Demikian pula halnya dengan pernikahan remaja putri telah menghabiskan masa lajangnya rata-6 20,04 tahun.
Selain itu pemakaian kontrasepsi jangka panjang telah meningkat. 1 dari 4 Pasangan Usia Subur (PUS) peserta KB adalah menggunakan metode jangka panjang.
Secara umum ternyata penggunaan alat KB atau kontrasepsi di Sulteng baru mencapai 53,3 persen. Selain itu, kebutuhan ber KB yang belum terlayani masih tinggi 20,70 persen.
“Saya berharap 20 persen yang belum ber KB ini digarap dengan serius untuk meningkatkan prevalensi angka pengguna KB dari daerah kita ini,”
Pada bagian lain, Muliono menyebut tahun 2021 BKKBN telah melaksanakan Pendataan Keluarga (PK21). Hasil PK21 menyediakan data mikro yang mencakup 3 aspek Bangga Kencana.
Dari data PK21 dapat terlihat bahwa di Sulteng terdapat 733.776 keluarga dengan 445.164 PUS atau 60,68 persen dari jumlah keluarga yang ada. Dan 29,73 persen lerem dari PUS tersebut kawin dibawah umur 19 tahun atau usia anak.
Gubernur lanjut Muliono berharap hasil PK21 dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Sulteng dengan dijadikan sebagai landasan kebijakan dan perencanaan program pembangunan.
Muliono menambahkan bahwa terdapat 2 pekerjaan berat yang akan dihadapinya yang menuntut adanya sinergisme dan integritas program lintas sektor.






