tujuan dari kerumitan administrasi covid ini ?
*****
Tentu, saya bukanlah ahli IT di bidang ini. Tapi, setelah membaca tujuan dari sistem eHAC dan PeduliLindungi yang kabarnya sudah diintegrasikan ini, saya merasa tidak menjawab keluhan publik ini.
Faktanya, produk IT tersebut tidak lebih membantu dari pola kerja manual sebelumnya.
Orang masih antri panjang. Kepanikan mulai muncul. Panggilan untuk naik pesawat telah diumumkan. Petugasnya baru satu orang yang datang. Saat itulah saya berteriak. Mana petugas..? Tidak ada jawaban. Dan, saya sudah harus masuk karena panggilan kedua untuk naik pesawat terdengar jelas. Selanjutnya, saya tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan penumpang yang masih bermasalah dengan input nomor identitasnya.
Di dalam pesawat saya merenung dengan sangat kesal. Kapan ya, pelayanan publik di negeri kita ini bisa memberikan kepuasan optimal? Karena itu, artikel ini saya tulis.
Paling tidak, ada tiga hal yang bisa diandalkan untuk kualitas sebuah pelayanan publik (public services). Pertama, perangkat alat (tool). Kedua, manusia (man). Dan ketiga, sistem (system). Urutannya bisa diputar balik. Kejadian pagi hari ini melibatkan ketiga-tiganya.
Ada sekitar tiga perangkat komputer siap beroperasi. Tapi, petugasnya tidak hadir. Orang terpaksa mengoperasikannya sendiri. Sesungguhnya bagus untuk pelayanan publik yang mandiri (self service). Tapi itu, tidak bisa diterapkan serta merta. Butuh edukasi, pendampingan dan pembiasaan dalam batas waktu terukur. Bukan pembiaran yang berujung kekacauan.






