Minggu, 5 April 2026
Palu  

Rektor Untad: Jangan Khawatir Kehadiran Dosen Asing

PALU EKSPRES, PALU – Rencana pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk mendatangkan tenaga dosen asing, bagi Rektor Universitas Tadulako (Untad), Prof. Dr. H. Muh. Basir Cyio tidak perlu dikhawatirkan.
Menurutnya, secara umum hal tersebut tidak jauh berbeda kondisinya, dengan dosen-dosen Indonesia yang memiliki tugas di perguruan tinggi luar negeri. Rencananya, pemerintah akan mendatangkan tenaga dosen asing sebanyak 200 orang.

“Kalau saya tidak pernah khawatir itu, apa bedanya kita juga mengunjungi mereka. Cuma ini kan karena dibiayai oleh negara jadi ribut-ribut sedikit, mungkin ada pertimbangan pemerintah yang tidak kita jangkau. Kalau mereka datang ya selamat datang, jumlah 200 orang juga kecil dibandingkan sekitar 4.200 perguruan tinggi di Indonesia,” kata Prof. Basir, usai mengisi salah satu kegiatan di Untad, Rabu 25 April 2018.

Menurutnya, dampak yang dapat diberikan oleh para dosen asing tersebut, dibandingkan dengan jumlah anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk membiayainya, saat ini belum dapat dianalisis, karena saat ini rencana kedatangan para dosen asing tersebut belum berjalan.

Olehnya, Prof. Basir meminta kepada seluruh pihak untuk bersabar melihat hasilnya ke depan, baru mulai menganalisa dan mengevaluasi program pemerintah tersebut. Apakah kehadiran dosen-dosen asing tersebut dapat meninggalkan dampak positif atau tidak, bagi para dosen lokal serta bagi perguruan tinggi bersangkutan.

“Menurut saya biarkan saja dulu, lalu dievaluasi apa yang bisa mereka tinggalkan di perguruan tinggi yang ditempati. Misalnya hasilnya biasa saja, dosennya tidak mendapatkan ketambahan ilmu, dan perguruan tingginya juga biasa-biasa saja dengan total anggaran milyaran, barulah mengoceh. Karena ilmuwan kan harus begitu, ada dasarnya. Ini kan belum tahu siapa yang mau datang dan apa yang dia bawa, jadi jangan terlalu reaktif,” tutur Prof. Basir.

Ia menambahkan, evaluasi hasil dari program tersebut juga tidak akan dapat dilihat dalam waktu singkat, karena mneyangkut dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Olehnya, Prof. Basir menyarankan agar seluruh pihak bersabar, sambil berharap ada dampak positif dari program impor dosen asing tersebut.

“Jadi welcome saja dulu di tahun 2018, kita evaluasi di tahun mendatang. Tapi evaluasinya yang menyangkut SDM tidak semudah membalik telapak tangan dampaknya, bisa jangka panjang, bisa jadi 3-4 lima tahun kemudian baru dirasakan dampaknya. Jangan-jangan bisa ada transfer ilmu antara dosen asing dengan dosen lokal,” pungkasnya.

Diberitakan oleh JPNN.com, Rencana pemerintah untuk mendatangkan 200 dosen asing, dijelskan oleh Manristekdikti, Mohamad Nasri, bertujuan agar perguruan tinggi di Indonesia dapat masuk kelas dunia. Salah satu kriteria untuk mewujudkan hal tersebut, dalam QS World University Rankings adalah adanya dosen yang mobility, yakni dosen Indonesia yang ke luar negeri dan dosen asing yang ke Indonesia.

Menteri Nasir juga menjelaskan, kedatangan dosen asing tersebut bermaksud agar mereka dapat berkolaborasi bersama para dosen lokal. Nantinya mereka akan berada di Indonesia selama 1-2 tahun, membimbing para mahasiswa Indonesia lalu kembali ke negara asalnya. Nantinya, gantian dosen Indonesia yang akan dikirim ke luar negeri.

(abr/Palu Ekspres)