Warung Kopi & Eskalasi Politik

  • Whatsapp
Diskusi di sebuah Warung Kopi di Buol/ foto: istimewa

H Sofyan Farid Lembah

SENJA di Kota Leok kabupaten Buol jelang datangnya waktu Maghrib sungguh menarik perhatian. Suara Toa Masjid Agung kumandangkan ayat suci Al Qur’an sungguh menyejukkan. Keras tapi syahdu menguatkan batin insan yang sedang berpuasa di ujung waktu. Tak peduli imbauan Menteri Agama soal Penggunaan pengeras suara. Tak ada juga masyarakat yang protes. Justru inilah suasana kebatinan Ramadan yang dirindukan dan penuh berkah.

Di sudut dekat simpang jalan dekat Kantor Polres Buol, di sebuah Warung Kopi ada geliat anak-anak muda sibuk menyiapkan dan mengatur kursi dan meja untuk perhelatan buka puasa bersama. Satu persatu peserta berdatangan, para tokoh masyarakat, anak-anak muda aktivis HMI mulai mengisi kursi yang tersedia.

Bacaan Lainnya

Tak terlalu banyak audiens, tapi satu hal para tokoh yang hadir itu bukan orang-orang biasa, para pendekar nampaknya turun gunung maklum ahlul baitnya adalah Bung Ibrahim Timumun. Tokoh gaek mantan politisi yang masih menampakkan aura ketokohannya.

Waktu terus berjalan diskusi pun berlangsung, dari isu kekeluargaan, kangen kangenan hingga ke isuehangat soal PILKADA 2024. Tentu ini wajar karena kabupaten ini akan menggelar Pilkada serentak 2024 memilih penguasa baru. Banyak pertanyaan siapa kertaker kelak? Figur yang mereka inginkan dan harapan lahirnya kader Buol asli yang lolos memimpin kabupaten yang sempat digoyang isu bakal hengkang bergabung dengan Gorontalo.

Diskusi terhenti berganti dzikir jelang waktu berbuka. Tak ada keputusan dan simpulan. Semuanya mengalir layaknya diskusi di Warung Kopi.

Safari Ramadan tahun ini memang beda. Pilkada 2024 di kabupaten Buol menjadi perhatian seluruh pihak termasuk Ombudsman. Bukan hanya mempersiapkan kualitas penyelenggara Pilkada baik BAWASLU maupun KPU, juga siapkan Cipta Kondisi pengamanan dengan mendorong pihak POLRES untuk bisa laksanakan pelayanan publik yang berkualitas, termasuk di dalamnya membaca aspirasi dan harapan masyarakat Buol agar deteksi dini dinamika politik bisa terpetakan yang pada akhirnya mengantar proses demokrasi yang lebih berkualitas.

Kegelisahan seorang Ibrahim Timumun dan Rizal Min’un adalah sebuah signal positif bahwa orang Buol inginkan perubahan yang lebih baik. Banyak tokoh masyarakat harus didengar termasuk suara Yang Mulia Raja Buol.
Tugas bersama para elit politik di partai untuk memasang telinga untuk mendengar. Suara Rakyat harus didengar secara seksama.
Warung Kopi adalah salah satu sarana yang pasti menjadi mimbar bersama tumpahnya aspirasi. Eskalasi politik akan terus naik seiring syahwat politik masyarakat keseluruhan.

Secangkir kopi saya yakin mampu mengontrol emosi, seteguk demi seteguk hingga eskalasi politik berjalan sesuai harapan bersama. Patut dipahami, Jangan ajar masyarakat Buol berpolitik. Orang Buol sejak lama piawai dalam berdemokrasi.***

(Penulis adalah Kepala Kantor Ombudsman Perwakilan Sulawesi Tengah)

Pos terkait