AWALNYA hanya diutus ke Tomohon dari Jawa Timur untuk menjadi Kepala Asrama sebuah sekolah Kristen. Pandai melihat peluang usaha, kini Dewi Sundari (47 tahun) menjadi pemilik De’Harvest, sebuah produsen makanan ringan khas Sulawesi Utara yang beromzet puluhan juta Rupiah. Peserta Media Gathering BI Sulteng 2018 berkesempatan mengunjungi lokasi produksi De’Harvest, ini catatannya.
Laporan: Imam El Abrar, Tomohon
Dalam kegiatan Media Gathering Bank Indonesia 2018 yang diselenggarakan pada 22-24 November 2018 di Manado, para peserta yang terdiri dari sepuluh jurnalis asal Kota Palu, salah satunya dari harian Palu Ekspres, turut diajak menyambangi De’Harvest, salah satu unit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) binaan BI yang dinilai cukup berhasil di Tomohon.
Berlokasi di asrama sebuah sekolah Gereja dengan suasana pegunungan yang sejuk, sepuluh jurnalis asal Kota Palu yang diajak BI Sulteng mengikuti Media Gathering 2018 di Sulawesi Utara, disambut hangat oleh Dewi Sundari, perempuan ramah asal Jawa Timur yang sejak sebelas tahun lalu pindah ke Sulawesi Utara. Dewi merupakan salah seorang pelaku UMKM binaan BI yang masuk dalam program Wirausaha Bank Indonesia (WUBI), sebuah program inkubasi bisnis dari BI yang bertujuan mendorong pengembangan UMKM di Indonesia.
Saat ini, De’Harvest yang digagas Dewi memproduksi berbagai macam produk makanan ringan, seperti kripik pisang goroho aneka rasa, aneka olahan kacang seperti kacang rica-rica, kacang sangrai, kripik ubi ungu, stik sayur, termasuk produk olahan ikan seperti abon, sambal, dan sebagainya.
Dewi bercerita, awalnya ia diutus ke Provinsi paling Utara di Sulawesi tersebut sebagai seorang kepala asrama. Bersama para siswa penghuni asrama yang dibinanya, Dewi lalu terinspirasi membuat sebuah usaha kecil-kecilan sebagai penambah penghasilan, serta membantu biaya pulang kampong para siswa.
“Mereka kan banyak yang membutuhkan ongkos untuk pulang, saya ajak mari kita buat kue-kue yang di akhir pekan bisa dijual di Gereja dan sebagainya,” kata Dewi.
Sejak tahun 2016 unit usaha Dewi kemudian masuk dalam program WUBI. Melalui program tersebut, Dewi mengaku dirinya sangat terbantu dengan edukasi yang diberikan oleh BI, di antaranya tentang bagaimana kiat-kiat mengembangkan usaha serta memudahkan langkah-langkah pengembangan usaha.
“BI terus memberi pelatihan-pelatihan yang mengubah mindset kami, salah satunya kami jadi lebih mengetahui bagaimana strategi penjualan,” ujarnya.

Melalui pengembangan tersebut, De’Harvest kini telah banyak menerima sertifikat penghargaan. Dewi dengan bangga menunjukkan jejeran sertifikat penghargaan yang ditempelkan di dinding dapur usahanya.
“Termasuk yang terbaru saya difasilitasi untuk mengurus sertiifikat halal,” imbuh Dewi.
Dari segi penghasilan, Dewi mengungkapkan sebelum dibina oleh BI unit usahanya tergolong berpenghasilan kecil, yakni beromzet ratusan ribu rupiah. Setelah melakukan berbagai pengembangan usaha dan pemasaran, kini omzet De’Harvest sebagaimana disebutkan Dewi sebesar Rp50-60 juta per bulan.
“Omzet dulu dalam sepekan jualan laku Rp200 ribu sudah syukur, sekarang setelah edukasi panjang dan mengubah mindset saya, akhirnya bisa berkembang dan bahkan sudah bisa mengupah pekerja,” ungkapnya.
Perkembangan Provinsi Sulawesi Utara yang saat ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan, diakui Dewi turut menjadikan pasaran produknya menjadi lebih terbuka luas. Hal ini dimanfaatkannya dengan terus melakukan inovasi terhadap berbagai produk olahannya, agar selalu menjadi pilihan para wisatawan.
Selain melakukan strategi pemasaran melalui penitipan di berbagai toko dan gerai swalayan di Manado dan sekitarnya, produk-produk De’Harvest juga dipasarkan melalui platform daring. Dengan pemanfaatan teknologi informasi, menjadikan produk-produk makanan ringan berbahan baku khas Sulawesi Utara tersebut tidak hanya dapat dibeli di Manado dan sekitarnya saja.
“Pembelinya ada yang dari Surabaya dan Papua,” imbuhnya lagi.
Kini, Dewi yang masih aktif di WUBI turut menularkan semangat yang diusung oleh BI melalui program tersebut. Ia beberapa kali turut memberikan edukasi kepada para pelaku usaha industri rumahan, sebagaimana edukasi yang diterimanya dulu sebagai bekal mengembangkan usaha.
“Saya mengedukasi ibu-ibu nelayan dan petani memberi pelatihan seperti yang saya jalani. Sekarang misinya sudah ke sana, untuk menularkan pengembangan usaha dengan memberi edukasi ke orang lain,” tandasnya. (***)






