oleh

Maria Amanda Yeane Sandipu

Oleh Tasrief Siara

SAYA baru mengenal nama lengkapnya: Maria Amanda Yeane Sandipu, justru ketika ia wafat secara mengenaskan. Selama ini hanya Manda atau Maria yang saya tau.

Ia berlalu begitu cepat dan tak terduga. Jumat siang kemarin akhir dari perjalanan hidupnya, juga mengakhiri ketukan terakhir dari tuts keyboard komputer di kantornya, Harian Palu Ekspres.

Sekira tiga tahun lalu, saya “ditugasi” oleh seorang kawan anggota Aliansi Jurnalis Independen  Palu untuk program peningkatan kapasitas jurnalis muda. Saya dipercaya untuk menfaslitasi – semacam membimbing- tiga jurnalis muda untuk melahirkan satu karya jurnalistik yang memenuhi  kaidah jurnalistik, juga memberi pengaruh pada publik, dan yang utama meningkatkan kualitas intelektual jurnalis.

Satu diantara jurnalis muda itu adalah Maria Amanda Yeane Sandipu.

Program peningkatan kapasitas jurnalis muda itu kerjanya lebih dari sebulan. Hanya Manda yang serius mengikutinya, dua kawannya seperti tak minat. Dari program ini saya sering berjumpa dan berdiskusi serius dengan Manda.
Saya menawari liputan investigasi tentang tambang galian C yang beroperasi disepanjang arah Palu – Dongggala. Ketika saya sodori topik itu, Manda merespons dengan mata berbinar, “saya suka itu kak, menarik dan menantang”. Begitu katanya dengan penuh semangat.

Ketika bertemu pertama kali dengan Manda untuk program peningkatan kapasitas jurnalis muda itu, saya bilang padanya, anggaplah tugas ini semacam program untuk naik kelas, karena selama ini kerja jurnalis biasanya hanya memburu pernyataan atau komentar  narasumber, kemudian  berpindah ke narasumber lainnya.
Selanjutnya jadilah berita. Kata kawanku, Itu disebut dengan spoken news. Kawan lainnya menyebut dengan Jurnalisme Pernyataan.
Selanjutnya saya minta Manda menyusun perencanaan liputan, karena liputan investigative itu mengharuskan adanya semacam Term of Reference (TOR).

Saya bilang pada Manda, pertanyaan besar yang harus masuk dalam TOR itu adalah, adakah pengaruhnya antara beroperasinya tambang galian C itu dengan peningkatan kesejahteraan warga di sekitar daerah tambang.

Berikutnya adakah dampak yang terjadi terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Berikutnya lagi, lahirkan sejumlah anak-anak pertanyaan, dan tetapkan siapa narasumber yang harus dihubungi dengan sejumlah pertanyaan itu.

Selanjutnya lakukan kajian kepustakaan, minimal undang-undang tentang pertambangan.
Saya perhatikan, selama proses diskusi informal itu, Manda sangat serius mencatat semua masukan yang saya sarankan.

Ia bilang pada saya, ini kali pertama membuat liputan yang sangat terstruktur, dan berjanji akan mencoba melakukan liputan investigasi itu, karena ia mau belajar.

Beberapa hari kemudian Manda kembali bertemu dan mendiskusikan secara rinci  TOR yang ia buat.

Sekira dua minggu  pada tiga tahun lampau itu, Manda mengirim sandek di telepon saya, ia mau konsultasi hasil data mentah liputan investigasinya.

Ternyata ia sangat serius dan menemukan begitu banyak fakta dan data  yang menarik dan perlu diketahui publik. Saya sarankan pada Manda,
“Bagaimana kalau sepenggal  dari fakta yang ditemukan tentang tambang galian C di itu jadikan  berita di Palu Ekspres”.

Dengan senyum khasnya ia bilang, “Jangan kak, nanti laporan investigasi saya tidak surprise lagi”.

Seterusnya, saya minta Manda mengayam kembali sejumlah fakta dan data untuk menjadi tulisan liputan investigasi agar publik tau ada apa dibalik tambang galian C antara Palu dan Donggala.

Sayangnya, hasil liputan itu tak jadi diteruskan, karena “proyek” peningkatan kapastitas jurnalis muda itu sepertinya terhenti di tengah jalan. Entah apa sebabnya.

Jumat siang, seharian “terjebak” dengan rutinitas kerja, menengok media pertemanan di gawai nyaris tak tersentuh. Padahal ramai dibicarakan jika Manda telah berpulang.
Kepergiannya menyisahkan begitu banyak pertanyaan, mengapa ada lebam di wajahnya yang murah senyum itu.

Maria Amanda Yeane Sandipu, engkau  sahabat dan kawan diskusi yang hangat. Kepergianmu sangat cepat. Namun Tuhan berkehendak lain.
Selamat jalan Manda. Moga engkau damai di sana. Amin.

Semoga Damai di Sana

Penulis adalah praktisi komunikasi massa

News Feed