Palu – Pada tanggal 19 Oktober 2008, untuk keempat kalinya Li Feng Pippa mengunjungi Sirenja, ia bertemu dengan tenda biru China yang indah itu. Tenda berukuran 12 x 10 kaki (3,7 x 3,2 m), memiliki satu pintu depan, lima jendela, dan memiliki tirao di pintu masuk utama dan jendela untuk mencegah nyamuk terbang ke tenda. Saat hujan turun, ada lapisan tirai tahan hujan yang bisa ditaruh, mirip seperti rumah baru.
Pada hari itu, Pippa menulis catatan pribadi: “Saya melihat senyum terkembang di wajah penduduk.”
Di program Microsoft Word di gawai androidnya, ia menulis: “Aku telah berdoa kepada Tuhan, kepada Allah, agar aku bisa mendapatkan seratus tenda untuk para penduduk desa. Hari ini aku mendengar Tuhan berkata kepadaku dengan tenang; Tuan, aku tahu. Aku dengar permintaanmu.”
Menurut dia, warna biru dan merah adalah dua warna yang paling disukai orang China. Ini juga dua warna yang biasa digunakan di porselen Cina yang terkenal. Ini sering disebut “China Blue” dan “China Red”. Biru adalah warna kedamaian. Ini adalah warna organisasi PBB yang paling banyak digunakan. Ia melukiskan: “Saya melihat cinta dan kedamaian di Tenda Biru itu.”
Dari tenda inilah, Pippa kemudian mendapat ilham. Berbekal referensi sejarah yang menautkan rakyat China dan Indonesia, Ia pun meninisiasi Sekolah Mohammad Ceng Ho.
Pada 23 Oktober, Pippa, kembali ke Palu untuk mempersiapkan sekolah tenda itu. Bekerja sama dengan yayasan kemanusiaan yang ada, ia pun mulai bergerak. Sekolah Tenda itu didirikan di lokasi Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Balaesang di mana tak ada bangunan yang layak untuk dijadikan tempat belajar.
“Saya setuju dengan nama Sekolah Mohammad Cheng Ho. Cheng Ho sangat terkenal di masyarakat Muslim Indonesia, ” kata Mohammad Ali, Ketua Nahdlatul Ulama Peduli, salah satu kelompok yang bekerja untuk bantuan kemanusiaan di Palu, Sulawesi Tengah.
“Nama Skolah Muhammad Cheng Ho sangat bagus,” sambung Dr. Tan Ta Sen, Ketua International Cheng Ho Society, Singapura, membalas Pippa melalui email.
Pengusaha China di Jakarta, Qiu Yu yang membantu dia menyiapkan tenda sekolah itu. Dibantu Qing Cai pula mereka mengidentitasi diri dengan nama Love from Tionghoa Volunteer.
Liang Ruifang, pengusaha China di Jakarta juga membantu penuh semangat.
“Seorang Dato dari Malaysia menyumbang kepada kami Rp10Juta. Ada Rp50 juta, ” lapor Liang pada Pippa.
Liang Ruifang teman Pippa itu adalah penjual komputer di Jakarta. Dia menyampinhkan pekerjaannya yang sibuk dan membantu mengumpulkan donasi dari orang-orang Tionghoa.
Pada Pippa, Profesor Huang, Pusat Kerjasama Internasional Universitas Shoufu Taiwan menulis pesan: “Universitas kami bersedia mendukung 10 siswa dari daerah Palu untuk belajar gratis di Taiwan.”
Sekolah Tenda kini sudah berdiri. Pelajar-pelajar setempat kembali dapat belajar nyaman. Sekolah Mohammad Ceng Ho menjadi harapan di tengah bencana.
Untuk diketahui, Ceng Ho Cheng Ho adalah orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa pada 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam. Ia adalah salah seorang Laksamana ulung. Ia pernah memimpin ekspedisi hingga ke Kepulauan Nusantara di zaman kejayaan Majapahit dan Sriwijaya.***






