PANTAU CUACA – Prakirawan Cuaca BMKG Mutiara Sis Aljufei Palu, Ambinari Rachmi Putri menjelaskan prakiraan cuaca di kantor BMKG, Minggu 16 Juni 2019. Foto: HAMDI ANWAR/PE
PALU EKSPRES, PALU– Hujan yang mengguyur Kota Palu pada Jumat hingga Sabtu 15 Juni 2019 dipicu adanya gangguan cuaca berupa sirkulasi tertutup yang terjadi di atmosfir. Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) menyebutnya ‘Eddy’.
Fenomena Eddy terjadi lantaran adanya pergerakan udara dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.
Prakiraan BMKG Mutiara Sis Aljufri Palu, Ambinari Rachmi Putri menjelaskan, fenomena Eddy yang terpantau bergerak di atas wilayah Sulteng terjadi pada 15 Juni 2019. Menurutnya ketika Eddy terjadi, maka akan mempengaruhi angin diatas daerah yang dilaluinya. Dimana angin akan melambat dan menyebabkan penumpukan dan pertumbuhan awan.
“Ketika Eddy atau sirkulasi tertutup, biasanya daerah sekitarnya akan mengalami gangguan cuaca. Misalnya cuaca yang dalam keadaan cerah bisa tiba-tiba hujan,”jelas Ambinari, Minggu 16 Juni 2019.
Untuk kasus hujan di Sulteng, angin bergerak ke tekanan rendah menuju pulau Kalimantan. Hal ini menyebabkan hampir seluruh wilayah Sulteng mengalami hujan. Ditambah lagi saat melambatnya pergerakan angin, juga terjadi kelembapan udara.
Berdasarkan analisis kelembapan lapisan udara diatas Sulteng tersebut samgat mendukung untuk terbentuknya awan hujan. Sehingga bisa dikatakan, hujan yang terjadi disebabkan eddy dan kelembapan udara.
“Di atas pulau Sulawesi angin terpantau tiba tiba melambat. Ini memicu awan bertumbuh ke atas menyebabkan hujan seharian,”paparnya.
Meski cendrung membaik namun potensi hujan dengan intensitas sedang sampai lebat diperkirakan masih akan terjadi untuk dua atau tiga hari mendatang.
Ambinari menambahkan, potensi hujan sehari atau dua hari kedepan dipicu gejala Madden Julian Oscillation (MJO) yang bergerak di sebelah barat pulau Sulawesi.
“Untuk MJO ini masih berpotensi sampai beberapa hari kedepan. Sedang potensi dalam hitungan seminggu kedepan masih akan terus kami pantau,”katanya.
Madden Jullian oscillation (MJO) adalah siklus pergerakan Massa udara Dari barat ke Timur Di sepanjang ekuator.
MJO sendiri lanjut dia merupakan siklus. Ada kalanya MJO akan melewati wilayah Indonesia pada periode-periode tertentu. Pada saat MJO melewati wilayah yang memiliki kadar kelembaban udara tinggi, akan terbentuk potensi hujan di wilayah tersebut.
Berdasarkan prakiraan Bureau of Meteorology (BOM), sebuah instansi di Australia yang memantau pergerakan MJO masih akan terjadi selama dua hari ke depan karena MJO masih berada di wilayah Indonesia.
“Memerhatikan potensi kadar kelembaban udara di Sulteng dan adanya MJO serta historis curah hujan yang meningkat di Bulan Juni (pada tahun lalu). Maka hujan masih berpotensi terjadi di Sulteng pada sore hingga dini hari pada dua hari ke depan,”demikian Ambinari.(mdi/palu ekspres)






