oleh

M.A.N.D.A

BEGITULAH ia kerap disapa. Jamak pula ia dipanggil dengan Maria. Semua itu penggalan dari nama panjangnya Maria Amanda Yeane Sandipu. Begitu bila saya tak keliru. Sebagai sesama jurnalis, tentu saja, kami saling mengenal, meski tak kental. Perjalanan karir serta usia yang berjarak menjadi alasannya.

Saya mengenal Manda sebagai jurnalis yang diam dengan senyum yang menawan. Kami sama-sama anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu. Sejarah kami di AJI Palu berjarak satu dasawarsa. Saya menjadi satu dari tiga jurnalis AJI Palu yang menyeleksi Manda, lima tahun lalu. Simpulan kami: ia layak!

Persinggungan dengan Manda semakin dekat ketika ia bergabung dengan Harian Palu Ekspres (PE), empat tahun silam. Kini Manda adalah salah satu redaktur di harian itu. Di PE, saya bak seorang pembantu umum. Mulai dari menjaga halaman, menulis tajuk hingga menggelar klinik redaksi. Oya, saya juga terkadang menjadi Ombudsman di harian ini, tentu dalam skala yang minimal.

Manda kerap hadir dalam klinik redaksi saya. Kami berdiskusi mulai dari hal yang strategis hingga yang teknis belaka. Suaranya yang pelan tak menghilangkan gelora idealisme yang menggebu. Dia juga begitu rendah hati, sehingga kadang terkesan ia seorang jurnalis kemarin sore.

Jelas kesan itu keliru. Manda adalah seorang jurnalis perempuan dengan pengalaman yang bertumpuk. Liputan kejaksaan dan pengadilan adalah ladang garapannya bertahun-tahun, meski kini ia lihai dalam liputan perkotaan. Pengalamannya lengkap sebagai jurnalis.

Sebagai jurnalis, Manda seorang yang anti-kekerasan. Apalagi terhadap perempuan. Ideologi AJI memang dipegangnya erat-erat. Meski juga bukanlah seorang yang sempurna tanpa salah, juga khilaf.

Kehidupan rumah tangganya menjadi salah satu yang berjalan pincang, tak sempurna. Pertengkaran kerap dilaluinya. Air mata sering menjadi saksi keluhannya pada sohib atau pimpinan. “Ceraikan saja suamimu, Maria,” begitu kerap saran yang diberikan.

Manda menolak. Baginya, hanya kematian yang bisa memisahkan ia dari suaminya. Manda seorang Katolik yang taat. Ia menggenggam erat dogma ini apapun risikonya. Menceraikan suaminya tentu bisa menjadi solusi duniawi, tapi tidak bagi hatinya yang lembut. Manda betul-betul seorang Maria.

Hingga akhirnya, kabar itu datang Jumat (17/3) siang. “Maria meninggal,” suara di telepon mengabarkan. Saya tersentak kaget, dan tak percaya. Setelah memutus percakapan, saya menelepon kantor Harian PE. Konfirmasi saya dapatkan. Bahkan, adiknya, yang melapor, masih di ruang redaksi saat itu.

Kepada Manajemen PE sy meminta menemani adiknya melapor ke Kepolisian Sektor Palu Selatan. Saya juga mengirim pesan singkat kepada kawan di kepolisian ihwal ini. Harapannya, keadilan pada Manda segera mendapat jawaban awalnya.

Keadilan memang takkan membawa Manda kembali. Ia boleh jadi telah memeluk surga yang dirindukan. Keadilan justru untuk mencegah agar apa yang diderita Manda tak terjadi lagi. Dan, kami yang ditinggalkan, akan terus berjuang, menghapus kekerasan atas nama apapun itu.

Selamat jalan Manda. Kebaikanmu, dan senyummu yang indah abadi dalam kenangan kami.

(Amran Amier)

News Feed