Minggu, 5 April 2026
News  

Cerita Warga Binaan Bekerja di Dapur MBG Lapas Sukamiskin

SPPG Kelas I Sukamiskin memberdayakan warga binaan untuk mendukung operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Warga binaan merasakan dampak positif. Mereka jadi punya keahlian dan pengalaman menarik, sehingga berharap nanti ketika kembali ke masyarakat bisa bekerja di dapur MBG. (Foto: PCO)
SPPG Kelas I Sukamiskin memberdayakan warga binaan untuk mendukung operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Warga binaan merasakan dampak positif. Mereka jadi punya keahlian dan pengalaman menarik, sehingga berharap nanti ketika kembali ke masyarakat bisa bekerja di dapur MBG. (Foto: PCO)

Bandung, PaluEkspres.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus didorong untuk melayani lebih banyak lagi penerima manfaat. Salah satunya dengan memberdayakan seluruh unsur masyarakat sehingga tercipta efek berganda (multiplier effect). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) / Dapur MBG di Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, juga menjadi salah satu dapur yang memberdayakan masyarakat, yaitu para warga binaan. Mereka dilatih khusus dan terserti?kasi sehingga layak untuk bekerja di dapur MBG.

Pendirian dapur MBG di Lapas Kelas I Sukamiskin mendapat sambutan baik dari para warga binaan. Kegiatan positif di lingkungan lapas bertambah. Warga binaan jadi punya pengalaman dan keahlian baru.
“Sekarang hari-hari saya semakin cepat berlalu, karena sibuk di dapur, menyiapkan makanan untuk Program MBG,” kata Rijatono Lakka.

Tono, namanya panggilannya, adalah salah satu warga binaan yang diberdayakan untuk operasional SPPG di Lapas Kelas I Sukamiskin. Tono punya usaha restoran dan ahli dalam meracik makanan. Tak heran jika SPPG mempercayakan Tono menjadi juru masak di dapur MBG.

“Saya senang sekali bisa berkontribusi menyukseskan program Bapak Presiden Prabowo dengan penuh tanggung jawab. Dari kegiatan ini, warga binaan jadi punya keahlian. Dengan keahlian, warga binaan jadi punya tempat di masyarakat, punya kesempatan untuk bekerja ketika nanti sudah kembali ke masyarakat,” ujar Tono.

Tono tak sendirian. Ada sekitar 47 warga binaan lainnya yang juga terlibat mengelola dapur MBG untuk melayani 3.450 an penerima manfaat setiap hari. Dari mulai menerima bahan baku, mengecek kualitas, membersihkan, memasak, mengemas makanan, sampai mencuci peralatan masak dan makan.

Firsa dan Dimas, warga binaan lainnya, mengaku bangga bisa terlibat di dapur MBG. Firsa mendapat tugas memasak protein. Sedangkan Dimas juru masak nasi atau karbohidrat lainnya. “Kami jadi dapat ilmu, pengalaman, dan teman baru. Saya jadi tahu ternyata menjaga gizi sangat penting. Saya bangga karena ini termasuk pengabdian kepada Bapak Presiden,” kata Firsa.

“Saya terharu, termotivasi, dan bangga ketika peralatan makan sudah kembali ke dapur, kami mendapat surat cinta dari siswa. Saya berharap program ini bisa terus berlanjut. Jadi ketika kami sudah kembali ke masyarakat, bisa terlibat di dapur lagi,” ujar Dimas.

Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan/Presidential Communication Office (PCO), Adita Irawati mengatakan, pemberdayaan warga binaan merupakan salah satu contoh nyata dampak positif dari pelaksanaan Program MBG. Menurut dia, pesan Presiden Prabowo sangat jelas dan tegas bahwa Program MBG harus memberikan dampak positif seluas-luasnya.

“Lapas Sukamiskin sudah menerapkan pemberdayaan, sesuai tujuan dari Program MBG. Warga binaan mendapat pelatihan khusus dan tersertifikasi untuk bisa terlibat dalam Program MBG. Jadi, semua sesuai standar yang sudah Badan Gizi Nasional tetapkan. Koperasi di lapas juga diberdayakan sebagai vendor penyediaan bahan baku,” kata Adita usai kunjungan kerja ke Lapas Kelas I Sukamiskin. ***