Minggu, 5 April 2026

Menteri Perindustrian: Indonesia Harus Bertindak Sebagai Negara Ekonomi Besar

PALU EKSPRES, PALU – Posisi Indonesia dalam ekonomi dunia sebagaimana disebutkan Menteri Perindustrian RI, Airlangga Hartarto termasuk dalam 20 besar di dunia. Olehnya, Indonesia seharusnya tidak boleh merendahkan diri di antara negara-negara besar lainnya. Ekonomi Indonesia disebutkannya adalah ekonomi dalam negeri, karena termasuk pasar besar di antara negara-negara ASEAN.

“Indonesia ini adalah negara 20 besar di dunia, tidak ada negara ASEAN lain yang duduk di 20 besar. Tetapi dengan ekonomi besar, kita harus bertindak sebagai negara besar, jangan kita bertindak sebagai negara yang minta bantuan lagi, sudah tidak pantas,” kata Airlangga, saat membawakan materi Kuliah Umum di hadapan civitas akademika Universitas Tadulako (Untad), di Theater Room Untad, Jumat 20 April 2018.

Airlangga menyebutkan, Pemerintah Presiden Jokowi memiliki proyeksi 100 tahun Indonesa merdeka, yakni pada tahun 2045 Indonesia disiapkan untuk menjadi negara maju. Pada kesempatan tersebut, Airlangga mengutip salah satu pernyataan dari lembaga konsultasi ekonomi internasional, yang memprediksikan Indonedia akan menjadi negara ekonomi nomor 4 terbesar di dunia pada tahun 2050.

“Di tahun 2045 berada pada 5 besar dunia, di tahun 2030 mereka memprediksi Indonesia nomor 7 di dunia, dan pemerintah membuat perencanaan lebih konservatif bahwa di tahun 2030 Indonesia menjadi 10 besar,” imbuhnya.

Ia menegaskan, jika nantinya Indonesia berhasil menjadi nomor 10 besar di dunia, hal itu merupakan hasil yang diantarkan oleh pemerintahan saat ini, yang ingin mendorong Indonesia keluar dari status middle income grade pada tahun 2030. Pondasi capaian tersebut telah dibangun pada saat ini, serta didorong oleh program revolusi industri keempat atau yang dikenal dengan istilah Making Indonesia 4.0.

Ekonomi Indonesia ditambahkan Airlangga, dalam 15 tahun belakangan terus tumbuh, dengan pondasi stabilitas politik, tingkat pendidikan yang besar, serta memiliki faktor keamanan yang baik. Dijelaskannya, jika pada tahun 2000 dijadikan patokan, ketika skalanya dibandingkan terhadap tahun 2016, maka belanja konsumen naik sebanyak 4,3 kali.

“Intinya ekonomi Indonesia itu lebih baik oleh domestik market, oleh daya beli yang ada di seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, menurut Airlangga, sektor swatsa juga perlu didorong untuk menumbuhkan ekonomi di Indonesia. Hal ini karena kata Ketua Umum Partai Golkar ini, peran pemerintah masih terbatas pada pertumbuhan ekonomi, dengan angka belanja pemerintah hanya sebesar 10 persen.

“Berikutnya adalah investasi, makanya kita harus menjadi negara yang investment friendly,” tandasnya. Turut hadir dalam Kuliah Umum tersebut, Wakil Rektor Untad bidang Kemahasiswaan, Prof. Dr. H. Djayani Nurdin, Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, Anggota DPR RI Muhidin M. Said, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng, Arief latjuba, serta beberapa anggota DPR RI dan DPRD Sulteng lainnya.

(abr/Palu Ekspres)