***
Tahun 1995, saya memasuki satu toko fotocopy di sebelah kampus ku, Lyon 3 Perancis. Ada lebih sepuluh perangkat mesinnya. Kita melapor ke petugas, membeli kartu dan minta izin menggunakan mesin foto copy tertentu sesuai nomor urut. Operasionalnya dilakukan sendiri. Selesai, langsung lapor dan membayar.
Mereka yang belum pernah tahu, diajari hingga mampu. Pelayanan publiknya menjadi efektif dan efesien karena melibatkan partisipasi pelanggan. Sistemnya dibentuk dan terbentuk.Kepuasan tercipta.
Mesin fotocopy adalah contoh yang sangat sederhana dengan resiko kecil. Itu saja, butuh pendampingan. Apalagi, input antigen yang beresiko besar. Harusnya, pendampingan lebih intensif. Saya menduga saja. Jangan-jangan, petugas kesehatan ini kewalahan melayani setiap hari. Layaknya, mereka harus datang ke bandara lebih awal dari penumpang. Persoalannya, seimbangkah apresiasi insentif yang mereka terima?
Khawatirnya, mereka juga menjadi korban dari sistem yang relatif tidak terintegrasi ini.
Namun, apapun alasannya, pelayanan publik harus bermutu. Karena untuk itulah, tiap bangsa butuh pemerintah. Dan, bangsa yang beradab, bisa diukur dari kualitas pelayanan publik yang baik.
Sedangkan, kualitas pelayanan publik yang handal adalah cerminan dari penyelenggara yang bermartabat. Maka, marilah berlomba menjadi bangsa yang beradab dengan pemerintah yang bermartabat. Agar, rakyat menjadi bangga karenanya. Wallahu a’lam bi syawab..🤲🤝
(Penulis adalah Associate Profesor bidang Ekologi Manusia di Faperta Universitas Tadulako)






