Minggu, 5 April 2026

Pelajaran Dari Bencana Banjir

Muhd Nur Sangadji. Foto: Dok

Karena itu, instruksi Gubernur untuk periksa hulu adalah tindakan yg sangat penting. Tentu, terlambat untuk kasus desa Torue. Tapi tidak untuk desa yang lain yang belum terjadi. Maka mulailah periksa hulu di semua kawasan. Mekanisme komunikasi dan informasi antar warga tentang kondisi hulu sangat urgent disadari. Petani, pekebun dan pengambil rotan dan kayu adalah individu terdepan yg harusnya tahu kondisi hulu. Karena, mereka setiap hari melewatinya. Kalau komunikasi itu terbangun, mestinya resiko ini bisa diminimalisir. Teknologi drone di era ini pasti ikut membantu. Bahkan, patroli helikopter secara periodik perlu dipertimbangkan. Intinya, hidupkan kepekaan (early warning), lalu bertindak sistematis dan kolektif.

***

Dalam satu seminar bersama para kepala desa di Sigi, saya mendapat cerita penting dan relevan. Satu waktu di Desa Omu, masyarakat melihat sungai kering mendadak. Oleh inisiatif kepala desa, Mereka pergi untuk memeriksa hulu. Didapatinya sungai tertimbun longsoran. Air terhalang. Jadilah bendungan alam akibat longsor. Air sungai telah tertahan banyak. Mereka lalu mengalirkan perlahan dan membuka barier tanah penghalang sungai.

Bayangkan, seandainya terlambat. Malapetaka pasti menimpa penduduk akibat banjir bandang. Jadi, bangun segera kepekaan warga dan pemerintah terhadap potensi bencana di setiap kawasan. Kalau tidak, kita hanya menunggu giliran. Cerita tentang Desa Omu tersebut adalah bukti masih hidupnya kepekaan dan inisiatif warga. itulah dua hal yang kalau sudah tidak ada lagi di masyarakat, sesungguhnya masyarakat itu telah mati. Dan, masyarakat yang kehilangan kepekaan dan inisiatif, amat rentan dilanda bencana. Janganlah..***

(Penulis adalah Assoc Prof Bidang Ekologi Manusia Universitas Tadulako)