Palu, PaluEkspres.com – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Bonny Hardi Putra menjelaskan, seluruh indikator perbankan di Sulawesi Tengah pada posisi 31 Januari 2025, mengalami pertumbuhan positif.
“Secara year-on-year (yoy) posisi aset perbankan tercatat sebesar Rp75,67 triliun atau tumbuh 16,76 persen (yoy), dibanding periode yang sama pada 2024 sebesar Rp67,33 triliun,” kata Kepala OJK Sulteng pada Journalis Update TW I Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Tengah, Kamis (20/3/2025), di Sriti Convention Hall Kota Palu.
Journalis Update kali ini, OJK Sulteng mengundang dua narasumber yakni, dari Pegadaian Cabang Palu diwakili I Gusti Agung Bagus, Deputy Bisnis Pegadaian Palu dan dari BSI diwakili Inhar Ramli, AMPM ( Area Mikro & Pawning Manager ) Area Palu.
Dari data OJK Sulteng, secara bulanan (m to m), total asset perbankan pada Januari 2025 dibanding Desember 2024 mengalami penurunan. OJK mencatat, total asset perbankan pada Desember 2024 sebesar Rp79,06 Triliun, sedangkan pada Januari 2025 sebesar Rp78,24 Triliun atau menurun Rp0,82 Triliun atau menurun 1,04 persen.
Sebaliknya, sejak Juli 2024, total asset perbankan secara bulanan mengalami kenaikan hingga di penghujung tahun 2024. Sebagaimana catatan redaksi, total asset perbankan pada Juli 2024 sebesar Rp71,70 Triliun, Agustus 2024 sebesar Rp71,94 Triliun, September 2024 sebesar Rp73,58 Triliun, dan Oktober 2024 tercatat Rp75,63 triliun, November 2024 mencapai Rp76,44 Triliun. Selanjutnya, total asset perbankan pada Desember 2024 sebesar Rp79,06 Triliun.
Bonny Hardi menambahkan, Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Januari 2025 sebesar Rp38,09 Triliun atauatau tumbuh 16,20 persen (yoy), dibanding periode yang sama pada 2024 sebesar Rp32,78 Triliun.
Secara bulanan (m to m), penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada Januari 2025 dibanding bulan sebelumnya, Desember 2024, mengalami peningkatan Rp1,28 Triliun, di mana pada bulan Desember 2024 tercatat Rp36,81 Triliun.
Peningkatan secara bulanan untuk DPK sudah terlihat sejak November 2024 yang tercatat sebesar Rp36,34 Triliun.
Kinerja intermediasi perbankan terjaga pada level yang tinggi dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) 159,52 persen dan tingkat rasio kredit bermasalah terkendali dengan non-performing loan 1,54 persen. (bid/paluekspres)






