Sabtu, 8 Agustus 2026
Daerah  

Sekolah Mohammad Ceng Ho di Balaesang

Palu – Pada tanggal 19 Oktober 2008, untuk keempat kalinya Li Feng Pippa mengunjungi Sirenja, ia bertemu dengan tenda biru China yang indah itu. Tenda berukuran 12 x 10 kaki (3,7 x 3,2 m), memiliki satu pintu depan, lima jendela, dan memiliki tirao di pintu masuk utama dan jendela untuk mencegah nyamuk terbang ke tenda. Saat hujan turun, ada lapisan tirai tahan hujan yang bisa ditaruh, mirip seperti rumah baru.

Pada hari itu, Pippa menulis catatan pribadi: “Saya melihat senyum terkembang di wajah penduduk.”

Di program Microsoft Word di gawai androidnya, ia menulis: “Aku telah berdoa kepada Tuhan, kepada Allah, agar aku bisa mendapatkan seratus tenda untuk para penduduk desa. Hari ini aku mendengar Tuhan berkata kepadaku dengan tenang; Tuan, aku tahu. Aku dengar permintaanmu.”

Menurut dia, warna biru dan merah adalah dua warna yang paling disukai orang China. Ini juga dua warna yang biasa digunakan di porselen Cina yang terkenal. Ini sering disebut “China Blue” dan “China Red”. Biru adalah warna kedamaian. Ini adalah warna organisasi PBB yang paling banyak digunakan. Ia melukiskan: “Saya melihat cinta dan kedamaian di Tenda Biru itu.”

Dari tenda inilah, Pippa kemudian mendapat ilham. Berbekal referensi sejarah yang menautkan rakyat China dan Indonesia, Ia pun meninisiasi Sekolah Mohammad Ceng Ho.

Pada 23 Oktober, Pippa, kembali ke Palu untuk mempersiapkan sekolah tenda itu. Bekerja sama dengan yayasan kemanusiaan yang ada, ia pun mulai bergerak. Sekolah Tenda itu didirikan di lokasi Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Balaesang di mana tak ada bangunan yang layak untuk dijadikan tempat belajar.

“Saya setuju dengan nama Sekolah Mohammad Cheng Ho. Cheng Ho sangat terkenal di masyarakat Muslim Indonesia, ” kata Mohammad Ali, Ketua Nahdlatul Ulama Peduli, salah satu kelompok yang bekerja untuk bantuan kemanusiaan di Palu, Sulawesi Tengah.

“Nama Skolah Muhammad Cheng Ho sangat bagus,” sambung Dr. Tan Ta Sen, Ketua International Cheng Ho Society, Singapura, membalas Pippa melalui email.

Pengusaha China di Jakarta, Qiu Yu yang membantu dia menyiapkan tenda sekolah itu. Dibantu Qing Cai pula mereka mengidentitasi diri dengan nama Love from Tionghoa Volunteer.

Liang Ruifang, pengusaha China di Jakarta juga membantu penuh semangat.

“Seorang Dato dari Malaysia menyumbang kepada kami Rp10Juta. Ada Rp50 juta, ” lapor Liang pada Pippa.

Liang Ruifang teman Pippa itu adalah penjual komputer di Jakarta. Dia menyampinhkan pekerjaannya yang sibuk dan membantu mengumpulkan donasi dari orang-orang Tionghoa.

Pada Pippa, Profesor Huang, Pusat Kerjasama Internasional Universitas Shoufu Taiwan menulis pesan: “Universitas kami bersedia mendukung 10 siswa dari daerah Palu untuk belajar gratis di Taiwan.”

Sekolah Tenda kini sudah berdiri. Pelajar-pelajar setempat kembali dapat belajar nyaman. Sekolah Mohammad Ceng Ho menjadi harapan di tengah bencana.

Untuk diketahui, Ceng Ho Cheng Ho adalah orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa pada 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam. Ia adalah salah seorang Laksamana ulung. Ia pernah memimpin ekspedisi hingga ke Kepulauan Nusantara di zaman kejayaan Majapahit dan Sriwijaya.***

Fleksibilitas Baru Dalam Pengelolaan Infrastruktur Dihadirkan Oleh Teknologi Berbasis Cloud
Efisiensi Operasional Meningkat Berkat Teknologi Analitik Modern Dengan Pemantauan Berkelanjutan
Fondasi Baru Untuk Efisiensi Operasional Terbentuk Dari Platform Digital Modern
Adaptasi Terhadap Perubahan Teknologi Dipercepat Melalui Integrasi Kecerdasan Buatan
Pengelolaan Sistem Lebih Efektif Didukung Oleh Teknologi Pemantauan Cerdas
Stabilitas Operasional Terjaga Berkat Teknologi Digital Terintegrasi Dengan Analisis Berkelanjutan
Tantangan Transformasi Digital Dihadapi Secara Efektif Melalui Infrastruktur Modern Berbasis Analitik
Kolaborasi Dan Efisiensi Operasional Diperkuat Oleh Integrasi Teknologi Berbasis Cloud
Akurasi Evaluasi Kinerja Sistem Meningkat Berkat Platform Monitoring Digital
Ketahanan Operasional Di Era Digital Meningkat Melalui Pemanfaatan Analisis Data
Optimalisasi Pola Mahjong Ways Dilakukan melalui Algoritma Probabilistik Cerdas
Dompet Digital Mengubah Kebiasaan Transaksi dalam Ekosistem Monopoly Live
Ancaman Siber Mendorong Industri Permainan Memperkuat Keamanan Infrastruktur Digital
Digitalisasi Administrasi Pangkas Waktu Verifikasi Pengguna Live Blackjack
Perilaku Pemain Modern Dikaji melalui Model Adaptasi Strategis
Media Sosial Memperkuat Hubungan Provider dengan Komunitas Penggemar Gates of Olympus
Mahjong Wins 3 Menunjukkan Pergeseran Tren Hiburan Berbasis Teknologi Modern
Analisis Distribusi Mengungkap Kendala Penayangan Crazy Time di Berbagai Wilayah
Pemetaan Digital Memperkuat Distribusi Server serta Manajemen Trafik Lightning Roulette
Peluang Baru Industri Mahjong Indonesia Muncul dari Pergeseran Perilaku Digital