PALU EKSPRES, PALU– Keberadaan industri kecil dan mikro sudah hampir merata di setiap desa/kelurahan di Sulawesi Tengah. Sesuai hasil pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 yang dirilis dirilis BPS Sulteng, Senin (17/12/2018), dari 2.020 wilayah setingkat desa/kelurahan dan unit permukiman transmigrasi (UPT) se Sulteng, pada umumnya setiap desa sudah memiliki industri mikro dan kecil (memiliki tenaga kerja kurang dari 20 orang).
“Untuk industri mikro dan kecil ini, BPS mengklaisifikasikannya ke dalam tiga kategori, yakni industri kayu, industri makanan dan minuman serta industri anyaman,” kata Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulteng Wahyu Yulianto, SSi, MSi, Senin (17/12/2018) di kantor BPS Sulteng.
Wahyu merincikan, dari 2.020 wilayah setingkat desa se Sulteng, sebanyak 1.033 desa/kelurahan ada industri kayu atau 51 persen. Sementara sebanyak 793 desa/kelurahan ada industri makanan dan minuman atau 39 persen dari total jumlah desa/kelurahan yang ada. Adapun industri anyaman, tercatat ada di 442 desa/kelurahan atau 22 persen.
Sementara itu lanjutnya, terdapat 366 desa/kelurahan yang memiliki produk unggulan pada tahun 2018. Produk unggulan ini ada dua macam, yaitu produk makanan dan produk non-makanan. Ada sebanyak 238 desa/kelurahan yang hanya memiliki produk unggulan makanan, sementara ada 70 desa/kelurahan yang hanya memiliki produk unggulan non-makanan.
Akan tetapi kata Wahyu, tidak menutup kemungkinan desa/kelurahan memiliki 2 macam produk unggulan tersebut. Seperti yang terjadi pada 58 desa/kelurahan.
“Lebih jauh lagi, ternyata ada 22 desa/kelurahan memiliki produk unggulan yang diekspor ke luar negeri,” ungkapnya. Menariknya kata Wahyu, keberadaan minimarket di desa/kelurahan di Sulteng terjadi peningkatan cukup pesat, yakni 16 persen dibanding tahun 2014 silam. Angka pastinya, jumlah minimarket di desa/kelurahan se Sulteng pada 2014 sebanyak 80 unit, sedangkan pada 2018 terdapat 93 unit.
(fit/palu ekspres)






