Koran-Koran Lebaran

  • Whatsapp
Muhd Nur Sangadji. Foto: Dok

Oleh, Muhd Nur Sangadji
(Email ; muhdnursangadji@gmail.com)

DALAM hidup saya dari SMP sampai SMA, rasanya saya hanya bisa baca koran dua kali setahun. Saat Idul Fitri dan Idul Adha. Inilah kesempatan berharga yang tidak pernah saya sia-siakan. Koran-koran ini berhamburan di lapangan, usai shalat Ied. Lebih sering di lapangan sepakbola Gelora Kie Raha Ternate Maluku Utara, tempat kami berdomisili.

Sudah lupa dengan siapa. Tapi, saya termasuk yang paling terakhir pulang. Itu karena saya harus mengumpulkan Koran-Koran bekas itu lebih dahulu. Tentu, bukan untuk dijual kembali. Sebab waktu itu, rasanya belum ada jasa beli koran bekas. Kalaupun ada, mungkin saya tidak menjualnya. Saya kumpul koran ini semampu yang bisa dibawa pulang. Semua koran ini saya tumpuk di rumah. Sesudah itu, dibaca satu persatu sampai habis.

Bacaan Lainnya

Pemprov Sulteng

Banyak jenis korannya. Namun yang paling saya ingat adalah Berita Yudha, Kompas dan Suara Pembaharuan. Kalau majalah, saya sering membaca Panji Masyarakat dan Suara Masjid karena dua ini yang bisa ditemukan gratis di Masjid. Semua berita saya lahap. Bahkan, cerita bersambung yang paling saya gemari adalah rubrik wayang yang ditulis di sudut bawahnya koran Berita Yuda.

*****

Ada juga satu tulisan di koran Kompas yang sangat saya gemari. Walaupun kurang mengerti alias puyeng setelah membacanya. Saya tetap setia membaca. Penulisnya bernama M.A.W. Brouwer. Nama lengkapnya Martinus Antonius Weselinus Brouwer. Beliau yang lahir di Delft dan meninggal di negeri Belanda itu, adalah seorang fenomenolog, psikolog, budayawan yang sangat dikenal karena kolom-kolomnya yang tajam, sarkastik dan humoris di berbagai media cetak Indonesia tahun 70 sampai dengan 80-an.

Belakangan saya dapat cerita dari sahabat saya, Tasrif Siara. Beliau kabarkan mengenai seorang penulis lain yang mengulas tulisan Brouwer. Dialah Mahbub Junaidi yang adalah seorang sastrawan Indonesia. Entah bergurau atau serius. Mahbub Junaidi pernah sebut, hanya ada dua orang yang mengerti tulisan-tulisannya Brower. Yaitu, dia (Mahbub) dan Brower Sendiri.

Pemprov Sulteng

Pos terkait