PALU EKSPRES, PALU– Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) juga memuat capaian program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK). Hasil SDKI terakhir dilakukan secara nasional untuk tahun 2017.
Didalam hasil SDKI tahun 2017 pun memuat lebih rinci capaian program KKBPK untuk Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Sebagai pelaksana program KKBPK untuk wilayah Sulteng, BKKBN Perwakilan Sulteng beserta mitra menggelar khusus sosialisasi hasil SDKI tahun 2017 yang dilakukan bersama mitra kerja, Rabu 6 Maret 2019 di kantor BKKBN Sulteng.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BKKBN Perwakilan Sulteng, Tenny C Soriton menyatakan, pihaknya beserta mitra kerja yang terlibat dalam pelaksanaan program KKBKP perlu menyikapi hasil SDKI tahun 2017 untuk wilayah Sulteng.
Sehingga kata dia, peningkatan pelaksanaan program KKBPK dimasa mendatang bisa lebih optimal. Karena program KKBPK merupakan amanat Undang-undang nomor 52 tahun 2009.
Dalam ketentuan ini sebut Tenny, ditegaskan bahwa pembangunan kependudukan dititik beratkan pada penduduk sebagai pelaku dan penikmat pembangunan. Selain itu juga diarahkan untuk mewujudkan pembangunan berwawasan kependudukan secara berkelanjutan.
“BKKBN dan mitra kerja saling mendukung untuk melaksanakan program KKBPK. Tetapi bukan semata untuk mengendalikan jumlah penduduk. Melainkan juga untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia,”kata Tenny, membuka kegiatan sosialisasi hasil SDKI tersebut.
Dalam melaksanakan program KKBPK, BKKBN menurutnya elah menetapkan lima sasaran strategis yang ditinggal dalam rencana strategis (Renstra) BKKBN Sulteng tahun 2015-2019
Sasaran itu antara lain, mengenai angka kelahiran atau total fertility rate (TFR) yang awalnya di target 2,8 per perempuan usia reproduktif 15-49 tahun, menjadi 2,7 pada tahun 2019.
“Dalam hal ini Sulteng sudah memenuhi,”jelasnya.
Selanjutnya kebutuhan KB yang tidak terlayani (ummet need). Tenny menyebut, untuk Sulteng telah menurun dari 11,4 persen menjadi 9,4persen pada tahun 2019.
Sedangkan angka prevalensi kontrasepsi (CPR) semua cara untuk perempuan usia 15-19 tahun terjadi peningkatan. Yaitu dari 59 persen meningkat jadi 65,4persen pada tahun 2019.
Tenny dalam kesempatan itu berharap kegiatan sosialisasi dan diskusi hasil SDKI mampu melahirkan kajian kajian strategis dalam mendongkrak peningkatan progam KKBPK untuk setiap jenis kegiatannya.
“Ini kegiatan strategis dalam upaya pencapaian target Renstra program KKBPK,”ujarnya.
Kedepan Tenny berharap, pembangunan program KKBPK berjalan lebih optimal. Serta terus memperkuat kemitraan dengan berbagai institusi.
“Sehingga ada rekomendasi dari pakar untuk meningkatkan target capaian yang kita harapkan secara kualitas dan kuantitas,”demikian Tenny.
(mdi/palu ekspres)






