Minggu, 5 April 2026

Survei LSI Denny JA Soal Elektabilitas Jokowi di Pilpres ‘Palsu’

Jokowi-3-1

PALU EKSPRES, JAKARTA – Dua hari kemarin lembaga survei LSI Denny JA mempublikasikan hasil surveinya soal elektabilitas Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden pada Pilpres 2019. Dalam hasil surveinya, LSI Denny JA menempatkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di posisi teratas dengan tingkat elektabilitas 52,2 persen pada Agustus 2018.

Menurut Direktur Eksekutif NSEAS, Muchtar Efendi Harahap, hasil survei LSI Denny JA tak masuk akal alias palsu, karena secara metodologi survei, hal tersebut tak sesuai dengan waktu kerja dalam melakukan survei.

“Hasil survei LSI Denny JA ini tak masuk akal alias palsu dan sangat mungkin berbohong secara metodologis karena waktu pengumpulan data sejak deklarasi Capres-Cawapres hanya 7-8 hari, atau sekitar seminggu. Secara metodologis, masih ada kegiatan kompilasi data dan analisis data,” kata Muchtar Harap kepada Fajar.co.id lewat pesan tertulisnya, Kamis (23/8/2018).

“Jika survei benar, masih dibutuhkan sekian hari untuk survei 20 persen terhadap responden terpilih untuk cheking kebenaran kerja Tim Surveyor di lapangan. Seminggu pasti tidak cukup waktu memenuhi syarat metodologis untuk survei opini publik, atau polling nasional. Jadi, mustahil kecuali dikerjakan hanya di kamar komputer sendirian, alias fiksi,” sambungnya.

Dalam keterangan LSI Denny JA, survei dilakukan pada akhir bulan Agustus, sementara hasil yang dipublikasikan pada 20 Agustus, jadi sangat terlihat hasil yang dipublikasikan tak benar alias fiksi.

“LSI ini ngakunya waktu survei pd akhir Agustus, padahal kini baru tanggal 20, belum akhir Agustus, jadi mustahil,” jelasnya.

Muchtar Harap menambahkan, hasil survei yang dipublikasikan oleh LSI Denny JA sangat tak masuk diakal, karena pada Mei LSI Denny JA merilis hasil surveinya elektabilitas Jokowi mencapai 46 persen. Sementara pada Juli kembali merilis hasil survei yang menempatkan Jokowi pada angka 49,30 persen, dan di Agustus ini LSI Denny JA kembali merilis elektabilitas Jokowi pada angka 52,2 persen.

“Pada Mei 2018 LSI ini klaim telah survei dengan hasil elektabilitas Jokowi 46 persen. Lalu, Juli 2018 klaim buat lagi survei ekektabilitas Jokowi naik lagi menjadi 49,30 %. Kini 20 Agustus umumkan naik lagi menjadi 52,2 %. Sangat unik dan tak lazim karena kebanyakan lembaga survei klaim, selama 2018 elektabilitas Jokowi terus menurun hingga di bawah 40 persen,” bebernya.

Lanjut Muchtar, elektabilitas Jokowi pasca mendeklarasikan dirinya berpasangan dengan Ma’ruf Amin hingga pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU) tak menunjukan kenaikan elektabilitas, tapi lebih menurun.

“Hasil polling sejumlah lembaga via medsos Jokowi-Ma’ruf segera setelah deklarasi membuktikan hal itu. Lalu, darimana datang angka 52,2 % itu? Sangat mungkin dari penulis hasil survei LSI itu sendiri,” tutupnya.

(Aiy/Fajar)