”Bukan perasaan satu orang yang perlu diperhatikan dalam kasus ini. Melainkan keselamatan semua orang yang berada di dalam pesawat. Wajar bila petugas kemudian menganggap dia tidak aman.”
Ada juga yang mengatakan kalau Aghnia jangan menyalahkan petugas bandara karena itu semua adalah tanggung jawab mereka demi memastikan keamanan penerbangan. ”Diskriminasi? Selama ini, bukan para biarawati yang menyimpan bom dan AK47 di balik baju mereka,” tambahnya.
Staf Kedutaan Besar Indonesia di Roma, Aisyah Allamanda, juga berharap seharusnya Aghnia mematuhi perintah petugas. ”Beberapa kali saya juga terbang keluar bandara di Roma dan saya juga mengalami periksaan yang sama. Dan, ya, saya juga harus melepas hijab saya,” katanya.
Peaturan yang sama, kata Aisyah, juga diberlakukan di KBRI Roma. ”Kami juga melakukan pemeriksaan yang melibatkan melepas hijab. Ada ruang khusus itu itu,” sambungnya. ”Saya bisa paham jika petugas keamaan merasa kita agresif kalau kita menolak untuk melakukan itu.”
Juru bicara Bandara Roma juga mengeluarkan pernyataan serupa. ”Penumpang yang melewati gerbang keamanan membunyikan alarm bahaya. Sehingga, butuh penyelidikan kasus itu. Staf kami sudah memintanya untuk masuk ke ruang khusus dimana dia bisa melepas jilbabnya di hadapan petugas perempuan, itu sesuai dengan undang-undang Eropa dan internasional. Semua ini demi keamanan.”
”Kami memohon maaf atas insiden ini. Namun, apa yang terjadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan diskriminasi. Penumpang tidak mematuhi aturan dasar keamanan. Dan, tindakan lanjutan kami lakukan untuk memastikan semua aman.”
(Fajar/jpnn/PE)






