PALU EKSPRES, PALU– Program teknologi budidaya udang supra intensif skala rakyat telah menarik perhatian pemerintah pusat. Sebab sebelumnya, beberapa pejabat pusat yang telah menyaksikan keunggulan teknologi yang dikembangkan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulteng DR. Ir. Hasanuddin Atjo saat berkunjung ke lokasi percontohan budidaya udang teknologi supra intensif skala rakyat di Kelurahan Mamboro, Kota Palu, berkomitmen akan memperjuangkan di tingkat pusat agar teknologi ini bisa diimplementasikan secara nasional.
Komitmen itu diperkuat oleh Anggota Komisi IV DPR RI Sudin SE yang akan memperjuangkan teknologi supra intensif skala rakyat ini masuk dalam struktur APBN 2019.
“Mumpung saat ini belum penyusunan anggaran di DPR RI, sehingga saya akan memperjuangkan program teknologi supra intensif skala rakyat bisa masuk di APBN tahun mendatang (2019),” kata Sudin SE yang juga anggota Panitia Kerja Penyusunan Perundang-undangan Bidang Keluatan dan Perikanan saat berkunjung ke Palu akhir pekan kemarin.
Ia menilai, banyak manfaat yang akan diperoleh masyarakat, terutama para pembudidaya ikan jika teknologi supra intensif skala rakyat ini masuk dalam struktur APBN 2019. “Ini memudahkan daerah lain yang memiliki wilayah pesisir untuk menerapkan teknologi supra intensif skala rakyat karena ditopang kebijakan dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Terlebih lagi katanya, teknologi supar intensif sakal rakyat ini tidak membutuhkan lahan luas, sementara produktifitasnya sangat tinggi.
Dengan luas kolam 1000 meter bujursangkar atau 0,1 hektare, bisa menghasilkan udang vaname 15.000 kilogram per empat bulan.
“Saya dapat penjelasannya, investasi yang dibutuhkan untuk satu unit usaha sebesar 125 juta rupiah dan modal kerja per siklus (4 bulan) sebesar 40 juta rupiah. Produksi yang dihasilkan mencapai 1200 kg udang vaname dengan nilai jual sebesar 80 juta rupiah dan marjin sebesar 40 juta rupiah per siklus,” ujarnya.
Semerntara itu, Kepala Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Sulteng, DR. Ir Hasanuddin Atjo MP menjelaskan, satu unit usaha budidaya udang teknologi supra intensif skala rakyat dapat dikelola oleh satu kepala keluarga atau 1 kelompok.
Ia mengungkapkan, salah satu Kelebihan dari teknologi ini, dapat diintegrasikan dengan sistem digitalisasi yang dinamakan E-Fishery sebagai bagian dari revolusi industri 4.0. Misalnya, petambak bisa mengontrol lingkungan budidaya, memberi pakan udang, manajemen stock dan pasar serta beberapa aspek teknis lainnya.
Ia menambahkan, teknologi supra intensif skala rakyat ini untuk menjawab peluang bonus demografi yang puncaknya di tahun 2030. Saat itu, penduduk Indonesia akan didominasi oleh kelompok generasi milenial, yang salah satu kebutuhannya adalah aktifitas ekonomi yang berbasis digitalisasi.
“Karena itu teknologi budidaya udang supra intensif skala rakyat menjadi salah satu pilihan dan motivasi bagi masyarakat umumnya dan generasi milenial khususnya untuk bekerja di desa, khususnya desa-desa pesisir,” ujarnya.
(fit/palu ekspres)






