Minggu, 5 April 2026

Daya Saing Industri Udang Lemah Perlu Peran Pengusaha Muda

Dr Hasanuddin Atjo/ Istimewa

Produk siap saji PT Bomar, memenuhi permintaan pasar Jepang, Uni Eropa maupun Amerika Serikat. Bahkan China dan beberapa negara lain mulai melirik produk sejenis ini. Dan ini menjadi peluang dan sekaligus mendorong agar unit pengolahan ikan atau UPI termasuk udang berorientasi pada produk nilai tambah.

Tigor mengeluhkan bahwa, volume suply bahan baku jadi salah satu tantangan serius untuk menaikkan produktifitas unit pengolahannya. Untung saja di saat ini 100 persen produk UPInya adalah olahan yang bisa mengirit bahan baku sampai 50 persen. oleh karena selebihnya adalah tepung roti yang juga bisa dibuat sendiri yang sebelumnya harus di impor dari Thailand atau Vietnam.

Secara terpisah ketua FUI, Forum Udang Indonesia, Budi Wibowo di satu kesempatan bahwa dari 550 ribu ton kapasitas UPI dalam negeri baru sekitar 350 ribu ton yang bisa di suply, masih kurang 200 ribu ton. Dan itupun baru sekitar 40 persen diolah menjadi produk yang bernilai tambah. Hal ini juga jadi tantangan program revitalisasi.

Tigor juga menyayangkan mutu bahan baku, secara umum belum sesuai harapannya, karena selain jauh (ribuan kilometer dari Makassar seperti dari Sulteng, Sultra bahkan Kalimantan), waktu tempuh juga lama sampai dua atau tiga hari karena faktor infrastruktur logistik yang belum memadai.

Dan tidak kalah pentingnya adalah penanganan pascapanen. Masih banyak dilakukan kebiasaan salah oleh pedagang perantara, seperti udang ditiriskan agak lama, agar kadar air berkurang saat ditimbang di tambak. Selain itu udang dengan sengaja direndam di dalam air es hingga 2-3 hari agar mendapat tambahan kadar air.

Dalam diskusi itu juga disinggung bagaimana mempersiapkan SDM yang akan bekerja di hulu, produksi dan hilir dari industrialisasi udang. Dan di saat Tigor mengemukakan rencana membangun “bourding scholl”, langsung dapat dukungan dari Imelda JK, generasi milenial dan salah satu penerus dari usaha Kalla Group yang ikut hadir dalam pertemuan terbatas itu.

Saya menjadi pembicara terakhir dalam pertemuan itu. Dan memulai bahwa saatnya generasi milenial didorong masuk ke dalam industri udang, karena sebentar lagi sekitar tahun 2028-2030 Indonesia dapat bonus demografi yang harus bisa dimanfaatkan bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat oleh generasi milenial.

Beberapa saat setelah dilantik jadi ketum HIPMI, periode 2019 -2022, Mardani H. Maming meminta saya, buatkan roadmap atau peta jalan industri udang nasional versi HIPMI. Peta jalan ini sebagai salah satu referensi penting mendorong agar pengurus HIPMI di daerah memiliki visi dan misi membangun industri udang nasional.

Kata Mardani bahwa ini hal penting karena industrialisasi udang bisa jadi andalan kita sebagai sumber devisa negara. Kita memiliki garis pantai terpanjang ke dua di dunia. Seharusnya menjadi juara dunia dan tidak kalah dari Equador, India dan Vietnam yang sumberdayanya jauh lebih kecil dari Indonesia.

Sebagai bentuk komitmennya, di awal Maret tahun 2022 saya diutus ke Amerika Serikat, mendampingi ketua umum HIPMI Jawa Timur, Rois Sunandar melihat dari dekat Seafood ekspo di Boston, sekaligus mengunjungi sejumlah lokasi yang relevan untuk menyempurnakan roadmap yang telah dibuat.

Ada tiga pendekatan utama yang menjadi fokus dalam roadmap itu yaitu di zona satu terkait genetika induk yang harus spesifik lokal agar lebih adaptif dan bisa tumbuh lebih cepat. Zona dua berkaitan dengan teknologi produksi yang ramah lingkungan serta konstruksi tambak yang efektif, karena kuat dan murah. Zona tiga berkaitan dengan pengembangan hilirisasi yang akan memperbesar value, atau nilai tambah.

Ketiga zona tersebut di atas harus difasilitasi, dikembangkan secara simultan, dan saatnya serahkan “tongkat estafet” kepada generasi milenial agar bisa berlari dengan cepat. Generasi intercect yaitu usianya non milenial tetapi pikiran adaptif dengan pikiran milenial masih diperlukan, menpercepat upaya transformasi di setiap zona.

Akhirnya, sesungguhnya ini relevan dengan harapan Presiden Soekarno “Berilah aku 10 pemuda, niscaya aku mampu mengguncang dunia.” Semoga ***