Oleh Tasrief Siara
SETIAP perayaan Tahun Baru Saka, ada rangkaian ritual wajib di lakukan: menjalani prosesi Nyepi.
Bagi saudara kita umat Hindu, apalagi di Bali, Nyepi identik dengan waktu untuk seharian berdiam di rumah tanpa aktivitas keduniawian.
Nyepi itu adalah ajakan untuk kita semua untuk rehat sejenak dari hiruk-pikuk mengejar simbol-simbol materilisme dunia.
Pasti banyak diantara kita dalam aktivitas kesehariannya, rasa-rasanya waktu begitu cepat berlalu.
Semua itu karena padatnya pekerjaan yang menuntut adanya pengendalian cepat dan penanganan langsung. Sekali lagi ini untuk mengejar simbol-simbol materialisme dunia.
Mereka, dan saya, mungkin juga anda, telah menjadi bagian dari orang-orang yang selalu “terjebak” dalam rutinitas pekerjaan saban hari.
Terkadang tanpa sadar kita terperangkap dalam ketegangan teknis. Dari situ tensi naik tanpa hambatan.
Lebih ekstrim lagi, kita kehilangan fungsi sosial kemanusiaaan karena tuntutan pekerjaan yang padat, akhirnya relasi dan interaksi sosial kita juga menjadi serba terbatas.
Kita selalu dituntut mengejar deadline sesuai schedule yang sangat rapat dan padat.
Terkadang, ada kawan sedang terbaring di rumah sakit atau di rumah, biasanya kita tak punya waktu untuk sekedar menyapa atau datang memberi semangat. Tau-taunya kawan kita telah berlalu, dan kita baru menyadari itu.
Jangankan dalam lingkup sosial kemasyarakatan, dalam lingkungan internal keluarga saja, relasi kita, khususnya terhadap anak-anak terkadang serba terbatas.
Kita bangun pagi anak-anak sudah bersiap ke sekolah. Kita pulang kerja, anak-anak sudah tertidur.
Padahal, untuk mencetak kualitas sumberdaya dan kepribadian pada anak, sangat tergantung dari seberapa sering kita menyediakan waktu yang cukup untuk membangun interaksi dan komunikasi insania yang nantinya akan memberi efek terhadap tumbuh kembangnya kepribadian anak terhadap lingkungannya, budayanya, agamanya, bangsanya dan sebagainya.
Dari fenomena keseharian yang digambarkan itu, rasa-rasanya kita perlu menyediakan satu ruang, atau satu kesempatan (waktu) untuk berefleksi diri, kalau dalam agama Islam disebut dengan bermuhasabah. Dalam keyakinan saudara kita yang beragama Hindu, secara khusus telah menyediakan ruang dan waktu untuk itu, disebut dengan Nyepi.
Sepadat apapun aktivitas kita dalam satu tahun, atau satu bulan, bahkan dalam satu pekan, rasa-rasanya kita perlu menyediakan waktu untuk merenung diri, apa sesungguhnya yang kita kejar selama ini, dan hendak kemana kita sesudahnya.
Prosesi Nyepi itu adalah saat untuk perenungan diri, sudah sampai dimana progress kehidupan yang kita capai, seperti apa hasilnya. Apa memberi efek kebaikan, atau justru sebaliknya, memberi dampak yang buruk buat dunia dan kemanusiaan.






