oleh

Yakinlah, Wisata Buaya di Sungai Palu Ini Bakal Mendunia

Oleh:  Muhd Nur Sangadji

KORAN Palu Ekspres, edisi Rabu 15 Maret  2017, menurunkan satu berita yang sangat menarik. Sejumlah  tokoh masyarakat Kelurahan Lolu Salatan, Kota Palu, mengusulkan hamparan sungai di tempat tinggal mereka seluas 40 x 300 meter dijadikan  kawasan  wisata buaya.
Entah siapa yang memulai cara berpikir ini.  Tapi, menurut hemat saya ini lompatan berpikir yang sangat cerdas.

Cerdas karena memiliki beberapa hal luar biasa. Pertama,  secara ekologis ikut menyelamatkan satwa langka dalam habitat aslinya. Kedua, mengubah  bahaya menjadi manfaat. Ketiga, menghidupkan ekonomi  masyarakat dan kawasan dari potensi  sekitarnya.

Keempat, menggali potensi dari keunikan lokal untuk kemaslahatan lingkungan dan manusia.  Semua alasan ini mewakili kekayaan spesifik (the only one) yang sangat dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata.

Kalau kita mau jujur, semua potensi pengembagan pariwisata akan mengandalkan keunikan, kelangkaan serta kekhasan satu kawasan. Baik itu dari sisi alamnya (laut, danau, sungai, darat hingga udara) maupun   buatan atau  budayanya. Dari sisi budayanya  baik yang bersifat kontemporer, dogma, legenda hingga mistis sekalipun.

Dengan kata lain, mulai dari yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal bisa tersaji,  memproduksi devisa.

Gunung Biru di Sidney Australia adalah  contoh lagendaris yang tidak masuk akal, tapi menjadi ladang pariwisata yang memproduksi dolar Australia hingga kini. Transportasi  becak yang dibuang di Jakarta, di tampung di Kota Gotingen Jerman dan menjadi kendaraan  pariwisata dengan imbalan ongkos yang lumayan  mahal.

Pingguin, di Philips Island di dekat Melbourne Australia ditonton khalayak manca negara  tanpa tidur semalam suntuk di pinggiran laut.  Cukup susah payah pergi ke tempat ini, tapi  publik dunia berbondong hanya ingin melihat pingguin muncul dari laut menuju darat di subuh hari.

Di Perancis, kita akan disuguhkan gunung salju abadi (mount balance) yang tetap tersedia meskipun pada  musim panas. Satu kota kecil di Amerika ditinggal pergi oleh warganya hingga relative menjadi kota mati yang minim penghuni.

Suatu saat terpilih seorang wali kota yang mengembangkan visi baru, menjadi kota terdingin di Amerika serikat. Visi ini mencoba mengubah ancaman menjadi peluang dan kesempatan. Berbondonglah manusia datang untuk membuktikannya sehingga kota ini hidup kembali.

Dan, masih banyak contoh  lain yang sangat inspiratif. Sesungguhnya, mereka (di luar negeri) memilki obyek yang sangat sedikit, tapi berhasil menyulapnya menjadi bernilai tambah ekonomi luar biasa. Kita memiliki berhamburan obyek langka, unik, spesifik dan endemik, tapi belum optimal dikelolanya, bahkan cenderung membiarkannya punah.
Maka usulan warga masyarakat tentang wisata buaya ini patut diberi acungan jempol.  Masalahnya, begitu pulakah cara berpikir  kalangan pemerintah yang diberi amanah mengelola pariwisata di negeri ini..?

Walahualam.

Penulis adalah akademisi Universitas Tadulako

News Feed