Sabtu, 4 April 2026
Opini  

Puasa dan Jejak Sunyi di Padang Pasir

Oleh: Mohammad Jafar Bua

Puasa adalah peristiwa keheningan. Dalam lapar dan dahaga yang ditahan, ada sesuatu yang lebih dari sekadar ibadah; ada renungan, ada pencarian. Seperti jejak kaki ditinggalkan di pasir, puasa menciptakan bekas yang tak selalu terlihat, tetapi tetap ada dalam batin seseorang.

Di kota Mekah yang gersang, jauh sebelum Islam diwahyukan, pemuda Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, sudah terbiasa menyendiri. Ia naik ke Gua Hira, meninggalkan hiruk-pikuk pasar, dan memilih sunyi. Dalam sunyi itu, ia tidak hanya bertemu dengan dirinya sendiri, tetapi juga dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggema di langit hatinya. Mungkin, di sanalah puasa dalam makna yang paling awal terjadi: menahan diri dari segala hiruk dan sibuk, menjauh dari kebisingan manusia, untuk mendengar suara yang lebih dalam.

Ketika wahyu pertama turun, pemuda yang kemudian disebutkan dengan mulia namanya, Rasulullah Muhammad SAW, mengalami ketakutan yang luar biasa. Ia pulang ke rumah dengan tubuh menggigil, meminta Khadijah untuk menyelimutinya. Malam itu ia tidak hanya merasa dingin, tetapi juga menyadari bahwa hidupnya telah berubah selamanya. Wahyu bukan hanya sebuah pesan, tetapi juga beban. Dalam kebingungannya, ia membutuhkan ketenangan. Dan ketenangan itu, dalam Islam yang kemudian ia ajarkan, salah satunya ditemukan dalam puasa.

Puasa, dalam Al-Qur’an, disebut sebagai ibadah yang bukan hanya diperintahkan kepada umat Muhammad tetapi juga kepada umat-umat sebelumnya. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah: 183). Ini menarik: puasa bukan sekadar ritual baru, melainkan bagian dari garis panjang sejarah spiritual manusia.

Mungkin inilah sebabnya, ketika kita membaca kisah para nabi, kita menemukan bahwa mereka juga menjalani laku serupa. Musa, sebelum menerima Taurat di Bukit Sinai, berpuasa selama empat puluh hari. Isa, sebelum memulai perjalanan dakwahnya, juga berpuasa di padang gurun. Dan Muhammad, di tahun-tahun pertama kerasulannya, sering menyendiri untuk beribadah, berpuasa dalam caranya sendiri.

Puasa, dalam sejarah kenabian, selalu berkaitan dengan pencarian makna. Ia adalah bentuk penyiapan diri untuk menerima sesuatu yang lebih besar. Bukan kebetulan jika Nabi Muhammad sering berpuasa sebelum datangnya peristiwa-peristiwa besar dalam hidupnya. Sebelum Isra Mi’raj—perjalanan luar biasa yang melintasi dimensi langit—ia dalam keadaan lapar dan letih, dalam kondisi tubuh yang ringan, seakan-akan memang dipersiapkan untuk perjalanan itu.

Tapi puasa tidak hanya berbicara tentang persiapan spiritual, ia juga berbicara tentang kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad, yang dikenal sebagai pribadi yang lembut dan penuh kasih, sering kali mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari kemarahan, kebencian, dan kata-kata yang menyakitkan. Ada seorang sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika seseorang menghinaku saat aku sedang berpuasa?” Nabi menjawab, “Katakanlah: Aku sedang berpuasa.”

Jawaban ini lebih dalam daripada yang tampak di permukaan. Puasa bukan hanya tentang tubuh yang menahan diri, tetapi juga tentang hati yang mengontrol diri. Ia bukan sekadar tidak makan, tetapi juga tidak membiarkan api dalam diri berkobar. Ia adalah latihan keheningan dalam bentuk yang paling nyata.

Dan dalam keheningan itu, ada penderitaan kecil yang dipeluk dengan sabar. Rasa lapar dan haus yang mengganggu adalah pengingat bahwa manusia itu lemah. Bahwa di balik keangkuhan dan kekuatan yang sering kita tunjukkan, kita tetap makhluk yang bergantung—pada makanan, pada air, pada Tuhan.

Di Madinah, setelah hijrah, puasa Ramadan menjadi bagian dari kehidupan komunitas Muslim. Tapi menariknya, Nabi Muhammad tidak pernah menjadikan puasa sebagai alat kesombongan spiritual. Suatu hari, ada sahabat yang ingin berpuasa terus-menerus tanpa berbuka. Nabi melarangnya. “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu,” kata beliau.

Ada keseimbangan dalam cara Nabi memandang ibadah. Ia tidak ingin puasa menjadi alasan untuk menyakiti diri sendiri, sebagaimana ia juga tidak ingin manusia tenggelam dalam kesenangan tanpa batas. Bahkan dalam ibadah, ada jeda. Ada saatnya menahan, ada saatnya melepaskan.

Mungkin inilah yang membedakan puasa dalam Islam dengan bentuk asketisme lain di berbagai tradisi. Dalam beberapa ajaran spiritual, seseorang yang ingin mendekat kepada Tuhan harus menyiksa tubuhnya, menghilangkan semua kenikmatan dunia. Tapi dalam Islam, puasa datang dengan waktu yang terbatas. Ada saatnya berbuka. Ada saatnya kembali menikmati rezeki yang diberikan Tuhan. Puasa mengajarkan bahwa dunia ini bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk dijalani dengan kesadaran.

Dan kesadaran itu, dalam sejarah Nabi Muhammad, sering kali muncul dalam bentuk kepedulian terhadap orang lain. Puasa bukan sekadar latihan individual, tetapi juga cara untuk merasakan penderitaan mereka yang kurang beruntung. Nabi selalu menganjurkan berbagi saat berbuka. Bahkan dengan sebutir kurma atau seteguk air.

Di hari-hari terakhir Ramadan, Nabi semakin banyak berdiam di masjid, melakukan i’tikaf. Ia menghabiskan malam-malamnya dalam doa dan renungan. Seolah-olah ia ingin mengajarkan bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar dari fajar hingga magrib, tetapi juga tentang perjalanan batin yang lebih dalam.

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Ramadan menjadi semakin istimewa bagi Nabi Muhammad. Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa di tahun terakhir sebelum wafat, ia bertadarus Al-Qur’an dua kali dengan Malaikat Jibril. Ada perasaan perpisahan yang samar. Dan benar, beberapa bulan setelah Ramadan itu berlalu, Nabi Muhammad meninggalkan dunia.

Tapi puasa tidak berhenti. Setiap tahun, di bulan yang sama, umat Islam kembali menjalani ritual ini. Seakan-akan menelusuri jejak Nabi, mengikuti langkah-langkahnya di pasir waktu.

Dan di situlah, puasa menemukan maknanya yang paling dalam. Ia bukan hanya ritual, tetapi juga pengingat. Bahwa hidup ini sementara. Bahwa ada saatnya menahan, ada saatnya melepaskan. Bahwa dalam lapar yang kita rasakan, ada jejak para nabi yang dulu juga menahan diri, dalam pencarian yang sunyi, di padang pasir kehidupan. ***

*Penulis adalah Tenaga Ahli Anggota DPR RI, alumni Indonesia Broadcasting Journalism Program (IBJP) di Ohio University, Ohio, Amerika Serikat, 2007.