Amirudin Tamoreka

  • Whatsapp

Bandara Luwuk juga sudah lebih ramai. Termasuk arus barang kargo.Terminal penumpang lebih lebar, runway pesawatnya lebih panjang. Tak hanya pesawat ATR yang sebelumnya, kini jenis Boeing 737 sudah bisa mendarat di Luwuk. Jadwalnya dua kali sehari. Dari dan ke Makassar. Dan seat pesawatnya kerap penuh dengan tingkat okupansi rata-rata diatas 80 persen. Saya pernah coba go show, tak kebagian tiket, mesti pesan beberapa hari sebelumnya.

Saya tahu dari para wartawan, bahwa Amirudin anak desa yang sejak muda digembleng orangtuanya sebagai sosok pekerja keras dan ulet. Tidak heran jika selepas sarjana, ia sukses di dunia usaha dan bisnis.

Pria kelahiran 13 Desember 1971 di desa Toili, Banggai adalah orang yang awalnya tidak punya keinginan sama sekali untuk menjadi Bupati. Dia terbilang sudah mapan hidupnya dari bisnisnya yang besar. Dia adalah pengusaha, bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih mengabdikan hidupnya di dunia sosial dan kemasyarakatan.

Amiruddin anak dari pasangan H. Abdul Hamid Tamoreka- Hj. Nurhayati H. Nur. Sang ayah Banggai, ibunya Bugis. Ia menghabiskan masa kecilnya di Banggai. Usai lulus di SDN 1 Toili, dia melanjutkan pendidikan di SMP 1 Toili. Setelah itu Amirudin melanjutkan pendidikan di SMA 1 Luwuk, lalu kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar.

Semasa kuliah, ia dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Agronomi (Himagro) dan Ketua Senat Fakultas serta Ketua Himpunan HMI Badko. Dikalangan temannya, ia dikenal aktif berorganisasi dan pandai bergaul sehingga punya banyak networking.

Awalnya setelah merampungkan pendidikan, ia ditawari jadi asisten dosen di kampusnya. Tapi Amirudin lebih tertarik mengaplikasikan ilmunya diluar kampus. Ia pun memutuskan untuk pulang kampung di Banggai dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan sawit.

Berselang beberapa waktu, Amirudin bertekad mengembangkan karirnya di dunia pertambangan migas. Pilihannya tak salah, dirinya kemudian menjelma menjadi pengusaha berskala nasional. Dengan menjabat Komisaris Utama pada beberapa perusahaan seperti PT. Petro Jasa Energi, PT. Tiga Dimensi Jaya, PT. Amico Putra Perkasa dan PT. Amirul Insani. Pekerjanya kurang lebih 3.000 orang yang sebagian besar direkrut dari anak-anak Banggai.

Pos terkait