Setelah dari dunia bisnis, atas permintaan masyarakat dan panggilan hatinya ingin mengabdi kepada kampung halaman, Amirudin memutuskan terjun ke dunia politik. Ia sudah kalkulasi dan menghitung segala konsekuensinya.
Dalam pengamatan saya, Banggai sendiri punya cerita “panggung politik” yang unik dengan melibatkan keluarga Murad Husain, seorang pengusaha sawit. Namanya populer seantero Nusantara lantaran menukar uang 4 juta dolar ke rupiah tatkala kurs Rp 17.000. Pada saat itu Indonesia dilanda krisis moneter dan politik.
Dunia perpolitikan Banggai, terutama pemilihan Bupati dalam 20 tahun terakhir, diwarnai keterlibatan kerabat Murad Husain. Diawali Pilkada 2011 ketika Herwin Yatim, menantu Murad, terpilih menjadi Wakil Bupati berpasangan Sofhian Mile. Lalu Pilkada 2015, Herwin Yatim “naik kelas” dan berhasil menjadi Bupati Banggai.
Pasca itu, terjadilah pertarungan internal keluarga Murad. Herwin Yatim cerai dengan istrinya, Sulianti Murad. Sekaligus menjadi perceraian politik atau pecah Kongsi. Pada Pilkada 2020, Sulianti Murad maju menjadi calon Bupati menantang petahana Herwin Yatim. Di tengah jalan, Herwin Yatim didiskualifikasi KPU karena sebagai petahana melakukan rotasi pejabat saat Pilkada sudah berlangsung. Namun, diskualifikasi itu dianulir PTUN Makassar. Apa akhir pertarungan mantan suami-istri itu? Keduanya kalah. Yang menang calon lain, politisi pendatang baru Amiruddin Tamoreka.
Pada Pilkada 2024, perseteruan itu belum berakhir. Sulianti Murad kembali menjadi calon Bupati, Herwin Yatim juga. Keduanya mengeroyok petahana Amiruddin Tamoreka. Hasilnya, incumbent tetap menjadi pemenang, meski MK memerintahkan PSU. Sulianti Murad yang didukung koalisi parpol gemuk kalah suara tipis.
Sebagai orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa membayangkan apa yang ada dikepala Amiruddin saat pertama kali dilantik Bupati Banggai tahun 2021. Hampir sama dengan yang dibayangkan pengusaha pada umumnya. Yakni ingin membuat mesin birokrasi bekerja lebih efektif dan efisien. Untuk itu, harus melakukan perombakan di segala bidang.
Sebagai politisi berlatarbelakang pengusaha, ia tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi sebagai pengusaha pula Amirudin tentu banyak akal. Apalagi kultur birokrasi di Banggai sudah begitu kuatnya di bawah pendahulunya selama puluhan tahun.






