oleh

Ikhtiar Dini dan Jalan Panjang Membentuk Generasi Sehat

PALU, PE – Pelataran Kantor Walikota Palu, Sabtu pekan lalu tampak ramai. Celotehan sekira 1.000 anak SD di wilayah Puskesmas Kawatuna, mendominasi suasana cerah pagi itu.

Hari itu, Persatuan Dokter Gigi Indonesia – Kota Palu sedang menggelar puncak peringatan Hari Kesehatan Gigi Sedunia, yang diperingati 20 Maret 2017.

Di Palu puncaknya diperingati 25 Maret 2017, pekan lalu. Didominasi warga ungu, hajatan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kota Palu yang dikemas sederhana tetap semarak.

Kehadiran seribuan siswa dari 6 SD, plus atraksi musik tradisional membuat suasana lapangan walikota Palu terasa hidup. Belum lagi kehadiran Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Said, dengan sambutan tanpa teks, mengajak anak-anak membiasakan diri hidup sehat membuat pagi cerah itu makin ceria.

“Anak-anaku, nanti kalau di rumah sikat gigi ya,” ajak Sigit penuh akrab.  Kedepan  lanjut Sigit yang masih vokalis Group Band Ungu itu, kalian akan melamar kerja.

Entah itu, menjadi dokter, penerbang atau tentara dan polisi. Jika kesehatan giginya tidak dirawat, pasti adik-adik tidak diterima jadi tentara. Gimana mau jadi tentara atau pilot kalau giginya ompong,” ungkap suami Adelia Wilhelmina itu.

Ketua Panitia drg Nurdian Afriani, menjelaskan, sebelumnya telah melakukan penyuluhan guru dan kader dan dokter cilik. Penyuluhan dilakukan di dua sekolah SDN 23 Palu dan SDN 2 Tanamodindi.

Sedangkan puncaknya adalah sikt gigi masal yang dipusatkan Lapangan Vatulemo. Sikat gigi masal ini dimaksudkan untuk melakukan pembiasaan terhadap anak anak dan akan ditindaklanjuti pada 21 hari kemudian.

“Kita akan follow up seperti apa kampanye sikat gigi ini memberi pengaruh pada kebiasaan anak-anak di rumah,” ungkap putri kandung drg Muslimah L Gadi, mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah itu.

Masih menurut alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin ini, kampanye kesehatan gigi tersebut, adalah bagian dari tanggungjawab moral PDGI, untuk menanamkan pentingnya menjaga kesehatan khususnya gigi dan mulut pada anak usia dini.

“Kesehatan adalah investasi masa depan. Bagaimana bisa mengakses ke dunia kerja jika kesehatan tidak dijaga sejak dini,” ungkap ASN di Rumah Sakit Madani Palu ini.

Perempuan berjilbab ini juga mengapresiasi Dinas Kesehatan Kota Palu yang memberikan perhatian sangat besar atas terselenggaranya rangkaian hajatan ini.
Kepala Bidang P2P dan Kesling Dinas Kesehatan Kota Palu, drg Lutfiah Sahabudin M. Kes, menjelaskan permasalahan kesehatan gigi dan mulut masih menjadi problem serius di tengah masyarakat.

Sekretaris PDGI Sulteng, ini menambahkan, panitia menyasar generasi muda dalam hal ini anak sekolah dasar, dengan maksud menumbuhkan kesadaran dini, bagaimana menjaga kesehatan sebagai investasi masa depan. Kelak jika anak-anak itu memasuki dunia kerja membutuhkan kesehatan fisik yang memadai.

Sangat disayangjan jika kesempatan memasuki kompetisi dunia kerja, kandas hanya karena syarat kesehatan yang tidak terpenuhi.

“Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Palu memberi apresiasi yang tinggi terhadap upaya PDGI menyasar anak usia dini. Ini sebagai ikhtiar awal sebuah jalan panjang bagaimana mewujudkan generasi sehat,” ungkap alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Pembinaan Kesehatan Gigi dalam Lorong Gelap

Peringatan Hari Kesehatan Gigi Sedunia mengambil tema, live health smart with healthy mouth. Tema ini dipilih, setelah menyadari problem kesehatan khususnya gigi dan mulut masih menjadi problem serius di tengah masyarakat.

Sayangnya, pada momen penting itu tidak ada data spesifik yang dikeluarkan oleh instansi terkait maupun  PDGI Sulteng soal fenomena kesehatan gigi dan mulut di daerah ini.

Ketua PDGI Sulawesi Tengah, drg Nita Damayanti, saat memberikan sambutan singkat pada puncak peringatan World Oral Health  Day (WOHD) yang dipusatkan di Halaman Kantor Walikota Palu, 25 Maret 2017 lalu, pun tidak sedikit pun menyentil fenomena ini.

Palu Ekspres menyambangi Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng di Jalan Kartini, sayangnya tidak ada data spesifik yang ditemukan. Pegawai penjaganya pun tidak mengetahui dan mengarahkan pada pejabat yang berkait. Pejabat yang bersangkutan pun tak bisa ditemui.

“Sedang keluar,” sahut rekannya. Mengutip  data dari beberapa riset, pada 2013, Sulawesi Tengah berada di urutan ke-14, di bawah NTB dan Papua dengan dengan penderita karies aktif.

Dengan jumlah penduduk 15 tahun keatas di kisaran 1,8 juta lebih jumlah penderita karies tampak dominan dengan mencapai 1,1 juta lebih. Angka yang tidak bisa dianggap remeh. Ini masih jenis karies belum lainnya.

(kia/Palu Ekspres)

News Feed