oleh

Waduh, Korea Utara Usir Dubes Malaysia dari Pyongyang

PYONGYANG, PE – Ketegangan antara Malaysia dan Korea Utara belum surut. Setelah Duta Besar Korut untuk Malaysia, Kang Chol, meninggalkan Kuala Lumpur Senin (6/3) kemarin, Pyongyang mengusir secara halus Duta Besar Malaysia untuk Korut, Mohamad Nizan Mohamad.

”Kementerian Luar Negeri DPRK (Korut) memutuskan bahwa Dubes Malaysia untuk DPRK tak lagi punya hak untuk tinggal di negara ini. Kami mengimbau Dubes tersebut segera meninggalkan DPRK,” terang juru bicara kementerian seperti dilansir kantor berita KCNA Senin malam waktu setempat (6/3).

Nizan punya waktu 48 jam untuk berkemas sebelum meninggalkan Kedutaan Besar Malaysia di Kota Pyongyang. Pada 20 Februari lalu, sekitar sepekan setelah kematian Kim Jong-nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 (KLIA2), Nizan juga pernah pulang ke Malaysia.

Saat itu, Perdana Menteri (PM) Najib Razak memanggil diplomat tertingginya di Korut setelah Kang Chol menuding Kuala Lumpur berkonspirasi untuk menjatuhkan citra Pyongyang. Tapi, Nizan lantas kembali ke tempat tugasnya lagi.

Kini, setelah Kang Chol meninggalkan Malaysia bersama istri dan putranya yang berusia 5 tahun, Pyongyang mengusir Nizan sebagai balasan.

Kemarin Kang Chol meninggalkan Kedutaan Besar Korut di Bukit Damansara dengan menumpang Jaguar hitam. Replika bendera Korut dalam ukuran kecil yang semula tertancap di kap mobil tersebut sudah dicabut.

Dengan pengawalan ketat, diplomat 64 tahun itu tiba di KLIA dan langsung check-in di konter Malaysia Airlines kelas ekonomi. Dia membagasikan tiga koper, empat kardus berbungkus plastik, dan satu televisi. Dia juga membayar kelebihan bagasi 7.000 ringgit atau sekitar Rp 20,9 juta. Pesawat MH360 yang akan menerbangkan Kang Chol ke Beijing lepas landas pada pukul 18.25 waktu setempat.

Kemarin toleransi waktu bagi Kang Chol untuk berada di Malaysia berakhir pada pukul 18.00 waktu setempat. Pada jam itu, dia masih berada di KLIA karena pesawatnya baru meninggalkan landasan sekitar 25 menit kemudian. Sebelum naik pesawat, bapak dua anak yang pernah bertugas di Somalia dan Etiopia itu sempat berbicara di hadapan media tentang pengusirannya dan investigasi kasus pembunuhan Jong-nam.

”Penyelidikan yang dilakukan oleh Kepolisian Malaysia itu sudah diatur sebelumnya,” tuduh Kang Chol. Dia yakin, investigasi yang masih berlangsung hingga sekarang tersebut rekayasa belaka. Sebab, tujuan utama Malaysia hanyalah menjatuhkan reputasi baik pemerintahan Kim Jong-un. Tuduhan yang sama dilontarkan Ri Jong-chol, pria Korut yang sempat ditetapkan sebagai tersangka, tapi lantas dideportasi.

Hingga sekarang, Korut tidak mengonfirmasikan identitas korban pembunuhan yang mengantongi paspor dengan nama Kim Chol tersebut. Malaysia pun tidak pernah memastikan bahwa pria 45 tahun yang tewas akibat racun VX itu adalah Jong-nam. Tapi, sejumlah kalangan dan media meyakini korban sebagai kakak Jong-un yang selama ini menetap di Makau.

Dalam jumpa pers singkat di KLIA itu, Kang Chol kembali menyatakan bahwa Malaysia berkonspirasi dengan musuh-musuh Korut untuk membuat Pyongyang terlihat buruk. ”Mereka mengautopsi jasad korban tanpa minta izin DPRK dan tanpa menghadirkan saksi dari pihak kedutaan. Mereka juga menangkap dan menahan warga DPRK selama beberapa hari tanpa bukti kuat,” kritiknya.

Najib yang berang saat kali pertama mendengar tuduhan Kang Chol tidak kaget dengan sikap sang diplomat yang hingga menit terakhirnya di Malaysia masih tetap meyakini tuduhannya sebagai kebenaran. Kemarin pemimpin 63 tahun itu mengaku tidak mengharapkan lagi permintaan maaf dari Korut. Awalnya, dia memang menuntut Pyongyang meminta maaf atas tuduhan yang Kang Chol lontarkan.

”Sampai saat ini, kami tidak mendapatkan apa yang kami inginkan (dari Korut). Maka, saya tidak lagi berharap apa pun dari mereka,” katanya.

Seperti saran Wisma Putra (sebutan untuk Kementerian Luar Negeri Malaysia), Najib pun akan meninjau ulang hubungan dua negara. Sejak pertengahan Februari, kemesraan Malaysia dan Korut yang menonjol pada 2009 itu memudar.

(Fajar/jpnn/PE)

News Feed