Seingat saya, good governance menjadi satu masalah serius di kampus ini. Asal copot dan ganti orang dalam jabatan, sebagai contoh, telah menjadi “malapraktik” sejak relatif 10 tahun terakhir. Banyak yang diam saja. Diduga, ada yang memendam malu hingga sakit bahkan wafat. “Man Power planning” dalam spirit “merite system” tidak nampak. Padahal, ini tempat bercokolnya para ilmuan.
Sandarannya, hanyalah “like n dislike”. Memang, begitukah satu ciri nyata dari tabiat “oligarki”?
Entahlah, namun baru kali ini ada yang melawan. Nisbah, Angga dan Rusyadi bangkit membela haknya. Nisbah menang di 3 tingkat pengadilan. Rektor dihukum ganti rugi. Tim meminta 1,5 Milyar. Saya merenung. Apakah penasehat hukum Rektor tidak mengerti hukum? Kalah menang dalam perkara itu biasa. Tapi, karena para pembela Rektor ini semuanya adalah Dosen. Berperkara di ruang akademik lagi. Hemat saya, mestinya dengan kapasitas keilmuan hukum yg dimilikinya, sudah bisa memprediksi kelemahan pembelaan pada kliennya. Buktinya, kalah tiga tingkat pengadilan. Apakah saya salah berasumsi? Semoga pakar-pakar hukum di kampus ini bisa beri pencerahan. Penting, agar jadi pelajaran hukum yang diwariskan kepada generasi. Terutama, mereka yang sedang belajar ilmu hukum.
Bagi saya, ini bukan soal spekulasi hukum. Ini soal perjuangan hak (right) dan keadilan (justice). Berimba (bagaimana)? Kemarin, Rusyidi dilantik ulang adalah bukti konkritnya! Seingat saya, ini adalah hal yang belum pernah terjadi sejak universitas ini berdiri. Dan, Rektor Mahfud mengakuinya. Kecuali, kalau ada yang punya data bantahan. Semuanya bisa menjadi preseden abadi. “Lesson learn” berharga.
*****
Kasus Angga, si anak muda yang gigih perjuangkan haknya. Sekarang pun, masih bergulir di pengadilan. Dahulu, saya pernah bilang. Kasus Angga ini masuk kategori individu yang berhak dapat remunerasi karena status kelembagaannya, ada di SOTK Universitas Tadulako. Kalau sekarang, banyak dosen wajib pulangkan uang ke negara karena statusnya di luar SOTK. Maka, Angga dan ratusan dosen Non PNS lainnya adalah kebalikannya. Andaikata, ratusan dosen ini punya mental juang (fighting spirit) seperkasa Angga. Pasti lebih dahsyat. Tapi, sudahlah. Biarlah jadi sejarah saja.






