Jakarta, PaluEkspres.com — Pemerintah mencatat kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 tetap solid di tengah dinamika ekonomi global.
Penerimaan pajak tercatat tumbuh 16,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 646,3 triliun, yang dinilai menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas ekonomi domestik masih terjaga.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pertumbuhan penerimaan negara menunjukkan prospek ekonomi Indonesia yang lebih baik dibandingkan tahun lalu. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Selasa (19/5).
“Di pendapatan negara, itu tumbuhnya 13,7 persen. Di mana pajak tumbuhnya 16,1 persen. Dan mungkin akan lebih tinggi lagi, mungkin mendekati 20 persen ya. Ini jelas bagus prospeknya dibanding tahun lalu,” ujar Purbaya.
Ia membandingkan kondisi saat ini dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika penerimaan pajak masih mengalami kontraksi.
“Tahun lalu kan negatif ya pertumbuhannya pajaknya. Minus 10,8 persen. Sekarang 16,1 persen pertumbuhannya. Jadi lumayan lah,” katanya.
Secara lebih rinci, ia menyoroti realisasi dua kelompok pajak yang dinilainya mencerminkan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat selama empat bulan pertama tahun ini.
Pertama, ia menyoroti Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi dan PPh 21 yang mencapai Rp 101,1 triliun per April, atau tumbuh 25,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kedua, ia juga menyoroti realisasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang mencapai Rp 221,2 triliun, atau melonjak 40,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Purbaya mengatakan, pertumbuhan dua jenis pajak yang mencapai dua digit tersebut menjadi bukti bahwa permintaan domestik masih kuat dan belum terlihat adanya tanda perlambatan ekonomi.
“Ini semua mematahkan tuduhan bahwa ekonomi sedang melambat dengan signifikan. Jadi ini data yang bicara, ini keadaan ekonomi kita sesungguhnya sampai bulan April,” tambahnya.
Menurut dia, pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, termasuk memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia dan mempercepat belanja negara.
“Kita usaha mati-matian memberi stimulus ke perekonomian dengan cara tertentu. Bukan hanya ngasih duit ya. Ada sistem koordinasi dengan bank sentral, jaga stabilitas di pasar obligasi dan lain-lain,” kata Purbaya.
Ia menambahkan pemerintah juga mempercepat penyaluran anggaran kementerian dan lembaga agar dampak stimulus lebih cepat dirasakan masyarakat dan dunia usaha.
“Kalau ada kementerian lembaga yang minta uang, kita kasih cepat-cepat, dipercepat. Jadi untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” katanya.






