PALUEKSPRES, PALU– Laju inflasi Kota Palu pada bulan Juni 2022 mencapai 3,24 persen, tertinggi kurun empat tahun terakhir. Sementara inflasi bulan Mei terhadap Juni 2022 sebesar 0,29 persen.
Berdasarkan catatan yang diperoleh redaksi dari BPS Kota Palu, laju inflasi bulan Juni 2022 melampaui laju inflasi pasca-bencana Pasigala pada periode yang sama. Tercatat, laju inflasi pasca-bencana Pasigala pada periode Juni 2019 sebesar 2,13 persen. Selanjutnya, laju inflasi bulan Juni 2020 sebesar 0,60 persen. Dan, bulan Juni 2021 mencapai 0,52 persen.
Sedangkan Inflasi tahun ke tahun Juni 2022 terhadap Juni 2021 9 (y o y) sebesar 4,90 persen. Sementara inflasi Juni 2021 terhadap Juni 2020 (y o y) sebesar 1.73 persen, Juni 2020 terhadap Juni 2019 sebesar 0,98 persen dan inflasi Juni 2019 terhadap Juni 2018 sebesar 5,32 persen.
Kepala BPS Kota Palu G. A. Nasser mengatakan, selama Juni 2022, Kota Palu mengalami inflasi sebesar 0,29 persen yang dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga atau inflasi pada beberapa kelompok kebutuhan masyarakat.
Di antaranya, kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 4,05 persen. Selanjutnya, diikuti kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,04 persen. Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,77 persen, kelompok kesehatan 0,45 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,41 persen.
“Ini lima besar kelompok kebutuhan masyarakat yang mengalami kenaikan indeks harga atau inflasi,” kata Kepala BPS Kota Palu, G. A. Nasser melalui keterangan tertulis yang diterima media ini, Sabtu (2/7).
Sebaliknya kata Nasser, penurunan indeks harga atau deflasi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok pakaian dan alas kaki yang masing- masing memiliki indeks sebesar 0,09 persen. Sedangkan pada kelompok pendidikan pada bulan Juni terpantau stabil.
Nasser menambahkan, beberapa komoditas yang memiliki andil positif terhadap inflasi Juni 2022 di antaranya, cabai rawit sebesar 0,17 persen, kontrak rumah serta bawang merah 0,07 persen, lemari pakaian serta bioskop 0,06 persen, martabak 0,03 persen. Selanjutnya, jagung manis, tomat, pemeliharaan atau service serta deodorant masing-masing 0,02 persen.
Adapun komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi Juni 2022 di antaranya, ikan selar/ikan tude sebesar 0,17 persen, minyak goreng 0,05 persen, ikan ekor kuning serta ikan cakalang/ikan sisik masing-masing 0,04 persen. Kemudian, daging ayam ras 0,03 persen, wortel, sabun cair/cuci piring, udang basah, ikan teri serta bahan bakar rumah tangga masing- masing 0,02 persen. (bid/paluekspres)






