Ia menyatakan Bina Imtaq yang diterapkan hampir sama konsepnya dengan pesantren kilat yang didalamnya terdapat tausiyah agama, pelajaran tafsir hadits, baca tulis Al-Qur’an, kaligrafi, dan beberapa hal yang berhubungan lainnya.
Bina Imtaq tersebut bukan hanya berlaku bagi agama Islam, namun juga bagi agama lainnya, sehingga ada namanya Sekolah Minggu, tidak lagi dilaksanakan hari Minggu, tetapi semua dilaksanakan di hari Jumat.
Sehingga, katanya hari Senin – Kamis, betul-betul dimanfaatkan untuk pelajaran umum dan hari Jumat dikhususkan untuk pendidikan agama.
Sementara pada hari Sabtu dan Minggu, lanjutnya pihak sekolah tidak lagi membebani para siswa dengan tugas, sehingga anak-anak dapat beristirahat dan membangun kebersamaan yang berkualitas dengan keluarga terkhusus orang tuanya.
“Pemerintah Kota Palu memandang penting bahwa hal ini harus dilakukan. Terlebih saat ini dunia informasi betul-betul tidak memiliki tabir lagi. Anak-anak kita betul-betul dikepung sedemikian rupa, sehingga sulit bagi orang tua untuk memberikan pendampingan yang kuat bagi mereka,” ungkapnya.
Wali Kota menyatakan penguatan mentalitas agama bagi anak-anak sangat dibutuhkan untuk membangun anak-anak yang sejak dirinya sudah diberikan penguatan-penguatan agama.
“Agar mereka selalu mengingat dan memiliki pedoman yang jelas bahwa mereka mengetahui mana yang boleh, mana yang tidak boleh,” tambahnya.
Ia berharap rapat kerja yang dilaksanakan dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang menjadi sumbangan besar Kantor Kementerian Agama Kota Palu kepada masyarakat secara keseluruhan. (aaa/PaluEkspres)






