PALU EKSPRES, PARIMO– Sesuai hasil pertemuan pihak Disdikbud Parimo bersama warga serta para dewan guru terkait penyegelan SDN Baliara Kecamatan Parigi Barat, Senin (16/7/2018) kemarin, bahwa oknum Kepala Sekolah sudah di-non aktifkan di sekolah tersebut.
“Jadi saya tanya sama warga dan guru-guru saat rapat boleh kah sekolah ini dibuka seperti yang kita harapkan, mereka bilang boleh pak tapi dengan satu syarat kepala sekolahnya jangan dihadirkan lagi di sekolah ini,” kata Sekdisdikbud Parimo, Ahmad Syaiful kepada Palu Ekspres, di ruang kerjanya, Selasa (17/7/2018).
Sehingga kata dia, dengan berbagai pertimbangan Kepala UPTD Disdik Parigi Barat dan Kepala Bidang SD, terpaksa mengikuti apa kemauan dari warga dan guru-guru yang ada. Dari pada hal ini terus dibiarkan kata dia, hanya dapat merugikan masyarakat dan siswa itu sendiri.
“Jadi untuk sementara dan beberapa hari ke depan yang bertanggungjawab di sekolah itu adalah Kepala UPTD, dan kepala sekolahnya kita non aktifkan dulu, dan non aktifnya dimulai sejak kemarin,” ungkapnya.
Menurutnya, pemberhentian kepala sekolah tersebut belum secara tertulis tetapi nantinya akan dibuatkan secara tertulis. Dan, oknum kepala sekolah sudah mengetahui hal ini dan juga sudah dilakukan pemanggilan oleh pihak Disdikbud.
“Saya berpikir kemarin ketika keluhan air itu baru beberapa bulan, ternyata dari tahun 2015 tidak ada air dan kondisi itu sangat memprihatinkan,”ujarnya.
Dia, mengatakan, dari klarifikasi kemarin itu dengan pihak komite sekolah bahwa setiap kali dilakukan rapat, ketua komite sekolah mengaku tidak pernah dihadirkan oleh kepala sekolah dalam hal penyusunan rencana kerja anggaran sekolah (RKAS).
“Jadi ketua komite bertanya-tanya, ini dana bos masih ada atau tidak dia pikir dana bos ini sudah tidak ada karena tidak pernah lagi dia tahu,” ungkapnya.
Terkait hal itu tambahnya, tergantung dari keputusan kepala dinas apakah dimutasi atau bagamana karena masyarakat sudah tidak mau terima kehadiran oknum kepala sekolah tersebut. “Tapi kalau saya harus dimutasi karena masyarakat dan guru tidak mau lagi terima kehadirannya di sekolah itu,” tegasnya.
“Alhamdulillah tadi pagi sebelum upacara setiap tanggal 17 di kantor bupati, saya sempat berkunjung ke sekolah itu sekitar 5 menit, kondisi sekolah terlihat sudah bersih, guru-guru juga sudah masuk dan anak-anak juga mulai belajar, serta air untuk sementara disambung dari sekolah TK yang berdekatan dengan sekolah itu,” tambahnya.(asw/palu ekspres).






